Mahasiswa.co.id - Program Makanan bergizi gratis merupakan program yang diadakan pemerintah dibawah Kepeminmpinan Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi secara gratis untuk para siswa yang ada di Indonesia. Program ini dirancang dengan tujuan jangka panjang untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas dan produktif untuk menciptakan generasi emas 2045. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memutus rantai gizi buruk dan stunting yang selama ini menjadi penghambat kemajuan bangsa. Program ini bukan hanya sekedar bagi-bagi makanan, namun juga janji pemerintah untuk memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia yang ada di Indonesia. Dalam hal ini, keadilan nutrisi harus tersampaikan melalui piring-piring yang diberikan kepada setiap anak untuk mewujudkan tujuan program yang dilakukan. Keberhasilan program ini tidak boleh hanya diukur dari angka statistic pengeluaran anggaran atau masifnya penyaluran porsi makan di sekolah perkotaan. Tantangan sesungguhnya bagi Sila Kelima tertelah pada kualitas dan gizi yang diterima seluruh anak, mulai dari perkotaan hingga pelosok daerah. Jika kualitas nutrisi yang diberikan nutrisi yang diberikan masih tidak adil dan merata, maka MBG beresiko menjadi proyek seremonial belaka. Tulisan ini akan menakar apakah piring-piring MBG telah benar-benar menjadi jembatan keadilan yang memutus rantai stunting, atau justru sekedar etalase politik yang abai terhadap Kesehatan anak Indonesia.
Dilema kualitas vs. kuantitas
Persoalan yang mendasar bagi MBG adalah ‘asal kenyang’ . dalam perspektif sila kedua pancasila : kemanusiaan yang adil dan beradab, memberikan makanan kepada naka bangsa Adalah suatu wujud kehormatan terhadap martabat manusia. Namun dalam perwujudannya, martabat itu akan luntur jika menu yang disajikan hanya sebuah menu yang berisi karbohidrat dengan tujuan ‘asalkan anak kenyang’. Padahal, dalam system kerjanya, mbg ini harus mencukupi nilai gizi yang terserap di dalam tubuh anak sehingga harus berjalan dengan benar agar tidak menciptakan resiko generasi kenyang secara fisik namun lapar secara nutrisi.
Dalam program kerja MBG saat ini, banyak sekali kasus menu utama yang disajikan tidak sesuai dengan gizi anak Indonesia. Dimana berita ini ramai diperbincangkan di media sosial tentang menu MBG yang tidak sesuai dengan standar gizi yang diberikan. Bahkan, banyak anak yang mengalami keracunan makanan akibat kurangnya pemahaman pengolahan makanan oleh staf dapur. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pengawassan yang ketat agar kasus ini tidak terulang kembali. Jika hal ini sering terjadi maka MBG gagal menjadi instrument keadilan dan hanya menjadi beban fifikal tanpa dampak Kesehatan jangka Panjang.
Ujian Sila Kelima : Ketimpangan Gizi Di Wilayah Perbatasan.
Tantangan logistic di negara kepulauan seringkali membuat harga protein di Jawa jauh lebih murah disbanding wilayah 3T(Terdepan, Terluat, Tertinggal). Jika anggaran per porsi dipukul sama rata secara nasional, maka kualitas makan anak di daerah 3T akan jauh berbeda dengan anak yang ada di daerah kota. Hal ini terjadi karena setiapa daerah memiliki disparitas harga pangan lokal. Dengan demikian, yang harus dilakukan maka memastikan bahwa nutrisi satu butir telur di meja makan anak di perbatasan, harus sama persis dengan nutrisi anak yang ada di perkotaan. Keadilan sosial disini bukan berarti harus sama persis di setiap menunya. Namun juga bisa disetarakan oleh bahan pangan lokal yang memiliki nutrisi yang sama di setiap wilayahnya, bukan sama dalam patokan harga per piringnya, karena sepuluhribu rupiah di daerah perkotaan berbeda bobotnya dengan sepluh ribu rupiah di daerah pelosok perbatasan.

Komentar 0