Mahasiswa.co.id - Menjadi perempuan muda di zaman sekarang adalah tantangan besar. Ada tekanan dari berbagai arah. Mulai dari media sosial yang selalu menampilkan standar hidup sempurna, ekspektasi keluarga yang meminta kita jadi "anak berbakti, atau “anak yang sukses”" hingga standar kecantikan yang sering kali mustahil dicapai. Dunia seakan memaksa kita untuk selalu tampil sempurna, sukses, dan bahagia. Tidak heran jika banyak perempuan muda merasa kewalahan. Di sinilah paham stoikisme, sebuah filosofi kuno, dapat membantu. Paham Stoikisme mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan menerima dengan tenang apa yang berada di luar kendali kita. Filosofi ini mungkin sudah berusia ribuan tahun, tetapi prinsipnya tetap relevan, terutama untuk perempuan muda yang ingin hidup lebih damai di tengah hiruk-pikuk era digital.

Drama-Free Zone: Rahasia Stoikisme

Perasaan merasa “tidak cukup” adalah sesuatu yang akrab bagi banyak perempuan muda. Kita sering membandingkan diri dengan artis/selebriti yang terlihat cantik tanpa cela, teman yang tampak selalu bahagia, atau bahkan influencer yang menjalani "hidup impian." Media sosial memperburuk situasi ini dengan memberi ilusi bahwa hidup orang lain selalu lebih baik dari kita. Stoikisme mengingatkan bahwa ada hal yang bisa kita kendalikan dan ada hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sebagai contoh, kita tidak bisa mengontrol komentar orang lain tentang foto kita di media sosial, tetapi kita bisa mengontrol bagaimana kita bereaksi terhadapnya. Misalnya, saat menghadapi cuaca buruk, alih-alih mengeluh, kita bisa menerima keadaan tersebut dan fokus pada apa yang bisa dilakukan, seperti membawa payung atau memakai jas hujan. Filosofi ini mengingatkan bahwa banyak dari kita terjebak dalam drama karena kita mencoba mengendalikan hal-hal yang sebenarnya di luar kendali kita. Sebagai perempuan muda, kita sering menghadapi situasi yang sulit seperti hubungan asmara yang kandas, kegagalan dalam karier, atau bahkan komentar negatif tentang penampilan kita. Semua ini bisa terasa menghancurkan jika kita terlalu larut dalam emosi. Stoikisme mengajarkan bahwa hidup memang penuh dengan rintangan, dan itu adalah hal yang normal. Misalnya, ketika hubungan asmara berakhir, stoikisme membantu kita untuk tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri atau pasangan. Sebaliknya, kita bisa melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar tentang diri sendiri dan hubungan yang lebih sehat di masa depan. Di tengah dunia yang penuh distraksi, perempuan sering kali merasa harus bisa mengerjakan semuanya sekaligus seperti menjadi karyawan yang hebat, anak yang berbakti, teman yang selalu ada, sekaligus terlihat cantik tanpa cela. Tekanan ini sering membuat kita merasa kewalahan dan kehilangan arah. Stoikisme mengajarkan bahwa kita tidak harus menyenangkan semua orang. Ketika keluarga atau teman meminta kita untuk hadir di suatu acara, tetapi kita sedang lelah, kita bisa berkata “tidak” tanpa rasa bersalah. Filosofi ini membantu kita memilah apa yang benar-benar penting dan melepaskan hal-hal yang tidak perlu. Stoikisme memberikan perempuan muda alat untuk menghadapi hidup dengan lebih tegar dan tenang. Filosofi ini mengajarkan kita untuk berhenti mengejar kesempurnaan dan mulai menerima hidup apa adanya, sambil tetap berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Di tengah dunia yang penuh drama dan tekanan, stoikisme adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari luar, melainkan dari cara kita memandang dan menjalani hidup. Oleh : Faradhita Adelia Dewanti Mahasiswa Aktif Ilmu Komunikasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Memiliki minat besar dalam membaca, menonton film, dan menggali wawasan baru dari berbagai pengalaman. Berpengalaman dalam komunitas televisi kampus, dengan fokus pada penulisan, pengembangan konsep, dan riset. Saya senang belajar dari hal-hal baru yang mendukung pengembangan diri dan keterampilan saya.