Mahasiswa.co.id - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat deforestasi di Indonesia pada periode 2021-2022 sebanyak 104 ribu hektare. Dilansir dari asesmen WRI dan University of Maryland, Indonesia menempati peringkat 4 tingkat deforestasi global. Sementara itu, menurut data CEOWORLD, Indonesia menjadi peringkat 1 negara paling religius. "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?” (Yakobus 2:14-17)
Hutan merupakan paru-paru dunia, artinya hutan menjadi sumber kehidupan dan keanekaragaman hayati. Hutan adalah anugerah terbesar dari Tuhan. “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15). Tuhan menghendaki umat-Nya untuk memelihara bumi dengan penuh citanya. Amanah ini tidak hanya berlaku pada zaman dahulu, tetapi juga pada masa kini, di mana kita dipanggil untuk memelihara bumi dengan penuh kasih sebagai wujud ketaatan kepada-Nya.
Dalam Kitab Suci, Allah memercayakan bumi kepada manusia untuk dipelihara dan dijaga (Kejadian 2:15). Hutan adalah salah satu bagian penting dari ciptaan-Nya yang harus kita rawat. Kerusakan hutan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membawa penderitaan bagi manusia, khususnya masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil hutan. Hutan kita semakin hari semakin rusak. Penebangan liar, pembakaran hutan, dan alih fungsi lahan telah menyebabkan bencana lingkungan yang mengancam kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya.
Ketika hutan rusak, banjir melanda, udara menjadi kotor, dan keanekaragaman hayati musnah. Ini adalah tanda bahwa kita telah gagal menjaga amanah Tuhan. Namun, masih ada harapan jika kita mau bertindak bersama.
Ensiklik “Laudato Si” yang dikeluarkan Paus Fransiskus membicarakan bumi sebagai rumah bersama. Ensiklik tersebut menyoroti krisis lingkungan hidup yang sedang dihadapi oleh manusia secara ekologis dan antropologis. Menurut Paus Fransiskus, solusi dari krisis lingkungan dimulai dari perubahan perbuatan manusia yang secara garis besar merupakan dampak dari globalisasi. Kita diajak untuk mengurangi perilaku konsumtif, menghentikan eksploitasi sumber daya alam, dan memperjuangkan hak-hak orang miskin.
Sebagai umat Katolik, kita dapat meneladani Santa Kateri Tekakwitha, seorang santo pelindung ekologi dan lingkungan hidup. Santa Kateri dikenal karena kedekatannya dengan alam serta cintanya kepada Sang Pencipta. Dalam kehidupannya yang sederhana, ia melihat alam sebagai cerminan keindahan Allah dan selalu memperlakukannya dengan penuh hormat. Bagi Santa Kateri, merawat alam bukan hanya kewajiban, tetapi juga cara untuk memuliakan Tuhan. Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat dilakukan kita untuk meneladani Santa Kateri Tekakwitha:
1. Menanam Pohon dan Menghijaukan Lingkungan
Kita dapat memulai dengan menanam pohon di sekitar rumah, sekolah, atau komunitas. Ini adalah tindakan sederhana namun berdampak besar dalam menjaga keseimbangan alam.

Komentar 0