Menteri Keuangan Menyulut Huru-Hara: Founder Malaka Project Nyalakan Obor Beasiswa
Oleh Redaksi
Foto Ruang Kelas (sumber: pixabay)
Oleh: Lainuvar
Mahasiswa.co.id - Pendidikan di Indonesia selalu menjadi sorotan penting, mengingat persoalan didalamnya yang tak kunjung usai. Permasalahan pendidikan selalu tidak jauh dari isu mengenai gaji yang didapatkan seorang pendidik, bahkan hingga menjadi sorotan warga luar Indonesia. Baru-baru ini, masyarakat Indonesia digemparkan dengan pernyataan Sri Mulyani tentang Gaji guru dan dosen dalam pidatonya di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dirasa sangat tidak pantas untuk diucapkan oleh seorang Menteri Keuangan. Menariknya, pernyataan tersebut menunjukkan kontras yang tajam dengan tindakan nyata yang dilakukan oleh Founder Malaka Project sebagai bagian dari. Ferry Irwandi justru memberikan dukungan penuh terhadap pendidikan di Indonesia dengan memberikan beasiswa berskala besar. Tentu, ini menjadi sebuah peristiwa yang sangat miris, mengingat mereka yang duduk di kursi pemerintahan justru terlihat acuh terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakatnya.
Menkeu Tentang Kesejahteraan Pendidikan Pidato Sri Mulyani di ITB dengan menyentuh pembahasan tentang gaji guru dan dosen di Indonesia yang masih tergolong rendah sehingga menimbulkan opini bahwa profesi guru maupun dosen tidak dihargai oleh negara, Sri Mulyani mengamati bahwa fenomena ini menjadi salah satu tantangan besar bagi keuangan negara. Akan tetapi, yang menjadi polemik disini adalah ketika bendahara negara tersebut dalam menyelesaikan persoalan gaji guru dan dosen yang tergolong rendah, justru mengembalikannya kepada masyarakat dengan pernyataannya yang kontroversial “Apakah semuanya harus dari keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat?.” Sri Mulyani berpendapat bahwa jika hanya mengandalkan APBN, maka kesejahteraan guru dan dosen dikhawatirkan tidak dapat diselesaikan.
Pernyataan Sri Mulyani tersebut pada akhirnya menyulut komentar negatif dari berbagai kalangan masyarakat, influencer pendidikan Jerome Polin dalam postingan Instagramnya menyebut bahwa Indonesia Emas bermula dari kualitas pendidikan. Sedangkan, kualitas pendidikan di Indonesia dimulai dari kesejahteraan pendidiknya. Jerome Polin melanjutkan bahwa enggannya masyarakat berprofesi sebagai pendidik tidak lain dan tidak bukan karena minimnya gaji yang didapatkan seorang pendidik. Jerome Polin menanggapi statement Sri Mulyani, berargumen bahwa perihal gaji guru dan dosen yang diambil sekitar 20% dari APBN kiranya masih kurang, maka yang seharusnya dilakukan adalah dengan menambah anggaran dari APBN dengan memotong anggaran lain yang kurang berdampak pada masyarakat.
Founder Malaka Project Peduli Akal Sehat Malaka Project adalah sebuah program yang bertujuan untuk membentuk masyarakat agar lebih cerdas dan kritis, dimulai dengan agenda tour ke berbagai kampus dengan misi menyebarkan edukasi dan membangun pemikiran kritis di kalangan mahasiswa. Founder Malaka Project, Ferry Irwandi mengadakan beasiswa revolusi untuk mahasiswa dengan anggaran dari penjualan kaos miliknya. Dalam akun TikToknya, ia mengajak seluruh mahasiswa untuk mengikuti beasiswa revolusi bersyarat membuat konten tentang sistem perguruan tinggi di Indonesia dengan isi konten kritik, solusi, identifikasi masalah dan memberikan bentuk idealnya, atau tentang hal yang terasa ganjal dan perlu diperbaiki. Konten dibuat tanpa ada durasi waktu dan dapat diunggah di TikTok, Instagram, maupun Youtube kemudian mention #irwandiferry, #malakaproject.id sekaligus sertakan hashtag #Beasiswa Revolusi dan #Malaka.
Ferry Irwandi adalah salah satu penggiat dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Melalui konten-kontennya, Ferry membagikan pengalaman berdasarkan latar belakang pendidikannya kepada khalayak ramai. Dimana ia viral melalui konten pembahasannya tentang filsafat utamanya socrates, kontennya juga terdapat bumbu kritik terhadap pemerintahan di Indonesia khususnya perihal pendidikan yang makin morat-marit. Ferry baru-baru ini juga menegaskan mengenai akal sehat di Indonesia dimana semua itu dimulai dari pendidikan, ia mengambil contoh kasus Tom Lembong dimana akal sehat yang paling sakit pun tidak dapat menerimanya. Ferry juga mengajak secara terbuka perdebatan mengenai filsafat kepada mahasiswa diseluruh indonesia secara online.
Navigasi Persimpangan Menteri keuangan dan Founder Malaka Project terlihat sangat berbeda dalam mengambil sikap perihal solusi keterpurukan pendidikan di Indonesiia. Bendahara negara tersebut nampak bersikap seolah menitikberatkan pemecahan masalah pada pundak rakyat, dimana ia seperti mempertanyakan apakah gaji guru dan dosen semuanya dari APBN dan tidak sama sekali dari partisipasi publik. Disini yang justru rancu adalah bahwa pada dasarnya sumber utama APBN yakni dari pajak, PNBP, dan hibah. Oleh sebab itu, pernyataan Sri Mulyani sangat tidak bisa diterima oleh masyarakat luas, tentu sebagai masyarakat kita akan mempertanyakan kemana uang pajak tersebut?, terlebih isu tindakan korupsi semakin berserakan, bahkan seperti kasus yang telah terbiasa sehari-hari terdengar oleh masyarakat dengan nominal uang yang fantastis.
Hemat penulis, Menteri Keuangan tidak sepenuhnya keliru pun masyarakat Indonesia. Sri Mulyani sudah seharusnya dan justru tepat membidik bagaimana carut marutnya Indonesia perihal gaji seorang pendidik dalam pidatonya, itu pertanda bahwa individu di pemerintahan masih dapat mendengar dan melihat situasi dan kondisi masyarakatnya. Akan tetapi, yang harus diluruskan disini adalah perkataan dari Sri Mulyani itu sendiri seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Apakah ada kemungkinan penyaluran dana untuk pendidikan tidak sampai sebagian atau bahkan tidak tersalurkan seluruhnya, sehingga kesejahteraan individu dalam pendidikan tidak terjamin. Perlu adanya sinergitas dalam sistem pemerintahan dengan selalu menekankan asas kejujuran dan keterbukaan, dengan demikian tidak ada kesalahpahaman dan meminimalisir adanya persoalan yang tidak terselesaikan.
Disamping itu, Ferry Irwandi dalam hal ini sangat berperan dalam sistem pendidikan di Indonesia dimana ia memberikan beasiswa revolusi dengan syarat yang mengesankan yakni kritik, analisis, dan identifikasi masalah terhadap sistem pendidikan di Indonesia, sehingga mahasiswa dapat berlatih berpikir kritis dan mempertanyakan sistem pendidika yang telah lama digunakan. Mereka bahkan boleh mengangkat isu yang masih hangat di kampus mereka. Oleh sebab itu, Ferry Irwandi selaku Founder Malaka Project yang memang telah lama terjun dalam dunia pendidikan utamanya filsafat tentu membantu mengawal proses berpikir generasi muda demi kemajuan bangsa. Disaat berita korupsi dana pendidikan di berbagai sekolah, dana beasiswa, fasilitas sekolah dan lain sebagainya semakin menyeruak bau bangkainya, Malaka Project tetap berdiri tegak dan semakin gencar memajukan sistem pendidikan di Indonesia dengan pogram briliantnya.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0