Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Siswa Melalui Pendekatan Pembelajaran IPS Dalam Menghadapi Pengaruh Globalisasi

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Siswa Melalui Pendekatan Pembelajaran IPS Dalam Menghadapi Pengaruh Globalisasi

Oleh: VIRA REZA

Mahasiswi Jurusan Tadris IPS, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN SIBER SYEKH NURJATI CIREBON
Email : virareza87@gmail.com

Globalisasi membawa pengaruh yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, salah satunya dalam bidang pendidikan. Pada era digital saat ini, siswa semakin mudah terpapar berbagai informasi, dan budaya asing melalui internet. Sekitar 65% siswa sekolah menengah lebih memilih menggunakan produk luar negeri dan mengadopsi gaya hidup kebarat-baratan dibandingkan dengan mengapresiasi produk dan budaya dalam negeri (Sutarno, 2021). Hal ini sejalan dengan pendapat Wahyudi (2020) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat telah menciptakan dunia tanpa batas, di mana informasi dan budaya asing dapat dengan mudah masuk dan mempengaruhi pola pikir siswa (Wahyudi, 2020). Fenomena Hal ini dapat melemahkan rasa nasionalisme jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter sehingga siswa dapat kehilangan jati diri dan identitas sebagai bangsa Indonesia. Nasionalisme merupakan suatu sikap cinta tanah air dan bangsa yang tercermin dalam tindakan nyata untuk mempersatukan bangsa, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta menjadi benteng terhadap pengaruh negatif dari luar.

Salah satu mata pelajaran yang memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pembelajaran IPS memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan rasa nasionalisme siswa, sebab pembelajaran IPS tidak hanya bertujuan untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila, dan UUD 1945 (Kartodirdjo, 2019). Adanya transformasi dalam pembelajaran IPS sebagai sarana penguatan nasionalisme tidak terlepas dari peran guru sebagai fasilitator dan motivator. Kompetensi guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai nasionalisme dengan materi pembelajaran menjadi kunci keberhasilan pembentukan karakter siswa yang nasionalis di era global (Yunus, 2022). Pendekatan pembelajaran IPS yang adaptif yang telah di rancang seperti pendekatan berbasis pada masalah (problem based learning), proyek (project based learning), dan inkuiri (inquiry based learning) perlu di terapkan, dan di biasakan dalam proses pembelajaran.

Namun, realitas dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa pembelajaran IPS masih bersifat konvensional dan kurang mengoptimalkan potensinya dalam menumbuhkan rasa nasionalisme. Sebanyak 70% guru IPS masih menggunakan metode ceramah dan penugasan yang monoton, sehingga kurang menginternalisasikan nilai-nilai nasionalisme secara efektif kepada siswa (Widodo, 2022). Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut, untuk itu pentingnya pembelajaran IPS bagi siswa agar mampu menjawab tantangan globalisasi sekaligus memperkuat identitas nasional siswa (Tilaar, 2023). Oleh karena itu, siswa perlu mengenal konsep Nasionalisme, dan Globalisasi agar memberikan pemahaman yang menyeluruh, dan dapat memilah sikap yang hendak dilakukan. Serta sebagai guru dapat mendorong upaya yang efektif untuk menumbuhkan rasa nasionalisme pada siswa melalui pembelajaran IPS dalam menghadapi pengaruh arus globalisasi yang akan di bahas dalam materi ini.

A. Konsep Nasionalisme dan Globalisasi
Kata nasionalisme berasal dari kata Latin natio yang berarti kelahiran, dan kemudian berkembang menjadi kata nation dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda yang berarti bangsa. Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang mencakup semangat dan kesadaran cinta tanah air, rasa solidaritas terhadap sesama bangsa dan negara. Nasionalisme diartikan sebagai ideologi yang mencakup prinsip kebebasan, kesatuan, kesamarataan, dan kepribadian. Tujuan nasionalisme yaitu ; (1) untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan negara, (2) memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, (3) meningkatkan kesejahteraan rakyat secara merata. Nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Nasionalisme menjadi fondasi penting dalam membangun karakter bangsa dan memperkuat persatuan nasional (Widiatmaka, 2016). Sejarah lahirnya konsep Nasionalisme di Indonesia bermula dari semangat kebangsaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, terutama pada masa penjajahan Belanda. Munculnya kesadaran akan identitas bersama sebagai bangsa Indonesia ditandai dengan berbagai peristiwa penting, seperti berdirinya Budi Utomo pada 1908 yang menjadi tonggak awal pergerakan nasional. Sumpah Pemuda 1928 menjadi puncaknya, telah menyatukan cita-cita memerdekakan bangsa. Semangat juang ini berkobar hingga akhirnya Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Adapun beberapa organisasi yang menjadi tonggak penting dalam pergerakan nasionalisme Indonesia yaitu :

1. Budi Utomo (1908) : Organisasi ini sebagai tonggak awal pergerakan nasional. Didirikan oleh para pelajar STOVIA, Budi Utomo bertujuan untuk memajukan pendidikan dan kebudayaan bangsa Indonesia. Awalnya berfokus pada perbaikan nasib kaum priyayi, Budi Utomo membuka jalan bagi munculnya organisasi-organisasi lain yang lebih radikal.

2. Sarekat Islam (1912) : Organisasi ini awalnya berfokus pada kepentingan kaum pedagang, Sarekat Islam kemudian berkembang menjadi organisasi massa yang besar dan memiliki pengaruh politik yang kuat. Organisasi ini menyuarakan kepentingan rakyat jelata dan menjadi kekuatan penentang kolonialisme.

3. Perhimpunan Indonesia (1908) : Organisasi ini didirikan oleh para pelajar Indonesia yang belajar di Belanda. Perhimpunan Indonesia memiliki pandangan yang lebih radikal dan menyerukan kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini juga berperan penting dalam menyebarkan ide-ide nasionalisme ke kalangan pemuda Indonesia.

4. Partai Nasional Indonesia (1927) : Organisasi ini di pelopori oleh Ir. Soekarno, PNI merupakan partai politik yang secara tegas menuntut kemerdekaan Indonesia. PNI menjadi pusat gerakan nasionalisme yang radikal dan seringkali berbenturan dengan pemerintah kolonial.

Globalisasi merupakan serapan dari kata globalization. Secara bahasa, global berarti mendunia, sedangkan ization merujuk kepada suatu proses. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), globalisasi berarti proses masuknya informasi, pemikiran, gaya hidup, dan teknologi ke ruang lingkup dunia. Globalisasi adalah suatu proses yang menyeluruh atau mendunia dimana setiap orang tidak terikat oleh negara atau batas-batas wilayah, artinya setiap individu dapat terhubung dan saling bertukar informasi dimanapun dan kapanpun melalui media elektronik maupun cetak (Tilaar, 2012). Tujuan dari globalisasi yaitu ; (1) Meningkatkan perdagangan dan investasi antar negara, menciptakan pasar global yang efisien. (2) Memfasilitasi pertukaran informasi dan budaya, memperkaya pengalaman sosial masyarakat. (3) Mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mendukung kemajuan dalam berbagai sektor. (4) Mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja. Globalisasi bukan suatu fenomena baru, namun prosesnya semakin intensif pada abad ke-20 dan 21. Adapun dikenalnya konsep globalisasi terbagi menjadi beberapa tahap, sebagai berikut :

1. Tahap Awal (Sebelum Abad Modern) : Adanya perdagangan rempah-rempah antara berbagai bangsa telah menghubungkan dunia sejak ribuan tahun lalu. Jalur sutra merupakan contoh klasik dari jaringan perdagangan internasional pada masa lalu. Lalu ekspedisi penjelajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa, seperti Columbus dan Vasco da Gama, membuka jalur pelayaran baru dan memperluas kontak antar benua.

2. Tahap Modern : Revolusi industri di Eropa memicu perkembangan teknologi yang pesat, meningkatkan produksi, dan mendorong perluasan perdagangan internasional. Masuknya Imperialisme negara-negara kolonial yang melakukan ekspansi ke berbagai wilayah di dunia, memaksakan sistem ekonomi dan budaya mereka, serta mengintegrasikan wilayah jajahan ke dalam sistem ekonomi global. Kemudian terjadinya perang Dunia I dan II mempercepat proses globalisasi melalui peningkatan kerjasama internasional dalam bidang ekonomi dan politik.

3. Tahap Kontemporer : Setelah Perang Dunia II, banyak negara mengadopsi kebijakan liberalisasi ekonomi, mengurangi hambatan perdagangan, dan mendorong investasi asing. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, seperti internet, memungkinkan pertukaran informasi dan transaksi secara real-time di seluruh dunia, dan adanya kontak globalisasi budaya yang ditandai dengan penyebaran budaya populer, gaya hidup, dan nilai-nilai Barat ke seluruh dunia.

Adapun masuknya globalisasi di Indonesia terbagi menjadi beberapa masa yaitu sebagai berikut :

1. Masa Kolonialisme Belanda : Penjajahan Belanda selama berabad-abad telah mengintegrasikan Indonesia ke dalam sistem ekonomi global sebagai pemasok bahan mentah. Setelah merdeka, Indonesia berupaya membangun negara dan perekonomiannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia membuka diri terhadap investasi asing dan perdagangan internasional.

2. Masa Orde Baru : Pada masa Orde Baru, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan ekonomi terbuka yang semakin mempercepat proses globalisasi. Krisis ekonomi pada tahun 1997-1998, salah satu momen krusial dalam sejarah ekonomi Indonesia pada masa Orde Baru adalah krisis moneter. Krisis ini, yang berawal dari krisis keuangan di Asia, memberikan dampak yang sangat serius terhadap perekonomian Indonesia. Hal tersebut memaksa Indonesia untuk melakukan reformasi ekonomi yang lebih mendalam dan semakin terintegrasi ke dalam ekonomi global.

3. Era Reformasi : Setelah Orde Baru, Indonesia memasuki era reformasi yang ditandai dengan liberalisasi sehingga adanya peningkatan keterbukaan terhadap pengaruh global.

B. Upaya Menumbuhkan Rasa Nasionalisme pada Siswa melalui Pendekatan Pembelajaran IPS

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum (Sanjaya, 2018). Pendekatan pembelajaran menjadi kerangka filosofis yang melandasi metodologi pembelajaran dan mengarahkan pada strategi serta metode yang akan digunakan. Menumbuhkan rasa nasionalisme pada siswa melalui pendekatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan upaya untuk menciptakan generasi yang mencintai tanah air. IPS merupakan bidang studi berperan penting karena materi ini terkait sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi yang dapat memperkuat kesadaran kebangsaan siswa. Berikut upaya pendekatan pembelajaran IPS dan pengintegrasiannya :

1. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Pendekatan kontekstual menghubungkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa. Dalam konteks menumbuhkan nasionalisme, guru dapat mengaitkan peristiwa sejarah atau isu sosial kontemporer dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPS membantu siswa memahami relevansi nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan mereka, sehingga dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa dan negara (Sapriya, 2017). Contohnya dengan mengunjungi berbagai museum perjuangan kemerdekaan yang ada di lingkungan sekitar, dan guru dapat mengajak siswa mengenali keberagaman budaya seperti bahasa daerah, tarian, atau kuliner. Dengan melihat bahwa keberagaman ada dalam kehidupan nyata, siswa diharapkan bisa menghargai dan mencintai keberagaman bangsa sebagai wujud nasionalisme.

2. Pendekatan Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
Pendekatan berbasis masalah menghadapkan siswa pada permasalahan nyata yang terkait dengan isu-isu kebangsaan. Siswa didorong untuk menganalisis masalah dan mencari solusinya. Melalui pendekatan berbasis masalah, siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis terhadap permasalahan bangsa, yang pada gilirannya akan meningkatkan rasa tanggung jawab mereka sebagai warga negara (Winarno, 2014). Contohnya siswa bisa diberi masalah terkait isu disintegrasi bangsa, seperti konflik antar daerah atau kurangnya rasa kepedulian terhadap budaya lokal. Dengan mengidentifikasi masalah dan merancang solusi, siswa akan memahami pentingnya rasa persatuan dan kebanggaan pada identitas nasional. Guru dapat meminta siswa mempresentasikan solusi mereka di kelas sebagai bagian dari tugas.

3. Pendekatan Kooperatif (Cooperative Learning)
Pendekatan kooperatif melibatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama dan belajar. Dalam konteks menumbuhkan nasionalisme, pendekatan ini dapat digunakan untuk mengembangkan sikap toleransi dan kerjasama antar siswa yang beragam. Pembelajaran kooperatif dalam IPS dapat menjadi miniatur masyarakat Indonesia yang multikultural, di mana siswa belajar untuk menghargai perbedaan (Supardan, 2015). Contohnya, dari materi Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Mempertahankan Kemerdekaan, siswa bisa ditugaskan membuat presentasi kelompok tentang berbagai tokoh pahlawan dari daerah berbeda. Dengan bekerja bersama, siswa dapat mengembangkan sikap saling menghargai, toleransi, dan kebanggaan pada pahlawan bangsa.

4. Pendekatan Inkuiri (Inquiry-Based Learning)
Pendekatan inkuiri mendorong siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan melalui proses penyelidikan. Dalam pembelajaran IPS, pendekatan ini dapat digunakan untuk mengeksplorasi sejarah, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Melalui pendekatan inkuiri, siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang identitas nasional mereka, yang pada akhirnya akan memperkuat rasa nasionalisme (Al-Muchtar, 2014). Contohnya pada materi Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, guru bisa meminta siswa meneliti peran pergerakan nasional dalam perjuangan kemerdekaan atau tokoh-tokoh pahlawan daerahnya.

5. Pendekatan Nilai (Value-Based Approach)
Pendekatan nilai fokus pada penanaman nilai-nilai moral dan etika dalam pembelajaran IPS. Untuk menumbuhkan nasionalisme, pendekatan ini dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dan semangat kebangsaan. Sehingga membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai luhur bangsa, dan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Winataputra, 2016). Contohnya menanamkan nilai-nilai seperti toleransi, kebersamaan, dan bangga pada budaya lokal. Siswa dapat diajak untuk berdiskusi tentang bagaimana nilai-nilai tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan menghargai perbedaan budaya di sekolah atau menghormati teman-teman yang berasal dari suku berbeda.

6. Pendekatan Multikultural
Pendekatan multikultural mengakui dan menghargai keberagaman budaya dalam masyarakat. Dalam konteks Indonesia yang multikultural, pendekatan ini sangat relevan untuk menumbuhkan nasionalisme yang inklusif. Pendekatan multikultural dalam pembelajaran IPS dapat membantu siswa memahami kekayaan budaya Indonesia sebagai kekuatan bangsa, bukan sebagai sumber perpecahan (Tilaar, 2012). Contohnya dengan mempelajari, dan menganalisis perjuangan kemerdekaan di berbagai daerah di Indonesia.

7. Pendekatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Integrasi TIK dalam pembelajaran IPS memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi kekayaan budaya dan sejarah Indonesia secara lebih luas, sehingga dapat memperkuat identitas nasional mereka di era global. Contohnya membuat video dokumenter tentang perjuangan kemerdekaan, diharapkan siswa dapat lebih memahami dan menghargai sejarah dan budaya bangsa, serta tumbuh menjadi generasi yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

C. Pengaruh Globalisasi Pada Siswa dan Upaya Mengatasinya

Pengaruh Negatif Globalisasi pada Siswa, dan Upaya untuk Mengatasinya sebagai berikut :

1. Lunturnya Nilai-Nilai Budaya Lokal
Globalisasi menyebabkan akses terhadap budaya asing menjadi lebih mudah. Siswa cenderung mengadopsi budaya luar dan mengabaikan budaya lokal, seperti bahasa, adat istiadat, dan kesenian daerah di sekitar tempat tinggalnya. Untuk mengatasinya guru dapat memberikan pendidikan budaya lokal dapat diintegrasikan dalam kurikulum, seperti pelajaran bahasa daerah atau kesenian tradisional, agar siswa memahami dan mencintai budaya sendiri (Sugiharto, 2020).

2. Konsumerisme yang Tinggi
Globalisasi membawa pola konsumsi yang dipengaruhi iklan produk global seperti yang ada dalam aplikasi E-commerce saat ini. Hal ini memicu gaya hidup konsumtif di kalangan siswa. Untuk mengatasinya dengan memberikan literasi ekonomi yang mengajarkan pengelolaan uang dan nilai hemat kepada siswa bisa mengurangi sikap konsumtif (Putri & Wijaya, 2019).

3. Pengaruh Konten Online
Akses internet yang tidak terbatas dapat memengaruhi siswa dengan konten yang tidak sesuai usia, seperti kekerasan atau pornografi. Untuk mengatasinya pentingnya peran orang tua, dan guru bisa memberikan edukasi literasi digital dan mengatur kontrol orang tua di perangkat siswa (Fahmi, 2021).

4. Menurunnya Motivasi Minat Belajar
Kecanduan akan konten hiburan, maupun game online yang berlebihan dapat mengurangi minat siswa untuk belajar. Hal ini juga berdampak pada ketidakteraturan waktu untuk belajar, dan menurunkan tingkat berpikir kritis siswa. Untuk itu guru bisa membuat kegiatan belajar interaktif berbasis teknologi agar lebih menarik bagi siswa dan mendukung gaya belajar mereka (Suharto, 2018).

5. Meningkatnya sikap individualisme pada Siswa
Globalisasi telah membuka akses terhadap budaya luar, informasi, dan teknologi. Sehingga siswa lebih fokus pada pencapaian pribadi. Hal ini tentu berpengaruh pada proses pembelajaran dan interaksi sosial antar siswa maupun guru. Individualisme menyebabkan rendahnya kemampuan bekerja sama, rendahnya kepedulian sosial, rasa toleransi, dan menurunkan motivasi intrinsik, Akibatnya, ketahanan siswa dalam menghadapi tantangan belajar bisa melemah (Rahman, 2020). Untuk mengatasi sikap individualisme pada siswa maka guru dapat merancang pembelajaran berbasis proyek atau diskusi kelompok untuk mendorong siswa saling bekerja sama dan menghargai kontribusi teman-temannya. Ini dapat meningkatkan rasa saling percaya dan mendukung kemampuan sosial mereka (Gunawan, 2016). Mengembangkan pendidikan karakter yang menekankan nilai kepedulian, toleransi, dan kerjasama dapat diberikan sejak dini. Sekolah dapat mengintegrasikan nilai-nilai ini ke dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari, baik di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler (Susanto, 2018). Mengembangkan pembelajaran kolaboratif, misalnya melalui aplikasi agar berkolaborasi secara online. Guru dapat mengarahkan penggunaan teknologi dengan mendukung interaksi sosial positif (Rahman, 2020).

Adapun Pengaruh Positif Globalisasi pada Siswa, sebagai berikut :

1. Akses Informasi yang Luas
Globalisasi memungkinkan siswa untuk mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dari seluruh dunia dengan cepat. Guru dapat membimbing siswa memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi akademik dari situs terpercaya, seperti jurnal atau buku digital (Rahmat, 2020).

2. Peluang Belajar Bahasa Asing
Siswa cenderung ingin mempelajari bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, yang merupakan bahasa internasional. Sekolah bisa menyediakan program bahasa asing lainnya sebagai bagian dari kurikulum agar siswa lebih kompeten dalam bahasa internasional (Sari & Ningsih, 2019).

3. Meningkatkan Keterampilan Teknologi
Penggunaan teknologi dalam pendidikan membuat siswa terbiasa dengan perangkat digital, yang penting di era globalisasi. Sekolah dapat menyediakan fasilitas teknologi dan mengajarkan keterampilan digital yang bermanfaat bagi siswa di masa depan (Yuliana, 2021).

4. Pengembangan Wawasan Global
Globalisasi memudahkan siswa untuk memahami isu-isu global, seperti perubahan iklim atau hak asasi manusia. Guru dapat memperkenalkan isu global melalui diskusi atau proyek kelas agar siswa memiliki wawasan luas (Mulyadi, 2020).

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS memiliki peran vital dalam menghadapi tantangan globalisasi dan menumbuhkan rasa nasionalisme pada siswa. Melalui berbagai pendekatan pembelajaran IPS dapat membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk menjadi warga negara global yang tetap memiliki identitas nasional tanpa menghilangkan nilai-nilai Nasionalisme bangsa Indonesia. Adapun pendekatan pembelajaran IPS yang bisa di terapkan yaitu ; (1) Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), (2) dekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), (3) Berbasis Masalah (Problem-Based Learning), (4) Kooperatif (Cooperative Learning), (5) Inkuiri (Inquiry-Based Learning), (5) Nilai (Value-Based Approach), (6) Multikultural, (7) Pendekatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dapat dikatakan menjadi salah satu upaya efektif untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme melalui pengintegrasian materi, dan pendekatan pembelajaran IPS tersebut. Adapun pengaruh globalisasi cukup signifikan terhadap siswa yaitu dari pengaruh negatif menimbulkan berbagai masalah seperti ; lunturnya nilai-nilai budaya lokal bangsa Indonesia, konsumerisme yang tinggi, berpengaruh buruk akibat konten online yang tidak terfilter, menurunnya Motivasi minat belajar, meningkatnya sikap individualisme yang berakibat pada hilangnya kepedulian siswa, hilangnya rasa toleransi, dan kerja sama positif. Sedangkan dari pengaruh globalisasi secara positif pada siswa yaitu ; menyediakan akses informasi yang luas, menjadi peluang belajar bahasa asing, meningkatkan keterampilan teknologi serta mengembangkan wawasan global siswa.

REFERENSI :
Al-Muchtar, S. (2014). Inovasi dan Transformasi Pembelajaran Pendidikan IPS. Bandung: Gelar Pustaka Mandiri.
Fahmi, I. (2021). Pendidikan Literasi Digital pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Teknologi Pendidikan, 8(1), 55-67.
Gunawan, H. (2016). Peran Guru dalam Meningkatkan Kemampuan Sosial Siswa melalui Pembelajaran Kolaboratif. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Kartodirdjo, S. (2019). Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Yogyakarta : Ombak.
Mulyadi, B. (2020). Pendidikan Wawasan Global dan Dampaknya pada Siswa. Jurnal Ilmu Pendidikan, 6(2), 94-105.
Putri, M., & Wijaya, H. (2019). Dampak Konsumerisme pada Generasi Muda di Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan Ekonomi, 12(3), 124-133.
Rahman, I. (2020). Motivasi dalam Pembelajaran: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Kencana.
Supardan, D. (2015). Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial: Perspektif Filosofi dan Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Sapriya. (2017). Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Susanto, A. (2018). Pendidikan Karakter di Sekolah: Teori dan Praktik. Bandung: Alfabeta.
Suharto, R. (2018). Penggunaan Teknologi untuk Meningkatkan Minat Belajar. Jurnal Inovasi Pendidikan, 14(2), 103-110.
Sari, A. & Ningsih, P. (2019). Bahasa Inggris sebagai Bahasa Internasional dan Pengaruhnya pada Siswa. Yogyakarta: Andi Offset.
Sugiharto, T. (2020). Budaya Lokal dan Tantangan Globalisasi pada Generasi Muda. Jakarta: Penerbit Nasional.
Sutarno. (2021). Analisis Pergeseran Nilai Nasionalisme pada Siswa SMA. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 6(1), 12-25.
Tilaar, H.A.R. (2012). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Tilaar, H.A.R. (2023). Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta : Rineka Cipta.
Winarno. (2014). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan: Isi, Strategi, dan Penilaian. Jakarta: Bumi Aksara.
Winataputra, U. S. (2016). Posisi Akademik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Muatan/Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam Konteks Sistem Pendidikan Nasional. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 1(1), 15-36.
Widiatmaka, P. (2016). Pembangunan Karakter Nasionalisme Peserta Didik Di Sekolah Berbasis Agama Islam. Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 1(1), 25-33.
Wahyudi, R. (2020). Globalisasi dan Dampaknya terhadap Pendidikan. Malang : UMM Press.
Widodo, S. (2022). Efektivitas Metode Pembelajaran IPS dalam Menumbuhkan Nasionalisme. Jurnal Penelitian Pendidikan 15(3), 78-92.
Yuliana, T. (2021). Pendidikan Keterampilan Digital di Era Globalisasi. Jurnal Teknologi dan Pendidikan, 10(4), 215-230.
Yunus, M. (2022). Peran Guru dalam Penguatan Nilai Nasionalisme. Jurnal Pendidikan Karakter, 7(4), 112-125.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.