Merangkak menjadi negara maju : Indonesia menjadi anggota BRICS?
Oleh Redaksi
Gambar 1 KTT BRICS Metro TV News.com
Mahasiswa.co.id - Belakangan ini tepatnya di bulan Oktober lalu, media nasional maupun internasional dikejutkan oleh pernyataan yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia yakni Sugiono dalam perdana pertemuannya di KTT BRICS Kazan, Rusia (25/10/24) setelah dilantik oleh bapak presiden ke-8 kita yakni Bpk. Prabowo Subianto. Beliau mengungkapkan bahwa “Indonesia ingin bergabung kedalam keanggotaan BRICS, bukan untuk mengikuti blok tertentu melainkan Indonesia harus selalu aktif di dalam setiap forum”.
Melalui pernyataan yang dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri kita telah membuktikan bahwa Indonesia perlahan-lahan merangkak dari negara berkembang menjadi negara maju dengan mengutamakan kerjasama beberapa aktor negara. Hal ini telah diperkuat juga dengan perwujudan politik bebas aktif yang dimiliki oleh Indonesia, yang menjadikan Indonesia bebas untuk melakukan kerjasama dengan negara-negara di seluruh dunia agar dapat memperkuat serta meningkatkan perekonomian di Indonesia guna mewujudkan cita-cita nasional.
Dalam kutipan berita Antara, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia yakni Hikmahanto Juwana telah menilai positif keinginan bergabungnya Indonesia kedalam keanggotaan BRICS hal ini ditujukan agar Indonesia tidak hanya didominasi oleh negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) merupakan salah satu organisasi internasional yang berfokus dalam aspek ekonomi dengan melakukan standarisasi kebijakan ekonomi serta menciptakan ekonomi internasional yang makmur dan sejahtera bagi negara anggotanya.
Konteks dominasi yang dimaksud ialah Indonesia sebagai negara yang berdaulat tidak hanya berfokus dalam kerjasamanya dengan negara-negara OECD saja yang beranggotakan Australia, Austria, Belgia, Kanada, Kolombia, dll melainkan Indonesia juga diperbolehkan untuk berpartisipasi aktif dalam kerjasamanya dengan negara-negara BRICS yang dianggotai oleh Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan adalah salah satu organisasi internasional yang terdiri oleh negara-negara berkembang dengan memiliki tujuan untuk maju bersama-sama dengan saling tolong-menolong agar lebih siap menghadapi tantangan krisis global di masa depan.
Indonesia bergabung kedalam keanggotaan BRICS? Bergabungnya Indonesia menjadi keanggotaan BRICS tentu saja akan memberi keuntungan yang signifikan bagi Indonesia, pasalnya diketahui bahwa OECD sudah tidak sekuat dulu hal ini dilansir oleh berita Antara, melalui fakta tersebut Indonesia telah melihat potensi BRICS dalam pengelolaan pasarnya yang lebih unggul dibandingkan dengan OECD, melihat hal itu Indonesia tidak tinggal diam dan kemudian menyadari bahwa potensi tersebut dapat membantu Indonesia agar dapat memaksimalkan aspek-aspek ekonominya melalui perdagangan internasional sehingga berniat hati untuk bergabung menjadi salah satu anggota BRICS. Selain itu, dengan adanya fakta ketergantungannya seluruh dunia saat ini kepada mata uang dollar, menjadikan salah satu alasan Indonesia memantapkan niatnya untuk bergabung menjadi salah satu anggota BRICS dengan tujuan mengurangi ketergantungan penggunaan dollar Amerika Serikat. Dilansir dari berita Antara, saat ini BRICS telah menjadi sorotan publik mengenai rencana pembentukan mata uang cadangan baru. Mata uang BRICS adalah konsep mata uang lokal yang nantinya akan dipergunakan oleh negara-negara anggota BRICS untuk melakukan perdagangan dan investasi antar negara anggota.
Berdasarkan KTT BRCS di Kazan, diketahui bahwa anggota negara-negara BRICS baru menyadari banyaknya manfaat dari perencanaan pembuatan mata uang. Hal tersebut dapat memudahkan pembayaran lintas batas negara yang lebih ringkes, ongkos biaya yang lebih rendah, lebih efisien, dan transparan, serta mengurangi hambatan perdagangan antar negara-negara anggota. Perencanaan mata uang BRICS yang memiliki nilai yang tinggi dapat menegaskan kembali bahwa negara-negara yang tergabung di dalam keanggotaan BRICS berdiri mandiri sambil bersaing dengan sistem keuangan standarisasi internasional yang ada. Sistem keungan internasional saat ini diketahui telah didominasi oleh dolar AS, menurut data mencakup sekitar 90 persen dari semua perdagangan mata uang di dunia. Sehingga telah menyebabkan negara-negara yang bergantung pada dolar AS harus mengikuti yurisdiksi Amerika Serikat agar dapat menghindari sanksi dari negara-negara Barat.
Oleh karena itu, pembentukan mata uang BRICS diharapkan dapat menjadi upaya penurunan permintaan atau yang dikenal sebagai de-dolarisasi dalam mengurangi ketergantungan mereka terhadap dolar AS.
Oleh : Zaenab Adinda Mulyana Zainal Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0