Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pelatihan Soft Skill Berhasil Tingkatkan Kompetensi atau Sekadar Formalitas?

Pelatihan Soft Skill

Menguji komitmen aparatur di Kecamatan Angsana Kabupaten Pandeglang Banten Tahun 2024

Pandeglang, Mahasiswa.co.id - Di tengah upaya pemerintah daerah memperbaiki kualitas layanan publik, pelatihan soft skill bagi pegawai kantor camat Kecamatan Angsana, Kabupaten Pandeglang, menjadi sorotan. Program yang digelar sepanjang tahun 2024 ini disebut sebagai langkah maju untuk membentuk aparatur yang lebih komunikatif, empatik, dan profesional. Namun, pertanyaannya: apakah pelatihan ini benar-benar berdampak dan berhasil, atau hanga sekadar memenuhi kewajiban administratif semata?

Selama bertahun-tahun, masalah pelayanan publik di tingkat kecamatan sering kali bukan terletak pada prosedur, melainkan pada sikap dan cara pegawai berinteraksi dengan masyarakat. Warga yang merasakan kerap mengeluh tentang pelayanan yang lamban, kurang ramah, bahkan terkadang tidak informatif. Inilah yang menjadi dasar pentingnya pelatihan soft skill kemampuan yang mencakup empati, komunikasi efektif, kerja sama, dan pelayanan berbasis etika.

Namun, hasil evaluasi awal itu menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih jauh dari ideal. Sebagian pegawai memang mulai menunjukkan perubahan positif dalam komunikasi, tetapi masih banyak pula yang kembali ke pola lama: kaku, formalistik, dan minim inisiatif. Pelatihan yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, kadang berubah menjadi rutinitas yang dijalankan tanpa refleksi mendalam atau hanya sekedar pormalitas.

Pelatihan soft skill bagi pegawai Kantor Camat Kecamatan Angsana, Kabupaten Pandeglang, tahun 2024, seharusnya menjadi tonggak reformasi birokrasi lokal. Di era digital governance, kemampuan seperti komunikasi efektif, kerja tim, dan adaptasi teknologi bukan lagi bonus, melainkan keharusan untuk mendukung e-government seperti e-procurement dan pelayanan terintegrasi. Namun, evaluasi awal menunjukkan program ini rawan terjebak pada rutinitas formalitas: seremoni megah, sertifikat dibagikan, tapi dampak nyata di lapangan minim.

“Pelatihan semacam ini seharusnya bukan sekadar menambah sertifikat atau memenuhi target kegiatan tahunan,” ujar seorang akademisi . “Yang dibutuhkan adalah perubahan mindset — bahwa melayani masyarakat berarti melayani manusia, bukan sekadar menjalankan prosedur.”

Penulis:
Julianita Nurhasanah (Mahasiswa)
Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P. (Dosen Pembimbing)
Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos. (Kepala Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang Serang)
Program Studi Administrasi Negara
Universitas Pamulang Kampus Serang

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.