Pelestarian Keris Bagi Masyarakat Jawa di Daerah Dharmasraya Dalam Kajian Folklor Bukan Lisan
Oleh Redaksi
Oleh: Nurlintang Kusumastuti Prodi sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Mahasiswa.co.id - Ketimpangan atas ketidakmerataan pesebaran penduduk dipulau Jawa, membuat pemerintah melakukan program transmigrasi dari Jawa ke Sumatera. Tujuan Transmigrasi yaitu untuk meningkatkan kemakmuran dan kejahteraan rakyat Jawa. Tak hanya kebutuhan pokok yang masyarakat Jawa bawa saat transmigrasi, namun benda-benda yang di anggap penting dalam budaya mereka tentu mereka bawa dan dilestarikan didaerah barunya. Seperti keris, keris merupakan salah satu simbol indentitas budaya Jawa. Membawa keris saat transmigrasi adalah salah satu cara menjaga akar budaya, terutama untuk menjaga seseorang saat meninggalkan tanah kelahirannya. Keris juga dianggap sebagai benda pusaka yang melambangkan kebanggaan dan tradisi disuatu keluarga. Keris salah satu benda pusaka yang wajib diturun-temurunkan dari generasi dalam suatu keluarga. Namun, tidak semua masyarakat jawa memiliki keris. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyai keris dan percaya akan kegunaan keris sebagai benda yang memiliki keistimewaan.
Dalam budaya Jawa keris mempunyai fungsi sebagai senjata, simbol spiritual, pusaka keluarga, dan identitas sosial. Setiap keris mempunyai makna filosofis, seperti nilai kebijaksaan, keberanian, dan keadilan. Sebagai pendatang baru disuatu daerah tentunya banyak cara yang masyarakat Jawa lakukan untuk mempertahankan nilai-nilai budayanya agar tidak terpengaruh atau hilang karena budaya lain, seperti informasi yang saya dapatkan dari narasumber, alasan masyarakat Jawa membawa keris adalah sebagai benda pusaka keluarga yang wajib di turun-temurunkan dari generasi ke generasi. Cara tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan budaya Jawa yang dibawa ke Sumatera. Sejauh ini banyak masyarakat Sumatera percaya bahwa keris Jawa selalu mempunyai kemistisan didalamnya. Namun, keberadaan keris tetap di terima baik oleh masyarakat Sumatera. Tapi faktanya tidak semua keris Jawa bersifat mistis. Bahkan saat ini banyak suku Jawa yang menikah dengan suku Sumatera yang dimana pada saat acara pernikahan terdapat upacara adat dari kedua suku yang disajikan secara berganti-gantian untuk menghargai setiap suku dari mempelai. Banyak kegiatan yang melibatkan keris dalam upacara tertentu, seperti pernikahan dan ritual keagamaan. Sejauh ini nilai-nilai yang terkandung dalam keris tetap dipertahankan oleh masyarakat Jawa hingga masa saat ini yang penuh dengan pengaruh dari budaya luar.
Beberapa masyarakat Jawa masih menyimpan keris yang bertuah. Kedengannya menurut orang-orang saat ini dan bahkan generasi-generasi z saat ini tidak percaya atas hal-hal yang berkaitan dengan keris bertuah asal jawa ini, namun di Dharmasraya generasi-generasi milenial wajib ikut mempertahankan pelestarian turun-temurun yang dilakukan dari buyut-buyut mereka sebelumnya. Tidak mudah halnya merawat keris istimewa ini seperti menjaga keris yang pada umunnya. Rata-rata buyut-buyut mereka menggunakan keris sebagai media menyimpan isi yang dipercaya mempunyai kekuatan gaib yang magis. Masyarakat jawa percaya jika keris sudah diisi dengan kekuatan yang magis maka tuan dari keris itu akan mempunyai kekuatan yang lebih dari pada manusia biasa. Seperti dalam halnya kekuatan pelindung, kekayaan, berkerja ,bela diri, dan kewibawaan. Seperti halnya tradisi, keris ini wajib untuk di rawat dan dijaga oleh penerus-penerus dari tuan sebelumnya. Jika tidak ada yang menyanggupi untuk merawatnya lagi maka akan berdampak buruk bagi keluarga mereka sendiri.
Kemistisan keris yang dipunyai masyarakat Jawa sangat terkenal bahaya dikalangan masyarakat budaya lain. Seperti orang jawa dipercaya handal dalam membunuh seseorang dari jarak jauh, baik dengan menusuk korban yang dituju dengan keris melalui boneka yang ia implemntasikan sebagai korbannya. Ada pula keris yang dapat menghentikan hujan yang dipercayai oleh masyarakat. Bahkan jika orang yang mempunyai keris bertuah itu sudah waktunya mendahului atau saat sakaratul maut orang itu akan di persulit oleh isi yang ada dikeris itu. Maka perlu dukun yang paham soal keris itu untuk mencabut isi yang bersemayam pada orang itu, Masyarakat percaya bahwa cara itu membuat orang itu tidak terikat lagi dengan urusannya didunia ini sehingga bisa pergi dengan tenang dialam sana. Kejadian ini bukannya hoax belakang terjadi didaerah Dharmasraya, namun sudah hal yang biasa jika ada kejadian seperti itu. Di sisi lain, masyarakat jawa tidak pernah peduli tentang apa akibat yang mereka terima jika menyimpan keris magis tersebut. Jadi keris bertuah dapat disimpulkan selain berkaitan dengan kekuatan mistik dan dapat melindungi, keris bertuah juga dapat membawa malapetaka.
Perhitungan hari mempengaruhi perilaku masyarakat Jawa terhadap keris seperti dalam pembersihan dan penyimpanan. Ada hari dimana keris wajib untuk di sucikan yaitu malam satu suro dan Jumat kliwon. Keris dimandikan dengan kembang setaman, kembang kantil, kembang melati, mawar, kenanga yang diberikan dengan air dan minyak duyung. Serta wajib untuk memakai kemenyan serta jeruk nipis untuk di olesin-olesin ke kerisnya secara langsung, Sambil membacakan doa dan mantra. Setelah itu keris disimpan menggunakan kain dan kotak khusus. Kain tersebut harus kain yang lembut dan kotaknya terbuat dari kayu agar keris terlindungi dari goresan. Hal ini dipercaya bahwa daya keris akan semakin tajam dan kuat apabila mensucikannya secara rutin.
Keris bukan hanya sebagai benda pusaka, tetapi juga simbol identitas, spiritual, dan benda puska. Tradisi perawatan keris melalui pemandian dan kepercayaan akah tuah keris masih bertahan disekelompok masyarakat termasuk transmigrasi Jawa di Dhamasraya. Sebagai warisan budaaya yang telah diakui oleh dunia, keris perlu terus dilestarikan agar nilai filosofis dan spiritualnya tidak hilang. Generasi muda saat ini perlu memahami secara mendalam tentang benda pusaka yang ada disekitarnya, agar makna keris tidak dipandang sebagai benda kuno, tetapi sebagai simbol warisan budaya yang sangat bernilai dalam kehidupan. Dengan begitu keris akan terus hidup dan mempunyai penerus dalam menjaga dan menghormatinya.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0