Apa Itu Kreativitas? Mahasiswa.Co.ID, Jakarta, (28/11/2025) - Kreativitas sering kali disalah artikan sebagai bakat seni, misalnya kemampuan menggambar, menari, atau membuat kerajinan tangan. Padahal, kreativitas jauh lebih luas daripada itu. Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan ide baru, mencari pendekatan yang berbeda, dan melihat situasi dari berbagai sudut pandang (Wallach & Kogan, 1965). Ini adalah keterampilan yang membantu seseorang berpikir fleksibel, berani mencoba hal baru, dan mampu beradaptasi ketika menghadapi perubahan. Dalam kehidupan sehari-hari, kreativitas muncul dalam banyak bentuk, misalnya menemukan rute alternatif saat jalanan macet atau menemukan solusi cepat di tempat kerja. Dengan kata lain, kreativitas bukan hanya milik “anak seni”, tetapi merupakan kemampuan penting bagi semua orang. Mengapa Kreativitas Penting Menjadi Skill yang Penting untuk Dimiliki Saat Ini? Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat dan penuh ketidakpastian, kreativitas menjadi salah satu keterampilan yang paling banyak dicari. Banyak survei global menempatkan kreativitas sebagai salah satu kompetensi utama yang dibutuhkan dalam pendidikan abad 21 dan dunia kerja. Namun di sisi lain, indeks kreativitas di beberapa negara, termasuk Indonesia, masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan dan kenyataan. Anak-anak yang sedang tumbuh hari ini akan menghadapi masa depan yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka akan bertemu tantangan yang kompleks, teknologi yang berkembang cepat, serta lingkungan sosial yang terus berubah. Karena itu, mereka perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kreatif untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, serta berinovasi. Mengasah kreativitas menjadi sama pentingnya dengan mendukung pencapaian akademik. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi justru sebaiknya berjalan beriringan agar anak memiliki kesiapan yang utuh untuk menghadapi tuntutan masa depan. Bagaimana Orang Tua Mendorong Kreativitas Anak? Salah satu cara paling mudah dan natural untuk mengembangkan kreativitas adalah melalui bermain fantasi. Hampir semua anak melakukannya secara spontan tanpa perlu diajari. Mereka bisa memanfaatkan benda apa pun di rumah, seperti selimut, kardus, kursi, atau sendok, untuk menciptakan dunia imajinatif yang sepenuhnya mereka bangun sendiri. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas bermain fantasi memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan kemampuan kognitif dan proses afektif yang berkaitan erat dengan perkembangan kreativitas (Russ & Wallace, 2013). Tidak hanya bermanfaat untuk kreativitas di masa kanak-kanak, pengalaman bermain fantasi juga menjadi fondasi keterampilan kreatif ketika anak tumbuh dewasa (Russ, 2020). Secara teoretis, Vygotsky (1960) menjelaskan bahwa kreativitas berkembang melalui beberapa tahap: dimulai dari imajinasi kreatif pada masa kanak-kanak, kemudian dipadukan dengan kemampuan berpikir abstrak pada remaja, dan akhirnya digunakan secara fungsional untuk mencapai tujuan tertentu pada masa dewasa. Dengan kata lain, kemampuan berimajinasi, yang salah satunya dapat dilatih melalui bermain fantasi di masa kanak-kanak, memegang peran penting dalam perkembangan kreativitas sepanjang rentang kehidupan. Apa Itu Bermain Fantasi? Bermain fantasi adalah aktivitas ketika anak menggunakan imajinasi untuk menciptakan situasi, peran, atau objek yang tidak nyata (Daou, 2011). Mereka bisa menjadi dokter, pilot, guru, pemilik restoran, atau bahkan penjelajah angkasa menggunakan kardus bekas. Bentuknya sangat beragam, misalnya:
  • memberi makan boneka,
  • membuat “suara mobil” sambil mendorong mainan,
  • menggunakan sapu sebagai pedang superhero,
  • menjadikan sofa sebagai “kapal bajak laut”,
  • membuat cerita imajinatif saat menggambar.
Kegiatan sederhana seperti ini menunjukkan bahwa anak sedang mengolah imajinasi dan membangun dasar kreativitasnya. Bagaimana Peran Orang Tua dalam Mendukungnya? Banyak orang tua merasa harus kreatif dulu agar bisa mendampingi anak bermain fantasi. Padahal, yang paling dibutuhkan anak sebenarnya bukan ide-ide canggih dari orang tua, tetapi dukungan emosional dan ruang untuk bereksplorasi. Bentuk dukungan orang tua bisa berupa:
  • memberi ruang untuk anak mengeksplorasi,
  • menyediakan waktu untuk bermain bebas,
  • merespons ajakan bermain anak dengan hangat, dan
  • tidak terlalu banyak memberi batasan yang menghambat kreativitas.
Ketika anak merasa aman, diterima, dan bebas bereksplorasi, kreativitas mereka berkembang secara alami. Berdasarkan berbagai penelitian perkembangan anak, bermain fantasi terbukti berkaitan positif dengan banyak aspek tumbuh kembang. Aktivitas ini mendukung perkembangan emosi, kemampuan mengontrol diri, perkembangan bahasa, keterampilan kognitif, keterampilan sosial, hingga kreativitas. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa pengalaman bermain fantasi pada masa kanak-kanak tidak hanya berhubungan dengan kemampuan menghasilkan ide kreatif di masa kanak-kanak saja, namun hingga seseorang beranjak dewasa di belasan tahun kemudian. Pada akhirnya, kreativitas bukan hanya tentang kemampuan membuat karya, tetapi juga tentang membentuk cara berpikir yang lentur, penuh inisiatif, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah. Maka, luangkanlah waktu untuk bermain bersama anak, biarkan mereka menciptakan dunianya sendiri, dan berikan ruang bagi imajinasi mereka tumbuh bebas. Melalui permainan sederhana seperti ini, kita sedang membantu mereka mengembangkan berbagai keterampilan penting, termasuk kreativitas, yang akan mereka bawa sepanjang hidup sebagai bekal menghadapi tantangan belajar dan kehidupan nantinya. Ditulis oleh: Talitha Maurilla, S.Psi; Dr. Naomi Soetikno, M.Pd, Psikolog; dan Dr. Fransisca Iriani Roesmala Dewi, M.Si Fakultas Psikologi Jenjang Magister Universitas Tarumanagara Referensi: Daou, N. (2011). Fantasy Play. In S. Goldstein & J. A. Naglieri (Eds.), Encyclopedia of Child Behavior and Development. Springer. https://doi.org/10.1007/978-0-387-79061-9_1103 Wallach, M. A., & Kogan, N. (1965). Modes of thinking in young children: A study of the creativity-intelligence distinction. Holt, Rinehart & Winston. Russ, S. W., & Wallace, C. E. (2013). Pretend play and creative processes. American Journal of Play, 6(1), 136–148. Russ, S. W. (2020). Mind wandering, fantasy, and pretend play: A natural combination. In D. D. Press, D. Cosmelli, & J. C. Kaufman (Eds.), Creativity and the wandering mind: Spontaneous and controlled cognition (pp. 231–248). Elsevier Academic Press. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-816400-6.00010-9. Vygotsky, L. S. (1960). Imagination and its development in childhood. In L.V. (Ed.), The development of higher mental function (pp. 327–362). Izdatel'stvo Academii Pedagogicheskikh Nauk RSFSR: Moscow.