Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pembudidayaan Tanaman TOGA dalam Mencegah Penyakit Diabetes bagi Kalangan Remaja

Pembudidayaan Tanaman TOGA dalam Mencegah Penyakit Diabetes bagi Kalangan Remaja
Ilustrasi pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) untuk mendukung pola hidup sehat dan pencegahan diabetes sejak remaja

Dosen Pengampu: Luluk Ulfa Hasanah

Jahe, kunyit, serai, daun salam, dan kelor bukanlah tanaman asing bagi masyarakat Indonesia. Berbagai tanaman tersebut telah lama tumbuh di pekarangan rumah dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan, minuman tradisional, hingga ramuan kesehatan. Keberadaannya menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, seiring perubahan gaya hidup masyarakat, kebiasaan menanam dan memanfaatkan tanaman obat keluarga (TOGA) mulai berkurang. Pekarangan rumah semakin jarang ditanami tanaman herbal, sementara generasi muda justru semakin akrab dengan minuman manis dalam kemasan yang mudah ditemukan di minimarket maupun pusat perbelanjaan.

Perubahan kebiasaan ini perlu mendapat perhatian. Konsumsi gula berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, serta pola makan yang tidak seimbang merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Penyakit ini tidak lagi menjadi persoalan kesehatan yang hanya perlu diperhatikan ketika seseorang memasuki usia lanjut.

Menurut International Diabetes Federation (IDF) dalam Diabetes Atlas edisi 2025, sekitar 20,4 juta penduduk dewasa Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat kelima dunia dan diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada 2050.

Angka ini menjadi peringatan bahwa pencegahan penyakit tidak dapat terus-menerus mengandalkan layanan pengobatan. Perubahan kebiasaan hidup perlu dibangun sejak usia muda, ketika pola konsumsi dan aktivitas sehari-hari masih dapat dibentuk.

Di sinilah TOGA dapat memperoleh tempat kembali, bukan sebagai obat ajaib yang menjanjikan kesembuhan, melainkan sebagai bagian dari upaya membangun pola konsumsi yang lebih sehat.

Potensi TOGA dalam Mendukung Pola Hidup Sehat

Tanaman obat keluarga memiliki potensi yang menarik untuk dikembangkan sebagai bagian dari edukasi kesehatan masyarakat. Beberapa tanaman, seperti kayu manis, jahe, daun salam, dan daun kelor, telah menjadi objek berbagai penelitian mengenai kandungan senyawa aktif serta kemungkinan manfaatnya terhadap kesehatan metabolik.

Kayu manis, misalnya, mengandung senyawa sinamaldehida dan berbagai komponen bioaktif lainnya. Sementara itu, jahe dikenal memiliki kandungan gingerol, dan daun kelor mengandung sejumlah vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan.

Penelitian Gou dan rekan-rekannya (2025), yang meninjau 21 meta-analisis, menemukan bahwa suplementasi kayu manis berkaitan dengan perbaikan sejumlah indikator metabolik, termasuk kadar gula darah puasa pada pasien dengan penyakit metabolik.

Meski demikian, para peneliti menegaskan perlunya penelitian klinis jangka panjang untuk memastikan efektivitas dan keamanan penggunaannya.

Hal serupa berlaku pada jahe dan daun kelor. Sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan manfaat terhadap indikator kesehatan metabolik, tetapi hasilnya belum cukup konsisten untuk menjadikan tanaman tersebut sebagai pengganti terapi medis.

Tinjauan penelitian mengenai daun kelor oleh Crișan dan rekan-rekannya (2025), misalnya, menunjukkan bahwa kepastian bukti ilmiah terkait manfaat kardiometaboliknya masih terbatas.

Selain itu, sebagian besar penelitian tersebut dilakukan pada orang dewasa, bukan pada remaja sehat. Karena itu, hasil penelitian tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa konsumsi TOGA mampu mencegah diabetes pada remaja.

Justru manfaat TOGA yang paling realistis terletak pada kemampuannya menjadi bagian dari kebiasaan makan dan minum yang lebih baik.

Sebagai contoh, minuman jahe tanpa tambahan gula dapat menjadi alternatif pengganti minuman manis kemasan. Daun kelor dapat diolah menjadi sayur bening sebagai bagian dari menu makanan bergizi seimbang.

Dengan cara tersebut, TOGA bukan hanya diperkenalkan sebagai tanaman tradisional, tetapi juga menjadi sarana untuk membiasakan konsumsi makanan dan minuman yang lebih sehat.

Sekolah Bisa Menjadi Tempat Memulai Perubahan

Membangun kebiasaan sehat tidak cukup hanya melalui imbauan untuk mengurangi konsumsi gula. Remaja membutuhkan lingkungan yang mendukung serta kesempatan untuk menerapkan pengetahuan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengembangkan kebun TOGA di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mengenal berbagai jenis tanaman herbal, tetapi juga belajar mengenai cara menanam, merawat, serta memanfaatkannya secara tepat.

Kebun TOGA dapat diintegrasikan dengan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), pembelajaran biologi, pendidikan lingkungan, maupun proyek penguatan keterampilan hidup.

Kegiatan sederhana seperti menanam jahe, merawat serai, atau mengolah daun kelor menjadi makanan dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang pentingnya memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.

Selain sekolah, puskesmas dan Posyandu Remaja juga dapat berperan dalam memberikan edukasi mengenai pola makan sehat, pembatasan konsumsi gula, serta pencegahan faktor risiko diabetes tipe 2.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki program yang dapat mendukung upaya tersebut, salah satunya Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah.

Program yang mulai dilaksanakan secara nasional pada Agustus 2025 tersebut menargetkan sekitar 53 juta peserta didik di Indonesia. Pemeriksaan dilakukan sesuai kelompok usia dan jenjang pendidikan, mencakup antara lain status gizi, tekanan darah, dan pemeriksaan gula darah sesuai ketentuan skrining.

Hasil pemeriksaan kesehatan seharusnya tidak hanya berhenti sebagai data administrasi. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga untuk menyusun program edukasi yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Apabila ditemukan kecenderungan masalah gizi atau faktor risiko kesehatan tertentu, tindak lanjut dapat dilakukan melalui pendampingan, konseling, dan pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan medis.

Remaja sebagai Penggerak Gaya Hidup Sehat

Generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak perubahan kebiasaan hidup di lingkungan sekitarnya.

Kemampuan menggunakan teknologi dan media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kembali TOGA melalui pendekatan yang lebih kreatif.

Misalnya, siswa dapat membuat konten edukatif mengenai cara menanam tanaman herbal di rumah, resep minuman tanpa tambahan gula, hingga manfaat mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Kegiatan tersebut bukan hanya membantu memperkenalkan tanaman tradisional, tetapi juga membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang mahal.

Meski demikian, edukasi TOGA harus tetap berlandaskan informasi ilmiah yang benar. Konten yang menjanjikan kesembuhan diabetes hanya dengan mengonsumsi ramuan herbal perlu dihindari karena dapat menyesatkan masyarakat.

Penting pula memahami bahwa diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 memiliki mekanisme yang berbeda. Diabetes tipe 1 berkaitan dengan gangguan autoimun yang menyebabkan tubuh kekurangan insulin, dan hingga kini belum terdapat cara yang terbukti dapat mencegahnya secara umum.

Sementara itu, risiko diabetes tipe 2 dapat dikurangi melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan pengelolaan berat badan yang sesuai.

Oleh karena itu, pemanfaatan TOGA harus ditempatkan sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat, bukan sebagai satu-satunya cara pencegahan penyakit.

Remaja yang mengalami gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau memiliki faktor risiko diabetes sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Menyatukan Kearifan Lokal dengan Ilmu Pengetahuan

Kearifan lokal dan ilmu kedokteran modern sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi apabila ditempatkan secara tepat.

Tradisi memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Sementara itu, ilmu pengetahuan modern membantu menjelaskan manfaat, risiko, keamanan, dan keterbatasan penggunaannya.

Dalam konteks pencegahan diabetes sejak usia muda, menghidupkan kembali TOGA dapat menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pola konsumsi sehat.

Namun, upaya tersebut harus berjalan bersama kebiasaan lain, seperti membatasi minuman berpemanis, memperbanyak konsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, serta melakukan pemeriksaan kesehatan apabila diperlukan.

Menurut saya, keberhasilan pemanfaatan TOGA bukan diukur dari seberapa banyak tanaman herbal dikonsumsi, tetapi dari sejauh mana keberadaannya mampu membantu masyarakat membangun kebiasaan yang lebih baik.

Pekarangan rumah yang ditanami jahe, kunyit, atau kelor mungkin terlihat sederhana. Akan tetapi, dari ruang kecil itulah keluarga dapat mulai mengenalkan pentingnya menjaga kesehatan kepada anak-anak.

Jika sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan remaja mampu bekerja sama, TOGA dapat kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dengan pendekatan yang lebih relevan dan berdasarkan pengetahuan ilmiah.

*Pada akhirnya, merawat tanaman di pekarangan rumah bukan hanya tentang melestarikan warisan budaya, tetapi juga tentang menanam kebiasaan sehat yang manfaatnya dapat dirasakan hingga masa depan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.