Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pencegahan Meningkatnya Pengangguran Sebagai Dampak Artificial Intelligence

1607081038298611
Machine Learning: World Towards Technological Unemployment? (Sumber: Geospatial World)

Mahasiswa.co.id - Pada era industri 4.0 perkembangan artificial intelligence (AI) memberikan terobosan-terobosan yang inovatif mengikuti kondisi terkini. Pada 1950, seorang ahli matematika bernama Alan turing mengatakan bahwa kecerdasan buatan adalah sistem yang bertindak seperti manusia. Pengertian lain dari Rich (dalam Ertel, 2017:2) berkata bahwa Artificial Intelligence is the study of how to make computers do things at which, at the moment, people are better. Bisa disimpulkan bahwa Artificial Intelligence merupakan bidang di ilmu komputer yang menciptakan teknologi setara dengan kerja otak manusia seperti belajar, berpikir, menyelesaikan masalah dan masih banyak lagi. Dari pengertian itu sendiri dapat kita ketahui bahwa kehadiran AI menjadi solusi untuk menjawab berbagai masalah dalam kondisi masyarakat saat ini. Kecanggihan AI diimplementasikan di beragam bidang contoh terbarunya adalah GPT-4, Generative Adversial Networks (GANS), Explainable AI (XAI), Natural Language Processing (NLP), dan healthcare.

Menyaksikan peran baru AI di berbagai sektor kehidupan membuat terjadinya ketergantungan dalam penggunaannya. Di sisi positif, AI mampu mengcopy kecerdasan manusia dalam menyelesaikan berbagai tugas atau pekerjaan bahkan menggantikan manusia dalam pekerjaan tertentu sehingga lebih efektif dan efisien. Akan tetapi, ketika semua bergantung pada AI, adopsi ini dapat menggantikan pekerjaan manusia yang dapat dilakukan secara otomatis. Proses otomatisasi ini berdampak negatif pada tingkat pengangguran dan menyebabkan perubahan dalam pasar tenaga kerja. Keterampilan yang terus berubah dibutuhkan oleh manusia karena adanya perubahan cepat dalam teknologi serta kebutuhan pasar.

Pengaruh AI Pada Pekerjaan
Artificial Intelligence semakin canggih dalam mengotomatisasi tugas-tugas yang dilakukan oleh manusia, terutama sektor pekerjaan yang terdiri dari tugas-tugas rutin dan terstruktur. AI mampu menangani pekerjaan repetitif seperti pengisian data, analitis statistik, dan pengaturan jadwal sehingga memungkinkan adanya pengurangan human error. Teknologi AI yaitu gabungan dari machine learning dan deep learning memungkinkan untuk meningkatkan otomatisasi di berbagai industri dengan mengurangi kebutuhan intervensi manusia.

Ketika AI menggantikan tenaga kerja manusia, dampaknya terhadap ekonomi dan sosial menjadi nyata dan berkelanjutan. PHK massal akibat otomatisasi mengakibatkan konsekuensi sosial ekonomi yang serius. Ketika individu kehilangan pekerjaan karena otomatisasi, dapat terjadinya kehilangan pendapatan sehingga mengganggu stabilitas keuangan keluarga, meningkatkan tekanan mental, dan kemiskinan. Selain itu, menurut Ellingrud et al, di Amerika,  jika manusia yang terdampak tidak diatasi, dapat menyebabkan penurunan belanja konsumen, melemahkan perekonomian lokal dan berpotensi menyebabkan siklus penurunan ekonomi (2023). Situasi ini juga dapat meningkatkan tingkat kriminalitas serta kerusuhan sosial yang disebabkan oleh kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah untuk mengelola krisis pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi.

Manajemen Resiko
Manajemen Risiko adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi, menilai, dan memitigasi ancaman atau ketidakpastian yang dapat memengaruhi suatu industri (Gibson. 2023). Dalam konteks pengangguran yang meningkat akibat AI, manajemen risiko melibatkan strategi untuk mengurangi dampak negatif pada tenaga kerja dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang kerja baru.

Era digital bukan persoalan siapa atau tidaknya dalam menghadapi inovasi baru setiap harinya, akan tetapi ini merupakan sebuah konsekuensi yang harus kita jalani (Nur’aini et al. 2023). Kita harus proaktif dalam mengimplementasikan program pendidikan ulang dan kebijakan yang mendukung penciptaan lapangan dan pelatihan karyawan. Kolaborasi antar sektor perlu ditingkatkan untuk memastikan tenaga kerja dilengkapi dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri yang berkembang. McKinsey menekan pentingnya adaptasi ini, menyarankan bahwa tanpa upaya yang sinergis, banyak pekerja yang dapat terancam kehilangan pekerjaannya (2023). 

 Selain itu, kebijakan yang mendukung transisi ekonomi ke sektor berbasis teknologi tinggi dapat membantu mengurangi dampak negatif dari AI. Penguatan jaring pengaman sosial dan kebijakan fiskal yang mendukung teknologi baru adalah kunci. Kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta perlu ditingkatkan untuk memfasilitasi ini, memastikan bahwa transformasi ekonomi memberikan manfaat yang luas dan inklusif.

Melalui pendekatan manajemen risiko yang komprehensif, kita dapat memastikan bahwa era digital dan inovasi harian tidak hanya merupakan beban tapi juga membawa peluang baru untuk pertumbuhan dan inklusi.

Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Berkelanjutan
Dalam menghadapi tantangan yang dibawa oleh otomatisasi AI, peran pendidikan berkelanjutan menjadi sangat krusial. Menurut World Economic Forum, pendidikan yang adaptif dan inklusif merupakan kunci untuk mempersiapkan tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang cepat. Program pendidikan dan pelatihan harus dirancang untuk tidak hanya menawarkan keterampilan teknis, tetapi juga untuk mengembangkan kemampuan analitis dan kreatif yang memungkinkan pekerja beradaptasi dengan berbagai skenario kerja di masa depan.

Kerjasama antara institusi pendidikan, pemerintah, dan sektor swasta penting untuk memastikan bahwa kurikulum terus diperbarui dan relevan dengan kebutuhan industri. Inisiatif seperti beasiswa, kursus online gratis, dan program sertifikasi dapat membantu meningkatkan akses pendidikan. Dengan pendekatan yang berfokus pada kebutuhan individu dan industri, kita dapat menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya siap untuk tantangan hari ini tetapi juga mampu inovasi untuk masa depan. 

Penulis: Fairuz Rania Rafeyfa (Universitas Airlangga, FTMM, Teknik Industri)

Daftar Pustaka:
Ertel, Wolfgang. 2017. Introduction to Artificial Intelligence (2th ed). Germany: Springer International Publishing.
Ellingrud Kweilin, Saurabh Sanghvi, Gurneet Dandina, Anu Madgavkar, Michael Chui, Olivia White dan Paige Hasebe. 2023. Generative AI and the future of work in America. McKinsey Global Institute.
Nur’aini, S., L. Nazla, R. S. Agustina, S. N. Hanapiah, L. Marlina. 2023. Transformasi Era Digital: Peluang Menggali Pekerjaan dan Tantangan Terhadap Meningkatnya Pengangguran. Journal of Economics and Business 1 (2): 63-73.

 

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.