JurnalPost.com - Sebagai generasi digital natives yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, Gen Z punya kedekatan yang sangat intim dengan media sosial. Namun, kedekatan ini membawa tantangan baru. Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara berlebihan tanpa disadari. Aktivitas ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten sensasional sehingga memicu kecemasan dan overthinking. Ada beberapa faktor utama yang menjadi biang kerok fenomena ini:
  1. Negativity Bias (Bias Negatif): Kecenderungan otak manusia untuk lebih merespons ancaman dibanding hal positif demi bertahan hidup. Di era digital, hal ini justru membuat kita terpaku pada berita buruk.
  2. FOMO (Fear of Missing Out): Banyak orang merasa bahwa terus memantau perkembangan informasi adalah cara agar merasa siap menghadapi dunia.
  3. Faktor Kepribadian: Individu yang mudah cemas dan memiliki pengendalian diri yang lemah lebih mudah terjebak dalam doomscrolling, bahkan sering kali dilakukan secara otomatis tanpa kesadaran penuh.
Ada beberapa dampak domscrolling bagi mentalitas Gen Z Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan pengisi waktu, dampaknya bagi kesehatan sangat nyata:
  1. Merusak Jam Tidur: Kebiasaan ini mengganggu ritme sirkadian dan menurunkan produktivitas sehari-hari.
  2. Stres dan Kecemasan: Terlalu banyak menerima informasi negatif memicu stres, kecemasan, serta menurunkan perasaan positif.
  3. Perasaan Hampa: Sering kali seseorang menganggap ponsel sebagai "teman" untuk menghilangkan rasa hampa, yang justru menjebak mereka dalam perilaku adiktif dan menarik diri dari lingkungan sosial.
Mengatasi doomscrolling perlu pendekatan dari dua sisi:
  1. Pendekatan individu :
  2. Mindfulness (Kesadaran Penuh): Individu harus peka terhadap kondisi emosionalnya sendiri sehingga mampu menghentikan aktivitas scrolling ketika mulai merasakan dampak negatifnya.
  3. Membatasi Waktu: Tetapkan rutinitas harian, seperti membuat aturan jam bebas gadget sebelum tidur.
  4. Edukasi: Meningkatkan literasi digital mengenai cara kerja algoritma media sosial agar tidak mudah terjebak dalam konsumsi konten berlebihan.
  5. Pendekatan struktural :
  6. Regulasi Pemerintah: Mewajibkan platform untuk melaporkan cara kerja rekomendasi konten mereka.
  7. Rekayasa Algoritma: Memprioritaskan kualitas informasi di atas sekadar durasi tontonan.
  8. Peran Institusi: Menciptakan budaya atau aturan internal di organisasi yang mendukung kesehatan mental digital.
Kesimpulan Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan buruk individu, melainkan gabungan antara sifat psikologis manusia dan desain teknologi yang adiktif. Perlu adanya kesadaran dari diri sendiri untuk lebih bijak menggunakan media sosial, serta aturan dari platform digital agar tidak terus mendorong pengguna ke dalam kecanduan. Dengan begitu, Gen Z bisa memiliki hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital. Oleh : Ahmad Fauzhi Prodi Teknologi informasi UIN Walisongo Semarang.