Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pentingnya peran Empati Guru dalam Menciptakan Pembelajaran yang Nyaman dan Bermakna

Empati Guru

Mahasiswa.co.id “Adakah yang perlu ditanyakan? Atau masih ada yang belum dimengerti?” Pertanyaan itu terlontar dari seorang guru setelah ia menjelaskan materi kepada anak-anak didiknya. Keheningan menyelimuti kelas. Tak lama kemudian, beberapa suara saling bersahutan. Sebagian siswa menjawab dengan lantang, “Sudah paham.” Sedangkan sebagian lainnya hanya diam, kepala mereka tertunduk. Entah karena benar-benar sudah mengerti, atau justru belum memahami sama sekali. Tidak sedikit siswa yang memilih untuk tidak bertanya ataupun mengangkat tangan. Bukan tanpa alasan, tetapi karena ada rasa takut yang berkecamuk di dalam diri mereka. Akhirnya, rasa penasaran atas ketidakpahaman yang mereka rasakan pun tertahan, bahkan kalah oleh rasa takut itu sendiri.

Ketika siswa bingung dengan materi yang diberikan oleh guru, sering kali mereka takut untuk bertanya, dengan berbagai alasan yang muncul di dalam pikiran mereka: “Bagaimana jika aku ditertawakan oleh temanku?”, “Bagaimana jika pertanyaanku konyol?”, atau “Bagaimana jika guru marah karena aku tidak paham?”

Fenomena seperti ini bukanlah hal yang jarang terjadi. Banyak peserta didik yang mengalami hal tersebut dalam proses pembelajaran. Mereka sebenarnya ingin bertanya, namun merasa ragu dan takut untuk melakukannya. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri serta ketidaknyamanan di dalam kelas, sehingga semua itu bercampur menjadi rasa takut—takut akan salah, atau bahkan ditertawakan. Rasa takut tersebut bisa muncul dari beberapa faktor, seperti pengalaman sebelumnya, respons lingkungan, maupun sikap guru dalam menyikapi siswa. Dampaknya, banyak siswa yang merasa bosan dan tidak tertarik untuk belajar. Mereka mulai menganggap bahwa belajar adalah sebuah beban, bukan kebutuhan atau dorongan dari dalam diri.

Oleh karena itu, empati menjadi hal yang sangat penting bagi seorang pendidik. Empati merupakan kemampuan untuk memahami, merasakan, dan melihat dari sudut pandang siswa, seolah-olah menempatkan diri di posisi mereka. Dengan adanya empati, proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lebih kondusif dan nyaman bagi peserta didik.

Hal ini menjadi PR besar bagi para pendidik untuk menumbuhkan serta menghadirkan rasa empati terhadap anak-anak didik, sehingga tercipta suasana kelas yang membuat siswa merasa dihargai dan didengar. Dengan demikian, siswa akan merasa dipahami, bukan dihakimi ketika mereka belum mengerti.

Sikap empati tersebut tidak hanya sebatas pemahaman, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata seorang guru terhadap siswa. Salah satunya adalah tidak langsung marah ketika siswa melakukan kesalahan. Ketika peserta didik salah dalam menjawab pertanyaan atau lambat dalam memahami materi yang diberikan, diperlukan kesabaran serta rasa empati dalam menghadapinya. Seorang guru yang berempati tidak akan langsung menyalahkan, melainkan membimbing dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba kembali. Selain itu, penting bagi seorang pendidik untuk menyadari bahwa kemampuan setiap anak berbeda- beda.

Tidak hanya itu, sikap empati juga dapat terlihat dari bagaimana guru mendengarkan siswa. Memberikan ruang bagi siswa untuk berbicara serta tidak meremehkan pertanyaan maupun kesalahan mereka saat mencoba menjawab pertanyaan menjadi hal yang penting dalam proses pembelajaran. Tak jarang, banyak siswa memilih menahan rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba karena pengalaman sebelumnya ketika tidak dihargai saat jawabannya salah. Dalam hal ini, peran empati guru sangat diperlukan agar siswa merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam proses pembelajaran.

Tidak hanya itu, seorang guru juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan rasa empati pada peserta didik melalui sikap dan kebiasaannya di dalam kelas. Seperti halnya yang terlihat pada sebuah postingan Galih Sulistyaningra, seorang pendidik, content creator pendidikan, sekaligus pendiri komunitas Bekal Pendidik yang dikenal atas dedikasinya pada pendidikan dasar di Indonesia. Dalam postingan tersebut terlihat sikap sportif serta empati para siswa ketika salah satu teman mereka belum lancar membaca bilangan ribuan dan lambat dalam menjawab soal yang diberikan. Alih-alih mencemooh atau menertawakan, teman-temannya justru membantu untuk menjawab soal tersebut. Bahkan ketika siswa tersebut berhasil menjawab, mereka memberikan dukungan dengan bersorak dan merayakan keberhasilannya.

Dengan adanya empati dari seorang pendidik, suasana pembelajaran menjadi lebih nyaman dan terbuka. Siswa tidak lagi merasa takut untuk bertanya atau mengungkapkan ketidaktahuannya. Mereka menjadi lebih berani dalam mencoba dan tidak khawatir akan kesalahan yang mereka lakukan. Hal ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih aktif karena adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa di dalam kelas. Selain menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, empati dari seorang guru juga dapat menumbuhkan rasa empati dalam diri peserta didik. Siswa menjadi lebih memahami perasaan temannya, sehingga tidak mudah mengejek ketika ada yang kesulitan. Sebaliknya, mereka justru terdorong untuk saling membantu dan memberikan dukungan. Hal ini menciptakan lingkungan kelas yang lebih positif, di mana setiap siswa merasa diterima dan dihargai.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa rasa empati pada kepribadian setiap pendidik sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Empati tidak hanya menciptakan suasana kelas yang nyaman, tetapi juga membantu membentuk sikap saling menghargai antar peserta didik. Oleh karena itu, peran guru dalam menumbuhkan dan menghadirkan empati sangat diperlukan agar tercipta proses pembelajaran yang lebih bermakna dan positif bagi siswa.

Penulis: Khansadhiya Zulfa Nahdiyana, Mahasiswi STITMA Yogyakarta.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.