Oleh: Malina Nathania Kristiani
Mahasiswi Universitas Diponegoro
Mahasiswa.co.id - Di era digital saat ini, media sosial menjadi salah satu pendorong utama dalam perilaku belanja online, terutama di kalangan anak muda. Kegemaran belanja online tidak lagi hanya sebagai pilihan, tetapi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi masyarakat. Kebiasaan masyarakat berbelanja saat ini telah mengalami perubahan besar. Jika dahulu orang harus datang ke toko atau pusat pembelanjaan untuk membeli suatu barang, saat ini cukup melalui ponsel dan barang bisa langsung sampai ke rumah. Fenomena ini makin ramai seiring dengan perkembangan media sosial yang dijadikan sebagai tempat pemasaran dan transaksi ekonomi.
Dengan munculnya tren belanja online saat ini menjadi fenomena yang sangat ramai di masyarakat. Perkembangan ini tidak terjadi begitu saja, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Saat ini platform media sosial seperti Instagram, Tik Tok, X, dan YouTube telah menjadi platform yang paling banyak dikunjungi oleh anak muda. Dengan adanya hal ini para pelaku usaha akan lebih sering memposting atau sekadar mempromosikan dagangannya. Peran influencer juga dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam mendorong kenginginan penonton untuk membeli. Selain itu, promo menarik yang ditawarkan oleh platfrom seperti potongan harga, voucher gratis ongkir, cashback, dan lain sebagainya juga dapat memengaruhi pembeli untuk berbelanja lebih sering meskipun tidak terlalu membutuhkan barang tersebut.
Media sosial saat ini tidak hanya sebagai media hiburan dan interaksi, tetapi juga digunakan sebagai media pemasaran digital. Para pedagang atau pengusaha dapat memposting dagangannya melalui unggahan foto, video, live, ataupun tautan yang dapat langsung terhubung ke toko online. Platfrom media sosial juga memperkuat fungsinya dengan memunculkan iklan sesuai dengan minat dan ketertarikan pengguna. Seperti saat seseorang sering mencari atau melihat produk tertenu, maka konten iklan terkait produk tersebut akan sering muncul di beranda. Dari sinilah muncul kerja sama antara brand dan infuencer. Influencer berperan penting untuk membantu mempromosikan suatu produk, sehingga daya tarik konsumen untuk membeli mengalami peningkatan.
Fenomena belanja online di media sosial pastinya tidak lepas dari keinginan untuk mengikuti atau meniru gaya orang lain. Ketika seseorang melihat influencer, teman, atau publik figur lainnya menggunakan suatu produk, pastinya akan muncul keinginan untuk memiliki barang yang serupa agar dianggap “kekinian”. Dengan berbagai fitur digital yang mendukung pembelanjaan online tersebut membuat pembeli membeli barang bukan lagi karena kebutuhan tetapi lebih kepada keinginan untuk mendapatkan kepuasan tersendiri. Pengguna cenderung melakukan dengan sepontan tanpa pertimbangan dengan matang, sehingga tindakan ini dapat menyebabkan perilaku konsumtif.
Fenomena meningkatnya tren belanja online melalui media sosial tidak hanya membawa dampak positif, tetapi di sisi lain juga terdapat dampak negatifnya. Dari sisi positif, adanya media sosial dan e-commerce sebagai sarana promosi telah meningkatkan lapangan pekerjaan dan membuka peluang bisnis secara digital yang luas bagi masyarakat. Hal ini juga memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk dapat memasarkan produk mereka tanpa harus memiliki toko secara fisik dengan memanfaatkan fitur-fitur yang ada di dalam platfrom media sosial. Dengan adanya hal ini akan membantu pertumbuhan ekonomi sehingga mengalami perkembangan yang signifikan.

Komentar 0