Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Peran Pancasila dalam Membangun Karakter Generasi Muda yang Anti Perundungan

Anti Perundungan

Mahasiswa.co.id - Perundungan atau bullying telah menjadi salah satu masalah sosial yang terus terjadi di lingkungan sekolah. Meskipun banyak program anti-bullying telah diperkenalkan, perundungan dalam berbagai bentuk, khususnya verbal, tetap menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Dari hasil riset yang kami lakukan melalui wawancara dengan enam siswa dan kuisioner daring, hampir semua responden mengakui bahwa mereka pernah menyaksikan atau bahkan mengalami perundungan di sekolah.

Perundungan Verbal Masih Dominan
Hasil riset kami mengungkapkan bahwa perundungan verbal, seperti ejekan, hinaan, hingga pencemoohan, merupakan jenis perundungan yang paling sering terjadi. Bentuk perundungan ini cenderung lebih mudah dilakukan karena sering kali tidak dianggap serius oleh pelaku maupun saksi. Sayangnya, meskipun perundungan verbal mungkin tidak meninggalkan luka fisik, dampaknya terhadap kesehatan mental korban sangat signifikan.

Seorang siswa yang menjadi narasumber kami menceritakan, “Saya sering melihat teman saya diejek karena penampilannya yang berbeda. Dia menjadi lebih pendiam dan jarang bergaul setelahnya.” Pengalaman ini mencerminkan dampak psikologis yang dirasakan korban perundungan, seperti penurunan rasa percaya diri dan bahkan gangguan kecemasan. Beberapa siswa bahkan melaporkan adanya penurunan prestasi akademik akibat stres dan rasa tidak aman di sekolah.

Perundungan di Era Digital
Tidak hanya dalam interaksi tatap muka, perundungan kini juga merambah ke dunia digital. Era media sosial memberikan ruang bagi bentuk baru perundungan, yakni cyberbullying. Banyak responden dalam kuisioner daring kami mengungkapkan bahwa mereka menyaksikan perundungan terjadi melalui platform digital. Pelaku sering kali menggunakan media sosial untuk mengejek atau menyebarkan rumor mengenai korban, bahkan secara anonim, sehingga sulit untuk melacak pelaku dan menghentikan tindakan tersebut.

Salah satu responden menekankan, "Cyberbullying itu lebih parah karena tersebar cepat dan sulit dihentikan. Korban merasa tidak bisa lari dari penghinaan yang terus terjadi di media sosial.” Fenomena ini menunjukkan betapa seriusnya dampak teknologi dalam memperluas jangkauan perundungan.

Nilai-Nilai Pancasila sebagai Solusi
Dalam menghadapi masalah perundungan ini, sangat penting untuk kembali pada nilai-nilai luhur yang ada dalam Pancasila. Sebagai ideologi bangsa, Pancasila mengajarkan kita untuk saling menghargai dan hidup dalam keharmonisan. Sila Kedua, yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” memberikan landasan moral untuk menghormati martabat setiap individu. Perundungan jelas melanggar prinsip ini karena merendahkan dan melukai orang lain, baik secara fisik maupun psikologis.

Selain itu, Sila Ketiga, “Persatuan Indonesia,” mengajarkan pentingnya kebersamaan dan solidaritas. Perundungan sering kali terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Dengan menanamkan nilai persatuan di kalangan siswa, kita dapat mengajarkan mereka untuk saling mendukung dan melihat perbedaan sebagai hal yang memperkaya, bukan memecah belah. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peran penting dalam memperkuat penerapan nilai-nilai ini melalui program pengembangan karakter yang konsisten.

Membangun Karakter Anti-Perundungan
Membangun karakter generasi muda yang anti-perundungan adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman. Dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum dan kebijakan sekolah, siswa dapat dibekali dengan kesadaran moral yang kuat untuk menolak segala bentuk kekerasan dan perundungan. Empati dan penghargaan terhadap sesama menjadi kunci dalam mencegah perundungan, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.

Program-program seperti gotong royong, kerjasama kelompok, dan penguatan solidaritas dapat menjadi bagian dari strategi untuk membangun rasa kebersamaan di antara siswa. Ketika siswa merasa terhubung satu sama lain dalam semangat persatuan, mereka akan lebih cenderung untuk menolak perundungan dan membela teman yang menjadi korban.

Kesimpulan
Perundungan di sekolah, baik dalam bentuk verbal maupun digital, masih menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis dan sosial siswa sangat signifikan. Namun, melalui penerapan nilai-nilai Pancasila, kita dapat membentuk generasi muda yang lebih kuat, berempati, dan memiliki karakter yang menghargai perbedaan. Dengan upaya bersama dari sekolah, orang tua, dan masyarakat, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi semua siswa, tanpa ada ruang bagi perundungan.

Tim Penulis :
1. Caesa Silvia Agatha, mahasiswa Teknik Sipil, Fakultas Teknik USU.
2. Eko Fadilah Akbar, mahasiswa Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Pertanian USU.
3. Marcelino Zefanya Alinskie Saragi, mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU.
4. Fatimah, mahasiswa Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU.
5. Akbar Hakiki Barus, mahasiswa Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya USU.
6. Rudolf Neil Christaglow Sianipar, mahasiswa Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi USU.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.