Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Perseteruan Antara Negara Serumpun, Masih Jaman?

Negara Serumpun

MAHASISWA.CO.ID - Sebagai seseorang yang terlahir dalam lingkungan yang berbeda-beda, masyarakat Indonesia serta Asia seharusnya sudah terbiasa dengan toleransi. Bagaimana tidak? ASEAN saja punya slogan, The ASEAN Way. Namun tidak jarang, perseteruan antar negara yang serumpun ini sering sekali ditemui. Pasalnya, hingga hari ini, orang-orang Indonesia masih sering memiliki kesalahpahaman antara pakaian adat Minang yang dianggap “dicuri” oleh masyarakat Malaysia. Selain kebudayaan seperti ini, banyak sekali bukti nyata bahwa masyarakat Asia Pasifik atau masyarakat Asia secara keseluruhan belum bisa mencapai tingkat toleransi yang tinggi. Salah satu isu yang baru-baru ini menjadi fokus pembicaraan di jagat maya adalah keberadaan baju adat Negeri Sembilan yang menurut beberapa masyarakat “mencuri” kebudayaan adat Minang. Lalu, apakah hal tersebut benar adanya?

Negeri Sembilan secara geografis, berdekatan secara langsung dengan Sumatera Barat yang identik dengan budaya serta suku khas Minangkabau. Salah satu kebudayaan yang dibawa oleh masyarakat Minangkabau adalah budaya merantau, dimana mereka akan berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya dengan maksud tertentu. Tentu saja, masyarakat Minang yang merantau ini akan membawa kebudayaan asal daerahnya secara sadar atau tidak sadar. Makanya, tidak aneh jika kita melihat dari pakaian adat sampai rumah gadangnya pun masih sangat mirip, atau bahkan memang benar mereka punya darah keturunan Minang. Walaupun demikian, masyarakat Indonesia tidak boleh menyalahkan bahwa mereka memiliki kebudayaan Minang yang sangat terkenal di negara tersebut. Masyarakat Indonesia memang memiliki hak penuh terhadap kebudayaannya, namun itu bukan berarti masyarakat Minang tidak boleh menyebarkan adat istiadatnya di negara lain.

Pada dasarnya, segala bentuk klaim yang dibuat oleh masyarakat Malaysia tidak boleh diambil hati. Masyarakat Indonesia harus punya pendirian teguh bahwa ketika ada bangsa lain yang berusaha untuk menyamai kebudayaan lokal, kita seharusnya berbangga diri, karena mau kita setuju atau tidak, mereka sedang berusaha untuk menyamai Indonesia dalam perkembangan budayanya. Sebagai masyarakat Indonesia, kita juga harus berperan penting dalam perkembangan budaya yang semakin lama semakin tergerus oleh zaman. Beberapa tahun terakhir, banyak sekali klaim yang dibuat oleh negara lain yang menurut masyarakat Indonesia mencuri kebudayaan lokal. Namun, masyarakat Indonesia hanya bisa marah-marah dan tidak berusaha untuk melestarikannya. Kebudayaan yang dahulu dianggap cenderung kolot oleh anak muda, kini makin terlupakan karena adanya kebudayaan luar yang mungkin terlihat lebih menarik. Tetapi, ketika kebudayaan tersebut ingin dilestarikan serta di klaim oleh negara lain, masyarakat Indonesia termasuk yang paling duluan unjuk gigi.

Memang harus saya acungi jempol jika berbicara tentang usahanya, namun rasanya agak aneh ketika kebudayaan itu tampak terlupakan, hanya satu atau dua komunitas saja yang berusaha melestarikannya. Yang hanya bisa marah-marah kemana saja?

Itulah yang seharusnya dibenahi, semuanya bisa dimulai dengan menyukai serta mengenali sejarah juga mencari cara bagaimana bisa mengenali budayanya lebih dekat. Belajar dari para orang tua mengenai bahasa daerah yang menurut saya sudah makin hilang dihantam datangnya bahasa asing. Mari sudahi perseteruan dan berebutan kebudayaan serta adat, sudah tidak zaman. Sekarang, yang harus dipikirkan adalah bagaimana kita mengembalikan kebudayaan asli Indonesia agar tidak tergerus oleh digitalisasi. Sebagai masyarakat Indonesia, kita harus bisa meningkatkan literasi dan membudayakan riset sebelum klaim bahwa kebudayaan kita dicuri atau diikuti oleh negara lain. Tidak perlu lagi perseteruan antar negara serumpun maupun menggunakan kata-kata yang tidak baik maupun aksi impulsif. Yang perlu dilakukan adalah masyarakat Indonesia harus menunjukkan pada dunia bahwa kebudayaan tersebut milik kita dan kita berani untuk melestarikannya.

Penulis: Aziizah Ika Meichella
Mahasiswi Universitas Padjadjaran

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.