Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Personal Branding, Validasi Mahasiswa dalam Mencari Jati Diri

Validasi Mahasiswa

Mahasiswa.co.id - Di tengah masifnya perkembangan sosial media, masyarakat tak segan untuk membagikan berbagai macam momen berharga di sosial media yang beragam seperti Instagram, X, dan LinkedIn. Salah satunya adalah mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan tinggi. Saat ini, tengah terjadi fenomena sosial yang sedang marak di kalangan para remaja, terutama mahasiswa yang berkompetisi dengan berkiprah pada banyak kegiatan dikarenakan rasa takut akan ketertinggalan mereka atas suatu pencapaian yang telah dicapai oleh teman sebaya. Fenomena ini seringkali dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out) pada pembentukan jati diri atau personal branding melalui sosial media yang disebabkan oleh ketatnya tingkat kompetisi antar mahasiswa pada masa kini. Para mahasiswa berlomba-lomba untuk mendapatkan kesan dan pandangan baik dari audiens di sosial media dan mereka seringkali show-off terhadap bakat pula aktivitas yang tengah mereka lakukan tanpa mengetahui konsekuensi yang mengintai jikalau mereka lalai pada satu kewajiban atas kegiatan yang sedang dilakukan.

Salah satu permasalahan yang terjadi adalah para mahasiswa memiliki kecenderungan untuk beraktivitas melebihi kapasitas diri dan waktu yang tersedia, sehingga tak jarang mereka lupa maupun tidak fokus terhadap satu kegiatan. Hal ini menyebabkan para mahasiswa kehilangan tanggung jawab dalam menyelesaikan apa yang mereka mulai dan hanya nama yang tertera pada tiap kegiatan yang dilakukan tanpa adanya kontribusi nyata pada organisasi atau hal tertentu. Dampak negatif lain adalah para mahasiswa dapat kehilangan fokus dan memiliki kecenderungan untuk meninggalkan kewajiban utama yaitu pembelajaran di bangku perkuliahan.

Fenomena di atas tercipta sejak sosial media mulai berkembang dan berevolusi sebagai tolak ukur seleksi dunia pekerjaan oleh berbagai macam perusahaan besar yang seringkali melakukan background checking kandidat melalui sosial media seperti Instagram dan LinkedIn sehingga terciptanya lingkungan dengan tingkat kompetisi yang melambung tinggi dan menyebabkan mahasiswa memiliki ketakutan apabila tidak memiliki pengalaman apapun dalam fase background checking oleh perusahaan. Tak jarang, hal ini pula dapat menimbulkan hustle culture yang tidak sehat di lingkungan mahasiswa dan menyebabkan mereka berbondong-bondong untuk mendapatkan pengalaman sebanyak apapun ketika di dunia perkuliahan dengan mengikuti beragam kegiatan organisasi sosial maupun magang. Dikarenakan oleh hal ini, para mahasiswa berkompetisi untuk memperbaiki sosial media sebagai wadah yang digunakan untuk membangun personal branding dengan hanya membuat story atau sekadar unggahan yang berkaitan dengan apapun yang mereka lakukan, dan di lain sisi tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan seperti absen pada satu kegiatan untuk bergabung di kegiatan lain atau tidak mengikuti perkuliahan sebagaimana tujuan awal mereka untuk menempuh pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.

Kelalaian mahasiswa dalam menjalankan kewajiban di bangku kuliah menjadi salah satu fokus utama pada era sekarang. Mereka cenderung lupa untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai sejak awal yaitu belajar. Seringkali para mahasiswa mengabaikan tugas perkuliahan dan terlalu berfokus pada kegiatan luar yang menyebabkan rendahnya nilai Indeks Prestasi Semester maupun Indeks Prestasi Kumulatif di tiap semester. Tak jarang pula banyak mahasiswa yang lalai untuk memberikan jeda istirahat kepada diri sendiri yang berujung pada banyaknya kasus mahasiswa tumbang pada saat perkuliahan.Beberapa dari mereka lalai akan tujuan awal ketika memasuki fase perkuliahan yaitu relasi yang baik dan efektif maupun nilai yang maksimal di dunia perkuliahan.

Pembuktian dari kasus lalainya mahasiswa dalam menjalin relasi yang baik dapat dilihat dengan banyaknya mahasiswa yang berlomba untuk mengunggah semua aktivitas yang sedang dilakukan di sosial media sehingga tercipta kesan ‘produktif’ namun di lain sisi mereka hanya melakukan hal tersebut sekadar untuk mendapatkan pujian sebagai manusia atau mahasiswa yang ‘ambisius’ tetapi nyatanya sangat berbanding terbalik.

Ditemukannya banyak mahasiswa yang ‘mangkir’ atau absen dari kelas maupun organisasi tertentu menjadi bukti bahwa mereka lupa akan tujuan utama di bangku perkuliahan sehingga menyebabkan kurangnya efektivitas peran mereka dalam organisasi atau kegiatan perkuliahan. Tentunya, hal ini juga menyebabkan terjadinya ‘rangkap jabatan’ dalam dunia organisasi bagi orang-orang tertentu yang dapat membuat seseorang memberikan kesan buruk terhadap mahasiswa yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya dan tetap aktif di sosial media agar tetap mendapatkan validasi serta klaim sebagai mahasiswa produktif. Sikap-sikap di atas menjadi salah faktor kehancuran “Personal Branding” yang telah mereka ciptakan sebaik mungkin dan berujung pada tidak adanya kemampuan yang dicapai ataupun relasi yang didapatkan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dunia perkuliahan amat bermanfaat dan memiliki banyak peluang untuk memperbaiki diri. Jika para mahasiswa melakukan semua hal dengan baik dan sesuai dengan kapasitas diri, maka mereka dapat memenuhi semua tanggung jawab dan tujuan awal ketika mereka memasuki bangku perkuliahan. Namun, ada beberapa mahasiswa yang melupakan tanggung jawab utama dan memilih untuk mengabaikan apa yang menjadi kewajiban. Mengikuti banyak organisasi sangat baik dan bisa disebut produktif, tetapi dengan catatan dapat menyelesaikan apa yang telah dimulai secara maksimal agar tidak terciptanya perasaan gengsi maupun kecil hati dan berujung pada pencarian jati diri melalui validasi dari orang lain.

Oleh: Ferreira Radyana
Mahasiswi Universitas Diponegoro, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Administrasi Publik

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.