Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pindah ke Digital, Tetap Jangan Lupa Budaya

Pindah ke Digital, Tetap Jangan Lupa Budaya

OPINI: MOEHAMMAD ABDOE

Mahasiswa.co.id - Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena digitalisasi di Indonesia berkembang dengan pesat. Mulai dari transaksi keuangan hingga pendidikan, hampir segala sesuatu kini bisa diakses dengan mudah melalui perangkat digital. Ini adalah kemajuan luar biasa. Namun, di balik perkembangan tersebut, muncul sebuah dilema yang sering terlupakan: apakah kita terlalu terbuai oleh modernisasi dan lupa akan pentingnya menjaga warisan budaya kita?

Sebagai orang Jawa, saya merasa khawatir bahwa budaya tradisional kita mulai terkikis oleh derasnya arus digital. Dulu, komunikasi antar sesama dilakukan dengan tatap muka, di warung kopi atau di rumah tetangga, bercengkerama dengan berbagai cerita dan filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun. Namun, kini, interaksi tersebut perlahan digantikan oleh aplikasi pesan instan dan media sosial yang menawarkan kenyamanan dan kecepatan tanpa memedulikan makna di balik kata-kata yang disampaikan.

Dalam dunia pendidikan, digitalisasi memang memudahkan akses ke sumber daya yang lebih luas. Namun, apakah kita juga sedang kehilangan sentuhan manusiawi dalam cara kita mengajar dan belajar? Seperti yang dikatakan oleh para pengamat pendidikan, “Kecanggihan teknologi tidak boleh membuat kita lupa pada kualitas hubungan antar manusia yang menjadi esensi dari proses pendidikan itu sendiri” (Kompas, 2024). Di sini, saya melihat sebuah ketegangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai budaya yang sudah lama tumbuh di tanah air kita.

Digitalisasi tidak hanya memengaruhi sektor pendidikan, tetapi juga budaya konsumsi kita. Ketika kita disuguhkan oleh berbagai produk atau tren melalui media sosial, kita sering kali merasa perlu mengikuti perkembangan terbaru. Produk-produk modern sering kali dipandang lebih bergengsi daripada barang-barang tradisional, seperti batik, atau kerajinan tangan lokal. Padahal, batik dan kerajinan tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga filosofi hidup yang mendalam. Menurut Budayawan Emha Ainun Nadjib, “Batik itu bukan hanya kain, tapi juga cerminan filosofi hidup bangsa ini yang penuh dengan simbol, makna, dan filosofi keindahan” (Ainun, 2024). Jika kita hanya menilai berdasarkan kepraktisan atau kemewahan, kita mungkin kehilangan kekayaan budaya tersebut.

Ada juga persoalan yang lebih serius, yakni pemanfaatan teknologi dalam dunia seni dan budaya. Misalnya, saat ini banyak seniman yang menggunakan media digital sebagai alat ekspresi mereka, namun sering kali ada kesan bahwa mereka meninggalkan teknik atau bentuk seni tradisional yang lebih autentik. Digitalisasi bisa membuat seni lebih mudah dijangkau oleh banyak orang, tetapi itu juga bisa menciptakan kesenjangan antara seni tradisional dan kontemporer. Sebagai contoh, kita melihat betapa pesatnya perkembangan musik digital dan video yang lebih populer, sementara seni pertunjukan tradisional seperti wayang kulit atau karawitan semakin terpinggirkan. “Budaya digital memang membuat seni lebih universal, tetapi tidak bisa menutupi bahwa seni tradisional kita memiliki kekuatan magis yang tak tergantikan oleh layar” (Suryaningsih, 2024).

Saya percaya bahwa kita masih bisa menemukan jalan tengah yang menguntungkan kedua sisi. Teknologi dan budaya tradisional bisa hidup berdampingan, asalkan kita bijak dalam memanfaatkannya. Contohnya, beberapa seniman kini memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan budaya Jawa ke seluruh dunia, dengan cara yang inovatif. Banyak karya seni tradisional yang dipromosikan melalui media sosial, menarik minat generasi muda untuk belajar lebih jauh tentang budaya mereka. “Dengan menggunakan teknologi, kita bisa memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia tanpa kehilangan akar budaya kita” (Jaya, 2024). Ini adalah bukti bahwa digitalisasi, jika digunakan dengan bijak, justru bisa menjadi sarana untuk melestarikan budaya.

Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat juga harus mengambil langkah konkret untuk menjaga keseimbangan ini. Kebijakan yang mendorong pengembangan teknologi dengan tetap melibatkan nilai-nilai budaya lokal sangat penting. Pemerintah, misalnya, bisa mendukung pengembangan aplikasi yang mengintegrasikan pelajaran tentang budaya lokal, seperti bahasa daerah atau seni tradisional, dalam bentuk yang lebih interaktif. Sementara itu, masyarakat juga perlu kembali menghidupkan ruang-ruang budaya lokal, seperti pendopo atau balai desa, untuk kembali menjadi pusat berkumpulnya orang-orang dalam berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, digitalisasi bukanlah ancaman bagi budaya kita, asalkan kita memiliki kesadaran kolektif untuk tetap menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur. Jika kita bisa menggabungkan kemajuan teknologi dengan kebijaksanaan budaya, maka kita dapat menciptakan masa depan yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga kaya akan makna dan nilai budaya. Inilah jalan yang harus kita tempuh agar tidak kehilangan identitas di tengah derasnya arus modernisasi.

Moehammad Abdoe, lahir di Malang, pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka, adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa cerita pendek, puisi, dan esai yang beredar di sejumlah surat kabar antara lain Kompas, Koran Tempo, Suara Merdeka, Republika, Jawa Pos Group, dan lain-lain.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.