Mahasiswa.co.id - Sekolah Rakyat hadir dengan janji besar: memutus rantai kemiskinan, memberi akses pendidikan gratis, lengkap dengan asrama, makan bergizi, dan susu untuk anak-anak miskin ekstrem. Pemerintah menyebutnya sebagai harapan baru, bahkan investasi bagi Indonesia Emas 2045. Namun, mari berhenti sejenak. Apakah benar Sekolah Rakyat adalah ruang pembebasan? Ataukah ia hanyalah wujud lain dari politik amal, di mana rakyat miskin ditempatkan sebagai objek belas kasihan negara? Lebih jauh lagi, apakah sekolah semacam ini justru menjadi mesin penjinakan yang membungkus kemiskinan agar tetap ada, namun terkendali?
Pendidikan, Hak atau Amal Kekuasaan?
Secara konstitusi, pendidikan adalah hak, bukan hadiah. Pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan pemerintah wajib membiayainya. Namun narasi resmi Sekolah Rakyat lebih condong ke logika amal: negara memberi, rakyat menerima. Inilah yang disebut politik amal: tindakan yang tampak sebagai kebaikan, tapi sejatinya memperkuat posisi kuasa. Michel Foucault dalam analisisnya tentang kekuasaan menjelaskan bahwa institusi sering kali hadir bukan untuk membebaskan, melainkan untuk mengatur tubuh dan jiwa manusia. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tapi mekanisme pengendalian.
Dengan membangun sekolah khusus untuk anak miskin, negara tanpa sadar sedang berkata: kemiskinan itu normal. Alih-alih dihancurkan dari akar strukturalnya melalui reformasi agraria, kebijakan upah layak, atau pemerataan ekonomi kemiskinan justru “ditampung” dalam institusi pendidikan khusus. Ivan Illich dalam Deschooling Society menulis bahwa sekolah bisa menjadi instrumen yang justru melanggengkan ketidaksetaraan. Alih-alih menghapus kesenjangan, sekolah membuat kemiskinan menjadi “masalah teknis” yang cukup dikelola dengan memberi akses terbatas, tanpa menyentuh struktur penyebabnya. Sekolah Rakyat, dalam logika ini, berfungsi sebagai arsip sosial kemiskinan menyimpan yang miskin, bukan menghapuskan kemiskinan.
Dari Pendidikan Pembebasan ke Pendidikan Penjinakan
Paulo Freire menyebut pendidikan yang menempatkan murid sebagai objek sebagai banking education di mana anak didik hanya menerima pengetahuan yang ditransfer dari atas tanpa ruang kritis. Pendidikan semacam ini tidak membebaskan, melainkan menjinakkan. Jika Sekolah Rakyat dijalankan dengan kurikulum top-down, maka ia hanya melahirkan generasi pekerja yang patuh, bukan warga negara yang kritis. Mereka diberi fasilitas, diberi makanan, tetapi juga diberi identitas: kalian adalah “yang miskin, yang ditolong”. Inilah kontradiksi fatal: pendidikan yang seharusnya memerdekakan justru menanamkan rasa ketergantungan.
Data menunjukkan, pembangunan satu Sekolah Rakyat menelan biaya hingga Rp100 miliar. Padahal, laporan Kemendikbudristek tahun lalu mencatat lebih dari 148 ribu sekolah negeri dalam kondisi rusak. Logika efisiensi menimbulkan pertanyaan: apakah lebih baik membangun sekolah baru untuk segelintir anak miskin, atau memperbaiki ratusan ribu sekolah rusak agar jutaan anak mendapat manfaat? Tetapi persoalannya bukan sekadar angka. Pembangunan sekolah baru adalah politik visual lebih mudah dipamerkan ketimbang memperbaiki sekolah lama. Gedung baru adalah monumen kekuasaan. Ia memberi kesan nyata tentang “kepedulian”, padahal yang diutamakan hanyalah pencitraan. Pendidikan direduksi menjadi proyek infrastruktur, bukan proses pembentukan kesadaran.

Komentar 0