Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Seragam Crop Top Siswi Berhijab: Sudut Pandang Seorang Mahasiswi Tata Busana

Seragam Crop Top
Sumber Gambar: Pinterest

Penulis : Anisa Rahmawati
Universitas Negeri Yogyakarta
Program Studi Pendidikan Tata Busana

Mahasiswa.co.id - Sebagai mahasiswi dari jurusan Tata Busana, saya sering memerhatikan bahwa pakaian bukan hanya media pelindung tubuh, tapi juga media mengekspresikan diri. Bahkan seragam sekolah yang konsepnya dibuat untuk menyamakan identitas. Fenomena siswi SMA berhijab yang memodifikasi seragam menjadi crop top merupakan salah satu contoh menarik. Bagaimana mode, identitas, norma sosial, dan religiusitas saling terhubung dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, keinginan modifikasi itu bisa dipahami. Remaja sedang berada di fase eksplorasi, di mana mereka ingin terlihat menarik, punya gaya, dan memiliki ciri khas. Mereka hidup di era media sosial dimana tren menyebar dengan cepat. Ketika para influencer atau publik figure mengenakan crop top dalam kehidupan sehari-hari, banyak remaja terutama wanita yang merasa tertarik untuk meniru. Mereka ingin tampil berbeda tanpa meninggalkan identitas sekolah. Maka terjadilah sugesti mengenai seragam tetap rapi, tapi dipendekkan agar terlihat kekinian.

Namun, sebagai seseorang mahasiswi di bidang tata busana, saya juga memahami bahwa pakaian bukan hanya tentang keindahan visual. Tidak hanya persoalan tentang mengenakan pakaian. Tapi juga bagaimana cara berpakaian menyampaikan kepribadian dan nilai diri kita. Ketika siswi berhijab mengenakan seragam yang dimodifikasi menjadi crop top, ada pesan ganda yang muncul terlepas dari niat pribadi mereka. Di satu sisi, hijab adalah simbol nilai kesopanan dan komitmen pada etika beragama. Di sisi lain, crop top adalah gaya yang identik dengan tampilan kasual dan modern, yang sering diasosiasikan dengan kebebasan berbusana tanpa batas formal.

Ketika keduanya dipadukan, sebagian masyarakat melihatnya sebagai pertentangan nilai. Tetapi menurut saya, persoalannya tidak hanya sekadar soal benar atau salah. Fenomena ini mengenai remaja yang sedang mencari jati diri di tengah mode dan norma sosial. Keinginan untuk tampil menarik Itu hal yang wajar dan manusiawi. Tapi perlu diperhatikan kesadaran mengenai kapan, di mana, dan bagaimana gaya berpakaian sebaiknya diterapkan. Seragam sekolah memiliki fungsi sosial untuk menjaga kesetaraan dan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Setiap institusi memiliki nilai yang wajib dihormati, sebagaimana siswa menghormati guru dan aturan lainnya. Dengan kata lain, berpakaian bukan hanya soal cantik atau kekinian, tetapi juga soal etika.

Saya pernah melihat komentar-komentar di media sosial mengenai topik ini, sayangnya, banyak komentar yang bernuansa menghakimi, baik kepada para siswi, pakaian, hijab, maupun etikanya. Bagi saya, ini sama-sama tidak adil. Remaja melakukan eksplorasi gaya bukan hanya karena mereka tidak bermoral, tetapi karena mereka sedang belajar menemukan identitas. Sementara itu, hijab sebagai simbol religius juga tidak pantas dijadikan objek cibiran hanya karena ulah segelintir individu. Yang dibutuhkan bukan sebuah kecaman, tetapi edukasi.

Dunia fashion sendiri sebenarnya mengajarkan keseimbangan antara kreativitas dan konteks. Busana pesta cocok saat dipakai di pesta, tetapi tidak cocok untuk wawancara kerja. Pakaian olahraga nyaman digunakan di gym, tapi tidak pantas untuk menghadiri pertemuan formal. Demikian pula, gaya crop top bisa sangat cocok jika dikenakan pada waktu dan tempat yang sesuai, tapi ketika diaplikasikan pada seragam sekolah, terutama dengan hijab, nilai konteks menjadi sangat penting.

Menurut saya, sekolah perlu memberikan ruang berdialog yang sehat. Aturan berpakaian tidak cukup hanya ditulis di buku tata tertib. Para siswi perlu diberi edukasi untuk memahami filosofi di baliknya. Ketika mereka mengerti bahwa cara berpakaian mencerminkan harga diri dan profesionalisme, mereka akan dewasa secara moral.

Sebaliknya, para siswi juga berhak menyampaikan pandangannya. Mungkin ada keinginan untuk memperbarui desain seragam agar lebih nyaman dan lebih disukai. Jika sekolah membuka ruang untuk diskusi, bisa jadi lahir desain seragam baru yang tetap sopan, rapi, tetapi lebih relevan dengan generasi muda. Itulah esensi tata busana yang memadukan fungsi, estetika, dan etika.

Pada akhirnya, saya tidak melihat fenomena seragam crop top sebagai krisis moral, melainkan sebagai cermin kebutuhan remaja untuk didengarkan dan dibimbing. Bimbingan bukan berarti mengekang kreativitas, tetapi mengarahkannya agar selaras dengan etika. Remaja tidak perlu dibiarkan sepenuhnya bebas, tetapi juga tidak perlu ditekan tanpa penjelasan. Mereka cukup diberi ruang berekspresi dengan batasan yang tetap menghormati nilai diri, institusi, dan agama.

Sebagai seorang mahasiswi tata busana, saya percaya gaya berpakaian dapat menjadi jembatan antara identitas dan nilai, bukan arena konflik. Ketika mode dipahami, bukan sekadar diikuti, seseorang akan mampu tampil indah tanpa kehilangan martabat. Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari fenomena ini bukan hanya bagi para siswi SMA, tetapi bagi kita semua yang sedang belajar memahami dunia busana dengan lebih bijak.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.