Spiritual Serenity, Perlukah Untuk Generasi Strawberry?
Oleh Lana Laila
Mahasiswa.co.id - Halo sobat! kali ini kita akan membahas tentang generasi strawberry, kira-kira apa sih generasi strawberry itu? Dari bentuk dan warnanya, strawberry itu menawan. Namun, di balik keindahannya, ia ternyata begitu rapuh. Permukaan luarnya mudah rusak meski disikat (dibersihkan) dengan sikat gigi yang begitu lembut. Itu adalah ilustrasi dari generasi strawberry, sebuah subset dari suatu generasi yang rapuh meski terlihat indah, mudah hancur dan sakit hati. Singkatnya adalah mereka yang sering mengatakan butuh healing, baru berhasil sedikit sudah self reward, dapat tekanan sedikit sudah mengeluh merusak mental health.
Kondisi diatas terjadi karena masih banyak anak muda terutama pelajar yang minim pengetahuan tentang spiritual serenity. Ya, spiritual serenity adalah rasa tenang dan tentram karena mengingat dan berkeyakinan penuh kepada Allah. Tentu saja hal ini perlu ditanamkan untuk mengontrol emosi dan gelisah yang sangat melekat pada generasi strawberry. Karena sejatinya sebagai pelajar harus mempunyai sifat dan karakter untuk menghidupkan ketenangan jiwa.
Dibalik kelemahan diatas, ternyata ada kelebihannya, lho! generasi strawberry ternyata unik, lebih terbuka, dan kreatif. Dalam benaknya tersimpan banyak sekali gagasan, kritis dengan kemampuan connecting the dots yang begitu luwes. Bagaimana sih agar kita menjadi generasi strawberry yang tangguh dan sukses? Berikut adalah tipsnya, simak yuk!
Pertama, belajar bersabar. Sebuah kesuksesan itu memerlukan proses yang panjang dan berliku untuk digapai. Sikap generasi strawberry yang cenderung malas membuat mereka akhirnya sering menyerah di tengah jalan. Belajar bersabar adalah salah satu kiat yang sebaiknya kamu lakukan. Bersabar mengajarkan kita untuk lebih tenang dan tidak terburu-buru. Ikuti alur setiap proses dengan penuh kesabaran. Alhasil, kesuksesan akan lebih mudah didapatkan. Semua tidak ada yang instan, ya.
Selanjutnya, meningkatkan keterampilan sosial. Generasi strawberry cenderung bergantung pada teknologi. Semua yang dilakukan sepertinya tidak bisa lepas dari gadget. Nah, ketergantungan ini akhirnya membuat mereka kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar padahal sebagai makhluk sosial kita juga membutuhkan bantuan orang lain. Terlebih lagi sering berselancar di dunia maya akan membahayakan akhlak seseorang karena banyak hal-hal negatif tidak bisa kita filter. Jangan sampai ketergantungan teknologi ini membuat kita menjadi egois dan buruk akhlak sehingga melupakan kewajiban kita sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial.
Kemudian, belajar untuk mandiri. Kita tidak bisa selamanya bergantung pada orang lain. Pada masa tertentu kita dituntut untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan sendiri. Generasi strawberry yang dikenal manja dianggap sulit untuk melakukan hal ini karena sudah terbiasa bergantung pada orang tua. Belajar mandiri bisa dilatih sedini mungkin, lho! Dengan begitu, sikap itu akan terbawa sampai mereka dewasa. Jangan terlalu suka dimanjakan!
Selain itu, mau belajar dari kesalahan. Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Orang sukses pun juga seringkali mengalami berbagai kegagalan dalam perjalanan hidupnya. Berbagai macam kegagalan yang dialami malah membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Namun, mengulangi kesalahan yang sama adalah suatu hal yang sebaiknya dihindari. Momen ini harusnya mendorong kita untuk terus mengevaluasi diri. Tidak perlu takut gagal karena dibalik itu ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan.
Terakhir, punya tekad yang kuat dan tidak mudah terintimidasi. Generasi strawberry memang cenderung suka akan tantangan serta berusaha untuk selalu update dengan perkembangan zaman. Sebenarnya, karakter ini sangat bagus dalam dunia modern saat ini. Namun, hal itu justru dapat menjadi bumerang bagi mereka. Mereka menjadi sulit untuk menemukan jati diri karena sangat mudah tergiur akan banyaknya hiburan. Salah satu contoh kasus yang fenomenal saat ini adalah K-Pop. Para muslimah berbondong-bondong mengidolakan sosok artis terkenal padahal banyak hal yang bertentangan dengan agama. Remaja mudah ikut-ikutan tren idola sehingga lupa jati dirinya sebagai muslim. Begitu pula remaja menyukai gambar kartun-kartun anime yang kebanyakan tidak mencerminkan ajaran agama.
Untuk itu, perlu memiliki tekad kuat dalam mencapai suatu kesuksesan. Jangan mudah terpengaruh akan hal-hal yang berpotensi membawa dirimu ke arah yang negatif. Setiap generasi, apa pun itu istilahnya mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Jangan terlalu memikirkan image buruk akan generasi strawberry yang dibangun oleh lingkungan sekitar. Justru buktikan jika kamu mampu menjadi salah satu bagian dari orang sukses tersebut. Ingat, kesuksesan itu ditentukan oleh diri sendiri bukan orang lain.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0