Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Standar Hidup Produktif yang Semakin Mengekang Gen Z

Standar Hidup
Sumber: Penulis Gen Z tetap produktif bahkan saat di ruang publik

Oleh: Refalia Nurizka
Mahasiswa Universitas Brawijaya

Mahasiswa.co.id - Di era digital dengan penggunaan media sosial yang semakin intens, algoritma memunculkan berbagai konten baru yang memenuhi beranda, termasuk konten self branding. Konten seperti “productive day in my life”, rutinitas kerja, hingga dokumentasi suatu kegiatan menjadi salah satu jenis unggahan yang paling sering muncul. Melalui konten tersebut, para konten kreator tidak hanya membagikan kegiatan mereka, tetapi juga menghadirkan gambaran gaya hidup yang seolah ideal. Hal ini menggambarkan bahwa produktivitas telah menjadi identitas baru yang ingin ditampilkan kepada publik. Unggahan story Instagram tentang kesibukan dan pencapaian semakin marak dilakukan seolah telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi seseorang. Ini adalah bentuk budaya baru di era digital khususnya pada generasi millenial dan generasi Z yang mengedepankan produktivitas.

Aktivitas produktif pada dasarnya merupakan sesuatu yang positif, apalagi untuk generasi muda yang sedang berada dalam masa produktifnya. Namun ketika hal tersebut menjadi standar penilaian sosial, produktivitas dapat berubah menjadi tekanan. Sehingga produktivitas menjadi sebuah kompetisi, bukan lagi kebutuhan. Akibatnya, seseorang akan cenderung merasa bersalah jika tidak melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat atau dianggap buang-buang waktu. Tanpa sadar, pola hidup produktif ini sudah menjadi standar “keren/terlihat ambis” nya Gen Z saat ini. Bahkan bukan lagi sebagai tren, melainkan sudah menjadi gaya hidup dan nilai diri. Dalam bahasa gaul, fenomena ini disebut dengan istilah hustle culture/workaholic.
Menurut Menteri Ketenagakerjaan, Hustle Culture dapat diartikan standar di masyarakat yang menganggap bahwa seseorang hanya bisa mencapai sukses jika benar-benar mendedikasikan hidup untuk pekerjaan dan bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan diatas segala-galanya.

Hustle Culture Dibayar Dengan Kesehatan Diri
Kelompok yang menganut Hustle culture sering kali bekerja secara terus-menerus tanpa ingat waktu, sehingga memandang istirahat seperti tidur dan makan dianggap sebagai hal yang tidak produktif karena membuang waktu. Dalam budaya ini, pola tidur yang berantakan akibat overwork sering dinormalisasi dan dianggap wajar oleh masyarakat. Bahkan dipuja puja karena dipandang sebagai seorang yang pekerja keras dan rajin. Padahal berbagai penelitian pada dekade terakhir mengidentifikasi pola tidur sebagai faktor risiko kesehatan fisik dan mental. Jam kerja panjang menyebabkan stress, meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Pada tahun 2016, World Health Organization (WHO) dan International Labour Organization (ILO) mencatat jam kerja panjang lebih dari 55 jam atau lebih per minggu menyebabkan sekitar 745.194 kematian akibat stroke dan penyakit jantung secara global.

Hustle culture biasanya juga identik dengan burnout. WHO pada tahun 2019 secara resmi mengakui burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan tekanan dalam dunia kerja dan memasukkannya ke dalam ICD-11. Dalam Journal of Applied Psychology (2022) membuktikan penderita burnout memiliki risiko 2,7 kali lebih tinggi mengalami depresi yang berpotensi menuju masalah kesehatan mental yang lebih serius dan butuh bantuan professional.

Algoritma Media Sosial yang Membentuk Gaya Hidup Masyarakat
Banyak Gen Z yang merasa tertekan ekonomi yang semakin kompetitif saat ini menjadi salah satu alasan mereka untuk bekerja terlampau keras. Kondisi ini menuntut mereka mau tidak mau harus beradaptasi, dan selalu upgrade skill agar tidak tertinggal dari teman-teman dengan segala pencapaiannya di media sosial dan secara tidak langsung membuat dorongan dalam diri untuk harus mencapai sesuatu juga. Seringkali disebut sebagai FOMO (Fear Of Missing Out), dimana mereka hanya takut tertinggal dari teman-teman yang sudah magang di perusahaan multinasional, ikut conference internasional, dan punya peran besar dalam organisasi di kampus. FOMO bukan sekadar kecemasan sosial, melainkan kekhawatiran bahwa seseorang dianggap kurang berkompeten jika tidak memiliki pencapaian serupa. Akhirnya mereka berusaha untuk mengejarnya dengan membangun self-branding di akun sosial media pribadi. Akibatnya, banyak anak muda membangun citra sebagai individu yang produktif dan kompeten melalui unggahan kegiatan yang menurut mereka bermanfaat.

Media sosial dan algoritma nya, saat ini seakan-akan telah menguasai dan membentuk perilaku masyarakat. Hal ini sebenarnya juga membuktikan bahwa algoritma media sosial dan lingkungan sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk fenomena hustle culture di kalangan generasi muda saat ini. Dalam perspektif sosiologi kesehatan, fenomena ini dapat dijelaskan melalui Model Determinan Kesehatan Dahlgren & Whitehead (1991). Model ini menunjukkan bahwa kesehatan tidak hanya dipengaruhi faktor biologis yang berasal dari dalam diri individu saja, tetapi juga oleh faktor-faktor non medis lainnya seperti faktor sosial, lingkungan, dan tekanan ekonomi yang justru memiliki pengaruh besar dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Karena itu, dalam konteks hustle culture, dorongan untuk terus produktif bukan sekadar pilihan individu, tapi merupakan tekanan di luar diri seperti struktur sosial yang membentuk perilaku Gen Z untuk terus produktif sehingga berdampak pada kesehatan mereka.

Hustle culture adalah pilihan, bukan standar yang harus dipaksakan
Hustle culture tidak sepenuhnya buruk. Banyak figur orang sukses di dunia memandang ritme kerja yang cepat dapat mendorong perkembangan diri. Contohnya Seperti Elon Musk, Jack Ma, dan berbagai tokoh lainnya yang mempercayai bahwa seseorang harus hustling utuk mencapai sesuatu. Namun menjadikannya standar universal adalah hal yang keliru dan berpotensi merugikan. Karena setiap orang memiliki kemampuan, kondisi fisik, ritme, dan tujuan hidup yang berbeda-beda. Jadi perlu diingat bahwa hustle culture itu merupakan suatu pilihan. Budaya ini tidak dirancang untuk semua orang dan tidak sepatutnya dijadikan standar kiat sukses yang mengekang seseorang.

Selain itu, definisi sukses bagi setiap orang bisa berbeda. Ada orang dengan pekerjaan biasa yang bersifat rutinitas, bisa tetap bahagia dan merasa cukup. Disisi lain ada juga orang yang suka menerapkan hustle culture karena punya ambisi kuat terhadap sesuatu dan mereka berkomitmen untuk itu. Jadi pada dasarnya, tidak ada yang salah diantara keduanya karena itu adalah pilihan individu. Tapi yang salah adalah ketika penerapannya dilakukan secara tidak seimbang dan mengorbankan segalanya seperti kesehatan pribadi serta hubungan sosial dengan keluarga demi mendapat validasi sebagai individu yang kompeten dan mengejar standar yang tidak ada garis finish nya. Untuk itu, pencapaian tidak harus ditampilkan untuk menjadi berarti, produktivitas tidak harus menjadi ukuran utama nilai seseorang, dan istirahat bukanlah bentuk kegagalan.

Sumber referensi:
CNN Indonesia. (2021, May 20). Studi WHO: Jam Kerja yang Panjang Berisiko Picu Kematian Dini. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210516152031-255-642984/studi-who-jam-kerja-yang-panjang-berisiko-picu-kematian-dini
IHC Rumah Sakit Pusat Pertamina. (2025, August 25). Sindrom Burnout: Dampak Serius pada Kesehatan Mental dan Fisik yang Tidak Boleh Diabaikan | Rumah Sakit Pusat Pertamina. https://rspp.co.id/artikel-detail-874-Sindrom-Burnout-Dampak-Serius-pada-Kesehatan-Mental-dan-Fisik-yang-Tidak-Boleh-Diabaikan.html
Kamsidah. (2023, February 27). Hustle Cultur, Budaya Gila Kerja yang Marak Terjadi Pada Generasi Muda. Website DKJN. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/15923/Hustle-Cultur-Budaya-Gila-Kerja-yang-Marak-Terjadi-Pada-Generasi-Muda.html
Laraeni, Y., Basri, L., Ula, S. N. N., Mardliyah, U., Ibrahim, M., Indrasari, O. R., Mustopa, Edrisy, I. F., Laksono, R. D., Mars, & Purwanti, N. (2024). SOSIO ANTROPOLOGI. Cendikia Mulia Mandiri.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.