Mahasiswa.co.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan data statistik hasil dari Sensus Penduduk 2020 dalam data yang dipublikasikan tersebut, Generasi Z yang lahir tahun (1997-2012) memimpin dengan jumlah sekitar 74,93 juta jiwa, atau 27,94% populasi.
Generasi Z, atau yang sering disebut Gen Z, mereka dikenal sebagai generasi pertama yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi digital, sehingga sangat akrab dengan internet, media sosial, dan perangkat pintar sejak usia dini. Gen Z juga dekat dengan istilah YOLO
(You Only Live Once) dan FOMO
(Fear of Missing Out). Gen Z menganggap bahwa mereka harus menikmati hidup saat ini memilih menghabiskan pendapatan untuk membiayai kebutuhan konsumtifnya yang sementara, daripada menyisihkan sebagian penghasilannya untuk bekal di masa depan. Sementara julukan FOMO menganggap bahwa Gen Z harus selalu
update dengan tren, yang dimana ini juga akan menambah perilaku konsumtif atau sering juga disebut
impulsive spending yang berisiko pada ketidakstabilannya finansial pada Gen Z.
Oleh karena itu, Gen Z harus memiliki pengetahuan atau manajemen keuangan yang baik, yang dapat meminimalkan perilaku konsumtif yang berkepanjangan, yang mungkin akan berakibat pada masalah keuangan ke depannya. Tentu saja, ini dapat diatasi dengan pengetahuan manajemen keuangan yang memadai untuk mencapai tahap kebebasan finansial atau finansial freedom.
Financial freedom atau dikenal dengan istilah kebebasan finansial didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana individu bisa terbebas dari hutang serta memiliki pasive income yang dapat menunjang kebutuhan hidupnya. Selain itu, seseorang dikatakan berada pada fase kebebasan finansial ketika memiliki tabungan ataupun persediaan aset yang dapat menjamin terpenuhinya gaya hidup di masa sekarang hingga bertahun-tahun ke depan. Berdasarkan hasil survei Deloitte tahun 2023, sebanyak 53% Gen Z di dunia menyatakan bahwa biaya hidup merupakan kekhawatiran utama mereka. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh generasi muda saat ini merasa terancam secara finansial, bahkan dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan transportasi. Kekhawatiran ini tidak sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental. Ketika kebutuhan pokok terasa sulit dijangkau, kecemasan finansial pun meningkat dan ini sering menjadi pintu masuk menuju stres kronis, overthinking, depresi, hingga burnout. Mereka yang terus-menerus dihantui ketidakpastian finansial cenderung mengalami kelelahan mental, penurunan konsentrasi, bahkan kehilangan motivasi hidup. Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya mengganggu produktivitas, tetapi juga kualitas hidup secara menyeluruh.
Berikut cara yang mungkin bisa diikuti oleh Gen Z dalam menentukan strategi membangun finansial sehat sekaligus menjaga kesehatan mental
- Tentukan Tujuan Finansial yang Realistis
Alih-alih terjebak dalam ekspektasi sosial seperti "harus kaya di usia 25", mulailah dengan target yang sesuai kemampuan dan tahap hidup saat ini. Menetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang realistis akan mengurangi tekanan dan memberi rasa pencapaian secara bertahap.
- Buat Anggaran yang Fleksibel dan Manusiawi
Perencanaan keuangan penting, tapi jangan terlalu kaku. Sisakan ruang untuk kebutuhan spontan, hiburan, atau self-care. Budgeting sebaiknya menjadi alat bantu, bukan sumber stres tambahan. Gunakan metode sederhana yang cocok dengan kondisi dan kebutuhanmu untuk mengatur perencanaan tabungan atau investasi.
- Bangun Support System dan Komunitas Finansial Positif
Diskusi soal uang seringkali tabu, padahal penting untuk punya support sistem dari keluarga atau teman diskusi atau komunitas yang punya tujuan serupa. Bergabung dalam komunitas literasi keuangan atau berbicara dengan orang yang memiliki ilmu atau ahli di bidangnya, ini bisa membantu menambah pengetahuan tentang mengorganisir keungan kita. Pahami cara kerja keuangan pribadi — mulai dari utang, investasi, asuransi hingga pajak. Namun, jangan abaikan literasi emosional: kenali emosi saat belanja impulsif, saat merasa “kurang”, atau saat membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial.
- Konsultasikan ke Profesional Jika Diperlukan
Jangan ragu mencari bantuan profesional, baik itu dari perencana keuangan maupun psikolog, jika masalah keuangan sudah mulai mengganggu kualitas hidup. Gejala seperti sulit tidur karena memikirkan utang, panik saat akhir bulan, atau perasaan gagal karena penghasilan kecil bisa jadi tanda kesehatan mental terganggu akibat tekanan finansial. Mengenali gejalanya adalah langkah awal untuk mencari bantuan atau mengubah cara mengelola keuangan. Banyak layanan kini tersedia secara daring dan terjangkau bagi anak muda.
Kesimpulan
Generasi Z, menjadi populasi yang tumbuh dalam era digital yang penuh kemudahan namun juga tekanan. Gaya hidup serba cepat, ekspektasi sosial dari media, dan pandangan seperti YOLO dan FOMO membuat banyak dari mereka terjebak dalam pola konsumtif dan kelelahan emosional. Kekhawatiran terhadap biaya hidup, seperti yang diungkapkan oleh survei Deloitte 2023, menunjukkan bahwa lebih dari separuh Gen Z mengalami kecemasan finansial yang serius. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada stabilitas ekonomi pribadi, tetapi juga bisa memicu gangguan kesehatan mental.
Dalam menghadapi situasi tersebut, konsep
financial freedom atau kebebasan finansial tidak cukup dimaknai sebagai sekadar bebas utang atau punya penghasilan pasif. Bagi Gen Z, financial freedom juga harus mencakup kemampuan untuk hidup tanpa tekanan mental berlebihan akibat tuntutan ekonomi. Dengan membangun manajemen keuangan yang sehat dan sadar emosi seperti menetapkan tujuan realistis, mengatur anggaran secara manusiawi, dan mencari dukungan profesional Gen Z dapat menciptakan keseimbangan antara kondisi finansial dan kesehatan mental. Karena pada akhirnya, kebebasan sejati adalah ketika seseorang mampu menjalani hidup dengan aman secara ekonomi dan damai secara batin.
Penulis:
Marsita Ananda Jaya Pratama
Asal: Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Daftar Referensi:
Deloitte. (2023, Mei 17).
Survei Generasi Z dan Milenial Deloitte 2023 mengungkap kemajuan di tempat kerja meskipun ada kemunduran baru. https://www.deloitte.com/global/en/about/press-room/2023-gen-z-and-millenial-survey.html
Rainer, P. (2023, Agustus 29).
Sensus BPS: Saat Ini Indonesia Didominasi Oleh Gen Z. Goodstats. https://data.goodstats.id/statistic/sensus-bps-saat-ini-indonesia-didominasi-oleh-gen-z-n9kqv
Wiyanto, H., Aurellia, A., & Patricia, J. C. (2022). Edukasi Perilaku Keuangan Generasi Z Pada Cashless Society Di SMK Bhinneka Tunggal Ika. Seminar Nasional Ke-IV Universitas Tarumanegara Tahun 2022 (SERINA IV UNTAR 2022) Pemberdayaan Dan Perlindungan Konsumen Di Era Ekonomi Digital, 1319–1326.
Komentar 0