Ai Tania Rahmah
aitaniarahmah@gmail.com
Abstrak
Ubi jalar Kuningan memiliki potensi besar untuk menembus pasar ekspor. Namun, berbagai tantangan seperti persaingan global, standar kualitas, dan preferensi konsumen menjadi kendala utama. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pemasaran inovatif yang efektif untuk meningkatkan ekspor ubi jalar Kuningan. Melalui pendekatan literatur riview, penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan pasar ekspor, serta preferensi konsumen terhadap produk ubi jalar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategi pemasaran yang komprehensif, mulai dari pengembangan produk, branding, hingga distribusi, sehingga mampu meningkatkan daya saing ubi jalar Kuningan di pasar internasional.
Keyword:Ubi jalar Kuningan,Ekspor,Strategi pemasaran,Inovasi
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi literatur riview.Tujuan dari studi literatur review ini untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai penelitian-penelitian sebelumnya, mengidentifikasi celah pengetahuan yang ada, serta membangun landasan teoretis yang kuat.
Pendahuluan
Dalam bahasa lain, ubi jalar disebut juga Ipomoea butatas L. Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat terbanyak keempat di Indonesia setelah beras, jagung, dan singkong (Noer et al., 2017). Ubi jalar merupakan sumber makanan yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat, vitamin, dan mineral. Ubi jalar juga dapat digunakan sebagai pengganti nasi sebagai bahan utama (Claudia et al., 2015). Toko kelontong dapat menggunakan ubi jalar sebagai bahan baku utama karena mudah ditanam dan cepat dipanen (Pratiwi, 2020).
Ubi jalar merupakan tanaman yang dapat ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi, namun paling cocok ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian di atas 500 meter di atas permukaan laut. Daerah terbaik untuk menanam ubi jalar adalah daerah dengan suhu antara 21°C dan 27°C serta curah hujan rendah. Curah hujan di wilayah Kuningan mencapai 500–5000 mm/tahun, dan curah hujan yang ideal untuk tanaman ubi jalar adalah 750–1500 mm/tahun (Hayati dkk, 2016). Rata-rata wilayah Kabupaten Akuningan berada pada ketinggian antara 150 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, dengan suhu berkisar antara 18°C hingga 32°C (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, 2018).
Kondisi tersebut, ditambah dengan budaya masyarakat khususnya para petani yang telah bertahun-tahun membudidayakan ubi jalar di lahan pertaniannya, menjadikan Kabupaten Kuningan sebagai daerah yang memiliki potensi besar dalam bidang pertanian khususnya di bidang ubi jalar.Pangsa pasar saat ini terfokus pada pangsa ekspor hanya Korea Selatan dan Jepang yang menjadi negara tujuan ekspor.Perusahaan tidak fokus melayani pasar lokal karena permintaan produk olahan ubi jalar di pasar lokal lebih rendah dibandingkan ekspor (Pradipta dan Musadad, 2021).
Pembahasan
Ubi jalar Kuningan merupakan salah satu komoditas unggulan dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang memiliki potensi besar untuk dipasarkan ke pasar internasional. Dengan cita rasa yang khas, kandungan gizi yang tinggi, dan varietas yang beragam, ubi jalar dari daerah ini sebenarnya memiliki peluang ekspor yang sangat menjanjikan. Namun, tantangan seperti persaingan global, standar kualitas internasional, dan kurangnya strategi pemasaran yang efektif sering kali menjadi hambatan dalam meningkatkan angka ekspor komoditas ini. Untuk itu, diperlukan strategi pemasaran yang inovatif dan adaptif guna memaksimalkan potensi pasar internasional.
Strategi memainkan peran penting dalam pemasaran dan dikembangkan di tingkat unit bisnis strategis suatu perusahaan.Dengan melihat pangsa pasar, perusahaan memutuskan pasar mana yang akan dijadikan pasar potensial agar dapat memperoleh posisi yang baik di benak pelanggan sehingga pelanggan dapat dengan cepat mengingat kembali produk dan bisnisnya (Pomantow, et al., 2019).
Upaya Pelaku Usaha untuk Bertahan Hidup Dalam berbagai kompetisi bisnis, badan usaha perlu mempersiapkan rencana pemasaran secara detail. Strategi bauran pemasaran adalah bentuk strategi pemasaran yang berguna. Bauran pemasaran adalah strategi pemasaran yang digunakan untuk menyebarkan informasi, memperkenalkan produk, barang, dan jasa, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan bahkan mengembangkan preferensi individu terhadap citra produk (Mohamad dan Rahim, 2021).
Desain terpadu digunakan untuk membuat strategi bauran pemasaran untuk mencapai hasil yang diinginkan pada suatu pasar sasaran, yang terdiri dari produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik (Abdurrahman, 2015).
Strategi pemasaran inovatif untuk meningkatkan ekspor ubi jalar
1. Peningkatan Branding Produk
Branding yang kuat menjadi elemen utama dalam memperluas jangkauan pasar ekspor. Salah satu strategi inovatif yang dapat diterapkan adalah menciptakan identitas produk yang jelas dan menarik bagi konsumen global. Ubi jalar Kuningan dapat dipromosikan sebagai produk organik berkualitas tinggi dengan proses penanaman yang ramah lingkungan. Menggunakan sertifikasi internasional seperti organik, fair trade, atau sertifikasi keberlanjutan lainnya dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan daya tarik produk di pasar global.
2. Pemanfaatan E-commerce dan Platform Digital
Perdagangan digital semakin menjadi tren di berbagai negara, dan pemanfaatan platform e-commerce dapat membuka peluang ekspor yang lebih luas. Selain itu, memanfaatkan media sosial sebagai alat promosi produk juga efektif untuk menarik konsumen global. Melalui strategi digital marketing yang kuat, seperti iklan berbayar, pemasaran melalui influencer, dan konten yang interaktif, ekspor terhadap produk ubi jalar Kuningan bisa meningkat secara signifikan.
3. Kolaborasi dengan Pelaku Industri dan Pemerintah
Strategi pemasaran yang inovatif juga memerlukan kolaborasi antara pelaku industri dengan pemerintah daerah dan pusat. Pemerintah dapat memfasilitasi dengan program pelatihan, seminar ekspor, dan pengadaan infrastruktur yang mendukung, sementara para pelaku industri dapat menjalin kerja sama dengan eksportir, distributor, atau perusahaan logistik untuk mempercepat proses ekspor. Dukungan dari pemerintah juga bisa berupa kebijakan yang mempermudah ekspor, seperti pengurangan pajak ekspor atau insentif khusus bagi eksportir ubi jalar.
4. Diversifikasi Produk dan Inovasi Pengemasan
Inovasi dalam diversifikasi produk menjadi kunci untuk menarik minat konsumen internasional. Ubi jalar tidak hanya bisa diekspor dalam bentuk mentah, tetapi juga dalam berbagai bentuk olahan seperti keripik ubi jalar, tepung ubi, atau makanan siap saji yang berbasis ubi jalar. Selain itu, pengemasan yang menarik dan ramah lingkungan juga dapat menjadi nilai tambah yang disukai konsumen global, terutama di negara-negara yang sadar akan pentingnya keberlanjutan lingkungan.
5. Penetrasi ke Pasar Niche
Fokus pada pasar niche yang memiliki permintaan khusus juga menjadi strategi inovatif. Contohnya, pasar untuk makanan organik, vegan, atau gluten-free yang terus berkembang di negara-negara maju. Memposisikan ubi jalar Kuningan sebagai produk yang memenuhi kebutuhan pasar tersebut bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ekspor. Selain itu, penetrasi pasar ke negara-negara dengan populasi tinggi dan konsumsi ubi jalar yang besar seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Timur Tengah bisa menjadi peluang besar.
Upaya Pemerintah dalam Pengembangan Bahan Baku Ubi Jalar
Perhatian pemerintah terhadap pengembangan ubi jalar terlihat dari peran penyuluh pada petani ubi jalar. Metode budidaya ubi jalar dan metode pasca panen diadopsi dari petani dan petani lain, sedangkan 20% sisanya berasal dari petani lain. Meski telah dilakukan konsultasi, analisis menunjukkan bahwa petani masih belum mampu mengelola lahan pertaniannya secara optimal.
Materi penyuluhan yang diberikan merupakan hal baru mengenai cara budidaya dan pasca panen. Untuk meningkatkan daya tawar petani, petani perlu benar-benar menguasai informasi pasar. Faktor kelayakan harga dan kemudahan pemasaran berperan penting dalam peningkatan produksi ubi jalar. Harga bahan baku lain di pasaran mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap permintaan ubi jalar.
Permasalahan yang umum terjadi pada budidaya ubi jalar
Munculnya hama boren (Cylas formanicarus),yaitu larva kumbang yang hidup pada umbi ubi jalar. Hama ini dapat dicegah dengan penyiraman dan pemberian pakan yang tepat.Menumpuk umbi dengan rapi dan menyiram secara teratur akan membuat tanah menjadi padat dan mencegah larva masuk dan mencapai umbi. Kebanyakan umbi-umbian yang terkena penyakit ini umumnya terletak dekat dengan permukaan tanah dan tidak terkubur dengan baik (Bakyo et al. 1992, dikutip dalam Zuraida dan Supriati, 2001).
Serangan parah terjadi terutama pada musim panen, ketika panen tertunda. Penyakit utama pada tanaman ubi jalar adalah keropeng yang disebabkan oleh Elsinoe batatas dan menyebabkan daun menggulung serta menghambat perkembangan tanaman (Arene dan Nwankiti, 1978, dikutip dalam Zuraida dan Supriati, 2001).
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketidakmampuan petani dalam mengelola budidaya ubi jalar dengan baik menjadi faktor penghambat. Penggunaan pupuk tidak sesuai aturan 4T.Tenaga kerja yang ada juga tidak akan mampu bekerja maksimal dan petani tidak mampu menggarap lahan secara besar-besaran.
Selain itu, petani juga biasa menjual hasil panennya tanpa mengolahnya sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.Masih kurangnya informasi mengenai resep-resep yang dapat dibuat dari ubi jalar dan belum berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku ubi jalar.
Kesimpulan
Meningkatkan ekspor ubi jalar Kuningan memerlukan kombinasi strategi pemasaran inovatif yang terintegrasi. Mulai dari peningkatan branding, pemanfaatan platform digital, kolaborasi dengan berbagai pihak, hingga diversifikasi produk, semuanya harus dilakukan secara berkelanjutan dan adaptif terhadap tren pasar global. Dengan strategi pemasaran yang tepat, ubi jalar Kuningan tidak hanya dapat bersaing di pasar lokal, tetapi juga mampu menembus pasar internasional dengan lebih luas, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian daerah.
Komentar 0