Urgensi Membangun Kemandirian Pangan di Tengah Ancaman Impor dan Krisis Gizi
Oleh Redaksi
Mahasiswa.co.id - Indonesia, sebagai negara agraris, seharusnya mampu mencapai kemandirian pangan. Namun, realitas menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap impor bahan pangan seperti beras, jagung, dan kedelai masih tinggi, bahkan meningkat dari tahun ke tahun. Data Kementerian Pertanian (2023) memaparkan bahwa impor beras terus naik, sebuah ironi bagi negeri yang tanahnya subur dan kaya sumber daya alam.
Situasi ini menunjukkan bahwa produksi pangan dalam negeri belum optimal, padahal potensi lokal besar. Pemerintah harus serius memperkuat sektor pertanian dengan fokus pada peningkatan teknologi pertanian dan pengelolaan lahan secara efisien. Precision farming adalah salah satu teknologi yang sudah terbukti efektif di banyak negara, dan Indonesia harus mulai mengadopsi pendekatan ini. Peningkatan hasil panen melalui teknologi bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan impor yang menggerus devisa negara.
Di sisi lain, masalah gizi di Indonesia juga patut menjadi sorotan. Tingginya angka stunting pada anak, sekitar 21,6% menurut Kementerian Kesehatan (2022), mencerminkan kegagalan kita dalam memastikan akses yang merata terhadap pangan bergizi. Ini tidak hanya soal kuantitas pangan, tetapi juga kualitas dan keberagamannya. Diversifikasi pangan dengan memanfaatkan kekayaan sumber pangan lokal, seperti umbi-umbian, sagu, dan sorghum, adalah langkah yang tak bisa ditunda lagi.
Pemerintah seharusnya memperluas kampanye diversifikasi pangan, baik melalui kebijakan maupun pendidikan kepada masyarakat. Ketergantungan pada beras sebagai makanan pokok bukan hanya membatasi potensi ketahanan pangan, tetapi juga mengabaikan warisan lokal yang bisa memperkaya variasi gizi. FAO (2021) sudah menegaskan pentingnya diversifikasi sebagai kunci memperbaiki masalah gizi dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu komoditas pangan.
Keamanan pangan juga menjadi isu penting. Kasus pencemaran pangan masih sering terjadi, terutama di pasar tradisional. Edukasi kepada para petani tentang praktik pertanian yang aman dan berkelanjutan harus lebih digencarkan. Di saat yang sama, pengawasan yang lebih ketat terhadap rantai distribusi pangan, terutama di tingkat lokal, sangat diperlukan agar kualitas pangan yang sampai di tangan konsumen benar-benar aman.
Ketahanan pangan yang stabil, bergizi, dan aman adalah fondasi penting bagi kesejahteraan bangsa. Namun, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Masyarakat, sektor swasta, dan seluruh pemangku kepentingan harus terlibat aktif dalam mewujudkan kemandirian pangan. Ketergantungan pada impor harus diakhiri, dan masalah gizi perlu segera diatasi. Inilah saatnya membangun kemandirian pangan dengan memanfaatkan potensi lokal yang kita miliki.
Penulis : Rohnia FISIP UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0