Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Ambisi Financial Freedom di Usia 20-an: Realistis atau Tekanan Media Sosial?

Ambisi Financial

Mahasiswa.co.id - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah financial freedom menjadi mantra baru bagi generasi muda. Di media sosial, terutama TikTok dan Instagram, kita sering melihat narasi seperti: “retire at 30”, “passive income before 25”, atau “escape the 9–5 before 30”. Bagi banyak Gen Z, kebebasan finansial di usia 20-an bukan lagi sekadar mimpi, melainkan target yang terasa wajib dicapai.

Namun pertanyaannya: apakah ambisi tersebut realistis, atau justru menciptakan tekanan psikologis baru bagi generasi muda?

Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba. Gen Z adalah generasi yang tumbuh dalam dunia digital, di mana informasi finansial, investasi, dan cerita sukses dapat diakses dengan sangat cepat. Banyak konten kreator yang mempromosikan strategi seperti side hustle, investasi saham, kripto, hingga konsep FIRE (Financial Independence, Retire Early).

Menurut Kumar (2025) dalam penelitiannya tentang finance influencers, konten finansial yang dibagikan oleh influencer di media sosial dapat memengaruhi cara investor ritel memahami risiko dan mengambil keputusan investasi.

Sebuah survei bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z memiliki ambisi besar untuk mencapai kemandirian finansial sejak muda. Survei The Great Wealth Reset yang dilakukan oleh The Harris Poll menemukan bahwa sekitar 94% Gen Z ingin mencapai financial independence sebelum usia 55, bahkan banyak yang menilai usia ideal untuk mencapainya adalah sekitar 32 tahun.

Sekilas, tren ini terlihat positif. Generasi muda menjadi lebih sadar akan pentingnya mengelola uang, berinvestasi, dan merencanakan masa depan. Namun di balik itu, muncul fenomena baru yang jarang dibicarakan, yakni tekanan finansial yang diproduksi oleh ekspektasi sosial.

Tekanan Sosial dan Ilusi Kesuksesan Finansial
Salah satu faktor terbesar yang mendorong obsesi terhadap financial freedom adalah media sosial. Platform digital tidak hanya menjadi tempat belajar finansial, tetapi juga ruang perbandingan sosial. Banyak konten menampilkan gaya hidup mewah, portofolio investasi besar, atau kisah sukses entrepreneur muda yang menghasilkan miliaran rupiah sebelum usia 30. Masalahnya, cerita-cerita ini sering menjadi standar tidak realistis bagi banyak orang.

Penelitian tentang pengaruh media sosial terhadap perilaku finansial menunjukkan bahwa konten digital dan influencer dapat memengaruhi cara generasi muda mengambil keputusan finansial, termasuk investasi dan gaya hidup ekonomi mereka.

Dalam penelitian berjudul Social Comparison, Social Media, and Self-Esteem, Vogel et al. (2014) menjelaskan bahwa media sosial mendorong individu untuk terus membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain yang ditampilkan secara online, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kepuasan diri dan kondisi psikologis.

Selain itu, fenomena yang disebut money dysmorphia juga semakin sering muncul pada generasi muda. Sekitar 43% Gen Z mengaku merasa tidak aman secara finansial meskipun kondisi keuangannya sebenarnya cukup stabil, karena terus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Dengan kata lain, standar kesuksesan finansial saat ini tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan hidup, tetapi oleh algoritma dan narasi viral.

Paradoks Literasi Finansial Gen Z
Menariknya, meskipun Gen Z sangat dekat dengan informasi finansial, tingkat literasi finansial mereka tidak selalu tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa akses terhadap informasi finansial tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan individu dalam mengelola keuangan secara rasional (Lusardi & Mitchell, 2014). 

Penelitian lain di Indonesia juga menemukan bahwa literasi keuangan memang memiliki pengaruh positif terhadap perilaku menabung pada Gen Z, namun literasi tersebut harus disertai dengan perilaku finansial yang sehat agar berdampak nyata. Artinya, sekadar mengetahui tentang investasi, saham, atau passive income tidak otomatis membuat seseorang mencapai stabilitas finansial.

Justru dalam beberapa kasus, dorongan untuk cepat kaya dapat membuat seseorang mengambil risiko finansial yang tidak matang, misalnya investasi spekulatif atau mengikuti tren tanpa pemahaman yang cukup.

Mengembalikan Makna Financial Freedom
Mengejar financial freedom tentu bukan hal yang salah. Kesadaran finansial sejak muda justru merupakan perkembangan yang positif. Namun penting untuk memahami bahwa kebebasan finansial adalah proses jangka panjang, bukan perlombaan yang harus dimenangkan sebelum usia 30.

Alih-alih terjebak pada standar yang viral di media sosial, generasi muda mungkin perlu kembali pada prinsip yang lebih sederhana: membangun kebiasaan finansial yang sehat, meningkatkan keterampilan, dan memperkuat stabilitas ekonomi secara bertahap.

Karena pada akhirnya, kebebasan finansial bukan sekadar tentang seberapa cepat seseorang menjadi kaya, melainkan seberapa tenang seseorang menjalani hidup tanpa tekanan finansial yang tidak perlu.

Penulis: Kenzi Wijaya (mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, program studi manajemen)

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.