Apakah kampanye lingkungan di media sosial lebih efektif daripada kampanye secara luring ?
Oleh Redaksi
Oleh: ANANDA DINI LARASATI
Mahasiswa.co.id - Menurut saya tidak ada jawaban mutlak apakah kampanye lingkungan yang dilakukan di media sosial lebih efektif daripada kampanye lingkungan yang dilakukan secara luring. Dikarenakan dua hal tersebut memiliki tujuan, target audiens, dan strategi pelaksanaan yang berbeda. Keefektifan juga dapat dilihat melalui tujuan yang akan dicapai. Baik kampanye lingkungan yang dilakukan di media sosial ataupun yang dilakukan secara luring, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kampanye lingkungan yang dilakukan di media sosial memiliki beberapa kelebihan seperti, jangkauan audience yang lebih luas. Dengan adanya kampanye lingkungan di media sosial, dengan mudah menjangkau audience secara cepet dan memungkinkan untuk menjangkau dari berbagai kalangan. Kampanye lingkungan di media sosial juga dapat mengedukasi mengenai pentingnya peduli terhadap isu-isu lingkungan kepada generasi muda yang cenderung cuek terhadap kepedulian kepada lingkungan. Dikarenakan penggunaan media sosial didominasi oleh kalangan generasi muda. Selain itu, target audience di media sosial lebih spesifik sesuai algoritma, sehingga pesan yang disampaikan jadi lebih efektif dan relevan.
Kemudian adanya kampanye di media sosial lebih meminimalisir pengeluaran biaya. Karena kampanye dilakukan melalui media sosial jadi tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi, konsumsi, ataupun biaya darurat lapangan. Lalu adanya kampanye lingkungan di media sosial juga memberikan kesempatan bagi audience untuk berinteraksi secara aktif tanpa perlu bertemu dan dapat membentuk komunitas sesuai visi misi yang sama.
Kemudian adanya kampanye lingkungan di media sosial juga memungkinkan kreator untuk memberikan visualisasi melalui video, audio, ataupun infografis yang dapat diberikan kepada audince agar pesan yang disampaikan mudah dipahami dan tidak berkesan terlalu monoton. Namun, adanya kampanye di media sosial juga memiliki resiko dan kekurangan jika tidak dilakukan secara maksimal. Seperti rawan terjadi berita palsu dan menyesatkan jika tidak disampaikan dengan sumber yang akurat.
Pada era saat ini, sangat mudah bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi tak berdasar atau Hoax jika kita sebagai masyarakat tidak dapat membedakan apakah informasi tersebut fakta atau hoax. Maka dari itu, sangat beresiko jika melakukan kampanye lingkungan di media sosial tanpa ada persiapan data serta bukti yang valid. Selain itu, kekurangan adanya kampanye lingkungan di media sosial terkait filter bubble yang mempengaruhi algoritma sosial media. Adanya filter bubble akan membatasi paparan dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga dapat mengurangi efektivitas kampanye lingkungan serta dapat mempengaruhi opini publik.
Lalu adanya kampanye lingkungan secara luring juga terdapat beberapa kelebihan serta kekurangan yang menjadi pertimbangan apakah kampanye tersebut dapat dikatakan efektif dilakukan atau tidak. Menurut saya, adanya kampanye lingkungan secara luring lebih efektif dilakukan jika konsep, pokok pembahasan, dan target audiens sudah terancang secara matang. Kampanye secara luring sangat mudah untuk membangun informasi lebih personal dikarenakan adanya interaksi langsung dengan udiens.
Hal ini dapat membangun hubungan serta kepercayaan yang lebih kuat. Kemudian adanya kampanye secara langsung juga memungkinkan bagi kita untuk memberikan praktik langsung terkait lingkungan. Contohnya seperti membuat karya ataupun menjaga lingkungan melalui kegiatan bersih-bersih. Hal ini dapat meningkatkan motivasi serta kesadaran audiens terkait lingkungan. Namun, adanya kampanye secara luring / langsung juga memiliki hambatan dan kekurangan, seperti lingkup audiens yang terbatas.
Kita sebagai narasumber tidak dapat memberikan kampanye kepada seluruh khalayak. Audiens yang dipilih juga terbatas dikarenakan keterbatasan ruang geografis. Sangat berbeda dengan kampanye melalui media sosial yang dapat menjangkau seluruh penjuru. Lalu adanya kampanye secara langsung juga membutuhkan biaya yang relatif besar. Biaya yang dikeluarkan digunakan untuk transportasi, konsumsi, bahkan tempat yang akan dijadikan kampanye. Hal ini sangat krusial bagi beberapa pihak dan dapat memberatkan pihak-pihak tertentu.
Lalu manakah yang lebih efektif? Apakah kampanye di media sosial dianggap lebih efektif daripada kampanye secara langsung? Kembali ke paragraf awal jika dua hal ini tidak dapat dikatakan secara mutlak apakah kampanye di media sosial dapat dikatakan lebih efektif daripada kampanye secara langsung. Dilihat dari kelebihan dan kekurangan yang sudah saya tulis di atas, jika dilihat dari segi jangkauan jelas kampanye di media sosial lebih efektif. Tapi, jika dilihat dari interaksi sudah jelas kampanye secara luring / langsung lebih efektif dibandingkan kampanye lingkungan di media sosial.
Dikarenakan adanya interaksi secara langsung dapat memberikan ruang diskusi langsung kepada audiens dan dapat saling bertukar informasi. Meskipun di media sosial hal ini dapat dilakukan, tetapi ruang lingkupnya terbatas. Mengapa? Karena di media sosial terdapat yang namanya filter bubble yang mempengaruhi algoritma. Dampaknya seluruh hal terkait kampanye lingkungan yang lewat di beranda sosial media kita, pasti akan sejalan dengan opini kita dan opini dari sudut pandang lain akan tergeser. Sehingga kita tidak dapat mengetahui pemikiran dari sudut pandang lain.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0