Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Busana Sebagai Cermin Identitas dan Kesetaraan Warga Negara

Busana

Mahasiswa.co.id - Busana seringkali berfungsi sebagai kesan awal dalam menilai seseorang. Di tempat-tempat umum, sering terlihat bahwa individu dengan penampilan rapi dan berkelas cenderung menerima perlakuan yang lebih hangat, sedangkan mereka yang mengenakan busana sederhana justru kurang mendapat perhatian. Fenomena semacam ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah martabat manusia layak diukur semata-mata berdasarkan apa yang dikenakannya?

Dalam konteks kehidupan bernegara, konstitusi telah secara tegas menjamin prinsip kesetaraan. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak atas kedudukan yang setara di mata hukum dan pemerintahan. Dengan demikian, kehormatan seseorang tidak boleh dibedakan hanya karena penampilan luarnya. Akan tetapi, kenyataan di tengah masyarakat seringkali bertolak belakang. Busana acap kali dijadikan indikator status sosial: seragam usang para pekerja lapangan dipandang sebelah mata, sementara individu berjas mewah justru dihormati secara berlebihan. Seolah-olah ada batas tak kasat mata yang memisahkan antara mereka yang dianggap pantas dihargai dengan mereka yang dipandang biasa saja.

Dari sudut pandang tata krama berpakaian, busana memang memainkan peran krusial sebagai bentuk identitas dan ungkapan diri. Sebagai contoh, seragam sekolah bukan sekadar pakaian wajib yang dikenakan sehari-hari, melainkan lambang kesetaraan antar peserta didik. Di kelas, semua siswa diperlakukan sama, tanpa memandang asal-usul keluarga. Demikian pula dengan busana tradisional pada acara kenegaraan, yang seharusnya merepresentasikan perayaan keberagaman, bukan sebagai penanda kasta sosial. Ironisnya, nilai filosofis ini seringkali terlupakan ketika masyarakat lebih fokus pada merek atau harga pakaian.

Hasil survei Snapcart terhadap hampir 5.000 responden di Indonesia mengungkapkan bahwa sekitar 65% di antaranya memandang fashion sebagai elemen yang penting atau sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menggambarkan betapa berpengaruhnya penampilan terhadap persepsi orang lain terhadap seseorang. Bahkan, sebuah studi di wilayah Bantul menunjukkan bahwa perempuan pemulung sering kali mengalami perbedaan perlakuan semata-mata karena dianggap "kurang tertata". Bukti-bukti ini menegaskan bahwa prasangka berdasarkan busana memang ada secara nyata, bukan hanya dugaan semata.

Pendapat saya, kecenderungan ini perlu segera diperbaiki. Busana memang dapat memperindah tampilan, tetapi tidak menjadi penentu nilai kemanusiaan seseorang. Sebagai warga negara, kita harus menanamkan ajaran pendidikan kewarganegaraan, yaitu menilai individu berdasarkan perilaku, pencapaian, dan kontribusinya. Nilai intrinsik manusia justru terletak pada tindakan nyata, bukan pada merek pakaiannya. Menghargai seseorang hanya karena busananya merupakan wujud diskriminasi yang melanggar kesetaraan.

Oleh sebab itu, sudah waktunya kita kembangkan kesadaran yang lebih baik. Busana boleh saja menjadi sarana ekspresi identitas, tetapi tidak boleh disalahgunakan sebagai alat penilaian sosial. Jika kita sungguh-sungguh hendak mewujudkan keadilan, mari hentikan kebiasaan menilai kehormatan seseorang dari pakaiannya.

Oleh: Anisa Puji Rahayuningtias

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.