Mahasiswa.co.id - Akhir ini, Indonesia sedang di hantui dinamika politik yang begitu kompleks yang berdampak pada ancaman eksistensi demokrasi Bangsa. Demokrasi, dalam idealitasnya, merupakan ruang bagi rakyat untuk menentukan arah kehidupan berbangsa secara adil dan bermartabat. Namun, perjalanan demokrasi di Indonesia kerap diwarnai “cidera” pelanggaran nilai, manipulasi mekanisme, dan pengkhianatan terhadap amanat rakyat. Cidera demokrasi ini bukan sekadar catatan politik, melainkan juga menjadi sumber trauma kolektif bangsa yang terus membekas di ruang kesadaran masyarakat.
Ironisnya, demokrasi yang seharusnya menjadi alat pembebasan justru sering diperdagangkan. Politik uang, intimidasi, manipulasi informasi, hingga eksploitasi media sosial menjadi wajah baru dari cidera demokrasi. Hal ini menciptakan siklus trauma baru, rakyat dipaksa memilih dalam kondisi ketidakpastian, lalu kembali dikhianati oleh wakilnya setelah berkuasa. Demokrasi pun tereduksi menjadi sekadar ritual lima tahunan tanpa substansi yang kehilangan roh deliberatif yang seharusnya menghadirkan dialog, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hak-hak rakyat.
Sejarah bangsa kita menyimpan jejak trauma akibat pengelolaan demokrasi yang cacat. Dari masa Demokrasi Terpimpin, rezim otoritarian Orde Baru, hingga praktik demokrasi transaksional pascareformasi, masyarakat selalu menjadi korban pengingkaran janji-janji demokrasi. Kekerasan politik, pembungkaman suara, serta praktik korupsi yang merajalela meninggalkan luka mendalam yang diwariskan lintas generasi. Luka itu tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi menjelma dalam ketidakpercayaan rakyat terhadap negara. Fenomena apatisme politik, golput, atau ketidakpedulian terhadap pemilu adalah gejala nyata dari trauma kolektif tersebut. Rakyat merasa suaranya tidak benar-benar menentukan, karena keputusan politik kerap dikendalikan oleh oligarki atau elite yang hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompok.
Trauma kolektif bangsa tidak hanya menumpuk di level politik, melainkan juga merembes ke ruang sosial dan budaya. Generasi muda tumbuh dalam bayang-bayang pesimisme, seolah politik hanyalah arena kotor yang tak layak disentuh. Padahal, tanpa keterlibatan generasi muda, demokrasi akan semakin rapuh dan mudah dikuasai oligarki. Jika dibiarkan, trauma ini dapat melahirkan masyarakat yang sinis, apatis, dan fatalistis. Mereka tidak lagi melihat politik sebagai jalan perubahan, tetapi sekadar panggung sandiwara.
Oleh Fuad Khoirul Anwar
Prodi Pendidikan Agama Islam
Mahasiswa Universitas UIN Ponorogo

Komentar 0