Mahasiswa.co.id - Sekitar satu minggu yang lalu saya diamanahkan untuk membaca sebuah buku dengan judul “Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Jilid 1)” yang disunting oleh Pamusuk Eneste. Buku ini berisi dua belas kisah inspiratif para sastrawan Indonesia terkait bagaimana proses mereka membuat sebuah karya fiksi yang menarik. Sebenarnya, saya tidak terlalu tertarik utuk membaca buku ini karena saya sudah punya gambaran sendiri: sudah jelas proses kreatif dari diri seseorang dalam menciptakan sebuah karya fiksi itu berasal dari keinginannya, entah itu karena ingin menjadi terkenal atau sekedar suka dan ingin membuat sebuah kisah baru yang berbeda. Dengan alasan demikian, kemudian proses kreatif dapat terjadi. Seperti halnya saya yang menulis sebuah cerita karena keinginan saya untuk menciptakan sebuah dunia di mana saya memiliki kendali penuh akan segala hal yang terjadi di dalam cerita saya. Ibarat kata, saya punya dunia saya sendiri.
Namun, hal itu hanyalah gambaran sekilas. Saya rasa, saya juga perlu memperbarui pemikiran saya. Oleh karena ini adalah sebuah amanah (dosen saya menitipkan kepada saya untuk membaca buku tersebut) dan saya rasa saya perlu membacanya untuk menambah wawasan, terlebih lagi ini adalah sebuah kisah inspiratif dari para sastrawan Indonesia. Disinilah saya. Saya sudah menyelesaikan bacaan saya. Hal pertama yang saya dapat adalah kebanyakan orang menulis karena menulis adalah kesenangan mereka. Memang benar. Tidak mungkin kamu selalu bersama dengan seorang teman, selalu bercanda dan tertawa dengannya, selalu menceritakan semua masalahmu kepadanya, selalu membagikan pemikiranmu kepadanya. Akan tetapi kamu dalam keadaan saya tidak senang dengan teman kamu itu. Tidak mungkin begitu. Alasannya sudah pasti karena kamu nyaman dan saya senang dengannya, tentu saja.
Seperti yang ditulis oleh Gerson Poyk bahwa proses kreatif mulai kelihatan sejak kecil, maka begitulah orang-orang dapat menulis sebuah karya yang menarik. Kelimpahan pengalaman yang didapat dari sesama manusia atau dari alam semesta bisa menjadi salah satu proses seseorang berkreasi. Lebih-lebih lagi seiring berkembangnya usia, bakat dan pengalaman juga ikut berkembang di dalamnya. Gerson juga menulis bahwa kreativitas itu suatu proses, suatu pertumbuhan, maka sudah tentu suatu pertumbuhan itu diawali dengan sebuah bibit, yaitu tidak lain dari pengalaman sejak kecil.
Adapun sastrawan Umar Kayam, menurutnya tulisan itu adalah suatu pengolahan dari pengamatan yang dialaminya sendiri, sehingga buku pertama hingga keenam Umar dia tulis berdasarkan kejadian yang sebenarnya terjadi. Mengenai hal ini, Satyagraha Hoerip juga menuliskan bahwa keresahannya terhadap Indonesia pada tahun 1960-an meledak dalam bentuk tulisan. Di mana pada masa itu kaum koruptor merajarela, utang Indonesia bertumpuk-tumpuk, dan para pemimpin mengelabui rakyat. Ternyata karya sastra itu tidak semata-mata hadir karena pengalaman dan kesenangan, karya sastra juga hadir karena sebuah pengamatan pribadi seseorang dan keresahan yang barangkali juga menjadi keresahan banyak orang–atau barangkali bukan barangkali, tapi memang nyata keresahan bersama.
Bagaimanapun, setiap pengalaman kecil yang dialami bisa menjadi inspirasi sebuah karya tercipta. Apapun pengalaman itu, entah pengalaman yang kita alami sendiri atau pengalaman orang lain yang kita baca atau bahkan kita dengar sekalipun. Seperti halnya M. Poppy Hutagalung yang membuat sebuah karangan setelah mendengar cerita dari temannya bahwa ibunya meninggal karena disambar petir. Cerita tersebut sangat berkesan bagi Poppy, sehingga dia menceritakan kembali cerita itu dalam karyanya dengan bentuk sama persis. Lalu ada pula karyanya yang berjudul “Tiga Dara” terinspirasi dari sang abang yang gemar memelihara burung dara.

Komentar 0