Mahasiswa.co.id - Skena adalah seseorang yang penampilannya menunjukkan bahwa mereka ingin dikaitkan dengan grup-grup musik tertentu. Skena sendiri merupakan singkatan dari Sua Cengkrama Kelana, yang bisa diartikan sebagai perkumpulan kolektif yang menciptakan suasana untuk bercengkrama bersama saat berkumpul. Contohnya, suatu perkumpulan yang berisi penggemar lagu-lagu indie akan disebut sebagai Skena Indie. Dalam arti lain skena menjadi zona nyaman untuk kelompok penggemar musik tertentu dan menjadi tempat untuk mencari dan menjalin relasi baru dengan dengan individu lainnya.
Namun, kata "skena" saat ini sudah berganti makna. Saat ini, kata tersebut bisa diartikan sebagai orang-orang yang memiliki sense of fashion yang unik. Dengan bantuan sosial media, seperti TikTok dan Twitter, tren skena sangat cepat populer dan membuat orang ingin mengikuti tren tersebut. Hal ini menyebabkan hilangnya arti asli dari "skena". Yang awalnya skena menjadi arti di mana orang-orang yang memiliki selera musik yang sama berkumpul, sekarang berubah artinya menjadi orang-orang yang memiliki selera fashion yang sama.
Akibat munculnya trend “skena” tersebut, menyebabkan timbulnya budaya konsumerisme. Hal tersebut bisa terjadi lantaran keinginan seorang individu yang ingin dianggap dan diterima oleh kelompok “skena” tersebut, dengan modal mengikuti fashion yang mereka gunakan. Fashion skena sangat identik dengan kaos band, kaos oversize, celana baggy, celana denim atau jeans, sepatu docmart, sneakers new balance, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, tetapi tren "skena" juga melibatkan unsur-unsur lain, seperti industri coffeeshop. Tentunya, ini mendukung budaya konsumerisme dalam diri anak-anak muda yang ingin ikut menjadi “anak skena.”
Konsumerisme merupakan sikap atau perilaku individu yang merasa lebih senang atau puas apabila mereka mengkonsumsi terus menerus. Biasanya, mereka melakukan hal tersebut untuk menunjukkan status sosial. Di masa globalisasi ini, ditambah dengan kemajuan teknologi, lebih mudah untuk seorang individu merasa mereka membutuhkan segala hal yang baru dan trendy di dunia ini. Sosial media membuat proses pemasaran produk lebih mudah dan terjangkau dibandingkan sebelumnya. Trend “skena” ini menjadi contoh nyata dari fenomena tersebut. Pakaian unik yang dikenakan grup “skena”, yang kemudian viral di sosial media, membuat penggunanya terpengaruh dan merasa bahwa mereka harus mengikuti gaya pakaian yang dikenakan. Akhirnya, mereka pun juga ikut serta membeli pakaian untuk mencoba-coba.
Banyak orang yang berpikiran bahwa konsumerisme hanya menimbulkan dampak negatif di masyarakat. Namun, kenyataan tidak sepenuhnya seperti itu. Budaya konsumerisme, terutama dalam tren “skena” ini, sebenarnya bisa menghasilkan sesuatu yang positif. Tren coffee shop yang menjadi salah satu unsur skena melihat peningkatan dalam profit karena banyaknya anak-anak muda yang mencoba-coba cafe yang sedang viral. Selain itu, festival musik juga bisa merasakan keuntungan dari tren skena ini. Merchandise musik, seperti band-band populer, yang sering dikenakan anak-anak pengikut tren skena bisa meningkatkan popularitas band-band tersebut dan akhirnya menghasilkan keuntungan di industri hiburan Indonesia, seperti konser dan festival musik.
Namun, dibalik keuntungannya bagi bidang ekonomi Indonesia, patut disoroti juga dampak negatif yang timbul karena adanya budaya konsumerisme akibat trend skena. Beberapa individu ada yang memaksakan diri agar dapat diterima di kelompok “skena” tersebut. Karena ini, mereka memborong pakaian yang dikenakan agar bisa mengikut trend. Rasa paksaan dari dalam diri mereka untuk mengikuti trend “skena” dengan cara membeli baju membuat mereka melakukan banyak upaya dengan metode yang kurang benar, salah satunya adalah menggunakan pinjaman online. Beberapa individu memang memiliki keterbatasan dalam hal ekonomi, tetapi demi diterima dalam kelompok tersebut mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang yang mereka butuhkan untuk membeli barang atau pakaian yang mereka inginkan.
Tentunya hal tersebut memiliki resiko yang besar. Jika seorang individu tetap melakukan aktivitas seperti itu secara berulang demi mendapatkan uang untuk memenuhi keinginan pribadi, ini membuktikan bahwa konsumerisme memang menjadi masalah yang cukup besar dalam masyarakat. Sifat individu yang selalu memaksa diri untuk mengikuti tren akan menimbulkan dampak buruk dari segi ekonomi pribadinya. Tren akan selalu ada dan akan selalu berganti. Tren skena bukanlah satu-satunya tren fashion yang menggempar. Pasti akan ada tren baru yang muncul, sehingga orang-orang yang menghabiskan energi dan uangnya untuk mengikuti tren skena akan tidak jauh dari masalah ekonomi, seperti terlilit hutang. Hutang tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga bisa menimbulkan masalah baru dengan orang lain. Tidak perlu dipikirkan lagi kejadian apa saja yang bisa terjadi akibat terlilit hutang, terutama berhutang kepada orang lain.
Selain masalah ekonomi, muncul juga masalah mental dalam diri individu yang merasa terpaksa untuk mengikuti tren tersebut. Mungkin terkesan sepele, tetapi tidak semua rasa paksaan itu langsung dari dalam dirinya sendiri. Bisa jadi, tekanan yang muncul berasal dari lingkungan sekitar. Seseorang yang mungkin tidak mempunyai keinginan atau selera yang sama untuk mengikut tren skena tertentu bisa ditertawakan, diejek, bahkan dikucilkan dari teman-temannya. Hal ini menunjukkan bahwa tren memang menjadi penentu layaknya seseorang dibilang “gaul” di kalangan masyarakat. Ini bisa berdampak buruk pada mental seorang individu. Runtuhnya kepercayaan diri mereka, serta hilangnya orisinalitas mereka memperburuk kondisi kesehatan mental. Mereka pun juga menjadi ketergantungan pada pilihan orang lain, sehingga tidak mempunyai ruang untuk memperdalam minat dan jati diri mereka. Dampaknya pada individu tidak bisa dipisahkan dengan dampak secara ekonomi. Orang yang diejek akhirnya akan merasa terpaksa untuk mengikuti tren dengan cara membeli baju yang sebenarnya tidak dibutuhkan, baik mereka memiliki uangnya atau tidak.
Patut ditegaskan bahwa ketergantungan dalam mencari tahu jati diri anak-anak muda hanya akan muncul jika mereka merasa terpaksa oleh orang lain untuk mengikuti tren “skena” ini. Skena bisa menjadi wadah yang positif apabila seseorang memang memiliki ketertarikan dari dalam dirinya sendiri untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai minatnya dalam dunia fashion dan musik. Tersebarnya tren skena mendorong kebebasan berekspresi dan eksplorasi anak-anak muda melalui pakaiannya. Kreativitas mereka pun meningkat karena adanya tren ini.
Dari fenomena tren skena, bisa dilihat dan dipahami bahwa suatu tren memiliki dua sisi yang harus dipertimbangkan. Tren skena, dan tren-tren lainnya, berkontribusi untuk meningkatkan perekonomian negara Indonesia dengan cara menyoroti bisnis-bisnis lokal dan juga industri hiburan, seperti konser dan festival musik. Tren skena ini juga membantu anak-anak muda untuk mengeksplorasi dirinya sendiri melalui pakaian dan minat. Namun, harus diperhatikan kembali bahwa tren skena juga bisa menekankan budaya konsumerisme di Indonesia, sehingga orang-orang yang ingin mengikuti tren merasa terpaksa untuk memenuhi keinginan material dalam dirinya sendiri. Paksaan ini bisa berakibat buruk dari segi ekonomi bagi orang-orang muda yang hanya mengikuti apa yang viral. Mereka dapat melakukan hal-hal yang kurang benar untuk mendapatkan apa yang mereka rasa dibutuhkan untuk merasa senang dan puas dalam hidup mereka.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0