Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pengalaman Mahasiswa Psikologi Unair Magang di RSD Prof. Dr. Moeljono

Magang
RSD Prof. Dr. Moeljono Surabaya Foto: Dok Penulis

Artikel Publikasi — Program Magang Program Studi Psikologi Universitas Airlangga
Penulis: Ayunda Putri dan Nabila Amaliyah

Kesehatan mental masih menjadi persoalan yang kerap luput dari perhatian, meskipun dampaknya dapat memengaruhi kondisi fisik, emosi, produktivitas, dan hubungan sosial seseorang.

Data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menunjukkan bahwa sekitar 970 juta orang di dunia hidup dengan gangguan mental pada 2019. Jumlah tersebut setara dengan satu dari delapan penduduk dunia, dengan gangguan kecemasan dan depresi sebagai kondisi yang paling banyak ditemukan. Angkanya kemudian mengalami peningkatan signifikan sejak pandemi COVID-19.

Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 9,8 persen atau setara dengan sekitar 20 juta orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil pendataan lima tahun sebelumnya.

Di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan mental, Rumah Sakit Daerah Prof. Dr. Moeljono Surabaya memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya di Jawa Timur.

Rumah sakit yang sebelumnya dikenal sebagai Rumah Sakit Jiwa Menur tersebut pada awalnya merupakan satu-satunya rumah sakit jiwa milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berfokus pada pelayanan kesehatan mental. Seiring perkembangan layanan, rumah sakit ini kemudian berganti nama menjadi RSD Prof. Dr. Moeljono karena menyediakan pelayanan kesehatan jiwa dan nonjiwa.

Dalam pelayanan kesehatan mental, RSD Prof. Dr. Moeljono menjalankan fungsi kuratif, preventif, dan rehabilitatif. Psikolog klinis turut memegang peran penting dalam proses asesmen, pemahaman kondisi pasien, serta penyusunan arah intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Untuk mempersiapkan calon tenaga profesional di bidang psikologi, mahasiswa membutuhkan pengalaman lapangan yang mampu mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik pelayanan secara langsung.

Kesempatan tersebut diperoleh dua mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga, Ayunda Putri dan Nabila Amaliyah, melalui program magang mandiri selama empat pekan di RSD Prof. Dr. Moeljono Surabaya.

Mengenal Praktik Psikologi Klinis secara Langsung

Program magang menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan realitas kerja di bidang psikologi klinis.

Selama empat pekan, kedua mahasiswa mengikuti berbagai kegiatan di tiga area pelayanan utama, yaitu Poli Psikologi, bangsal rawat inap, dan instalasi rehabilitasi.

Di Poli Psikologi, mahasiswa membantu proses administrasi layanan psikotes di bawah supervisi psikolog klinis. Kegiatan tersebut mencakup persiapan ruangan, penyediaan perlengkapan tes, serta pemantauan pelaksanaan sesi agar berjalan tertib dan kondusif.

Keterlibatan tersebut melatih ketelitian sekaligus memberikan pemahaman mengenai alur asesmen psikologis dalam lingkungan klinis.

Sementara itu, di bangsal rawat inap, mahasiswa melakukan observasi dan wawancara terhadap pasien. Mereka juga mendampingi sejumlah aktivitas rutin, seperti senam pagi dan Terapi Aktivitas Kelompok atau TAK.

Melalui proses interaksi yang dilakukan secara bertahap, mahasiswa belajar membangun hubungan dengan pasien yang memiliki karakteristik dan kondisi berbeda. Sebagian pasien dapat berinteraksi secara kooperatif, sedangkan pasien lainnya membutuhkan pendekatan yang lebih sabar, hati-hati, dan konsisten.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai berbagai gejala gangguan psikotik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk perubahan persepsi, proses berpikir, respons emosional, dan perilaku sosial. Kondisi yang sebelumnya dipelajari melalui buku dan ruang kelas dapat diamati secara langsung di lapangan.

Di instalasi rehabilitasi, mahasiswa turut mendampingi pelaksanaan art therapy atau terapi seni. Terapi ekspresif tersebut memberikan ruang kepada pasien untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya melalui media visual.

Selain terapi seni, instalasi rehabilitasi juga menyediakan terapi musik, terapi vokal, dan terapi okupasi sebagai bagian dari proses rehabilitasi psikososial pasien.

Memberikan Psikoedukasi kepada Pasien

Salah satu kontribusi mahasiswa selama menjalani program magang adalah menyelenggarakan kegiatan psikoedukasi bagi pasien di salah satu bangsal.

Seluruh proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan bimbingan serta pengawasan psikolog klinis RSD Prof. Dr. Moeljono.

Materi pertama yang diberikan adalah teknik relaksasi pernapasan diafragma atau diaphragmatic breathing. Teknik sederhana ini digunakan untuk membantu menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan.

Dalam kegiatan tersebut, pasien diajak mempraktikkan teknik pernapasan dengan menempatkan tangan pada bagian perut dan dada. Pasien kemudian diarahkan untuk menarik serta mengembuskan napas secara perlahan dan berulang selama beberapa menit.

Materi berikutnya adalah kegiatan “Pohon Kehidupan” atau tree of life. Kegiatan ini menggunakan pendekatan naratif yang dipadukan dengan aktivitas kreatif.

Pasien diajak menjawab sejumlah pertanyaan reflektif ringan mengenai keseharian, hal-hal yang disukai, orang terdekat, pengalaman bermakna, hingga cita-cita yang ingin diwujudkan.

Jawaban tersebut kemudian dituliskan pada kertas origami berbentuk daun dan ditempelkan pada media berbentuk pohon. Aktivitas ini dirancang untuk membantu pasien mengenali kembali sumber kekuatan, harapan, dan alasan untuk terus menjalani proses pemulihan.

Pelajaran yang Tidak Diperoleh di Ruang Kelas

Pengalaman magang memberikan pemahaman yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh hanya melalui literatur.

Mahasiswa menyaksikan secara langsung bahwa perilaku pasien dengan gangguan psikotik dapat dipengaruhi oleh kondisi emosional, respons lingkungan, dan pola interaksi interpersonal di sekitarnya.

Setiap pasien menunjukkan kebutuhan dan pola respons yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan yang empatik, fleksibel, dan tidak menghakimi menjadi hal penting dalam membangun hubungan yang aman.

Aspek keselamatan juga menjadi salah satu pelajaran utama selama menjalani magang. Pada tahap orientasi, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai prosedur keamanan di lingkungan bangsal.

Prosedur tersebut mencakup pembatasan barang pribadi yang berpotensi disalahgunakan serta langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi situasi impulsif atau tidak terduga.

Pemahaman mengenai prosedur keselamatan diperlukan untuk melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan mahasiswa. Pengalaman tersebut juga melatih mahasiswa agar mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan tetap berada dalam batas kewenangannya.

Selain keterampilan teknis, kegiatan magang semakin menegaskan pentingnya etika profesi psikologi. Salah satu prinsip yang harus dijaga adalah kerahasiaan informasi pasien.

Identitas, riwayat, kondisi psikologis, maupun informasi medis pasien tidak boleh disebarkan di luar kepentingan pelayanan, pendidikan, dan supervisi yang sah.

Tips Magang di Rumah Sakit Jiwa

Berdasarkan pengalaman tersebut, terdapat sejumlah hal yang perlu dipersiapkan mahasiswa sebelum menjalani program magang di rumah sakit jiwa atau fasilitas pelayanan kesehatan mental.

1. Memperkuat pemahaman teori

Mahasiswa perlu mempelajari kembali konsep dasar psikopatologi, pemeriksaan status mental, teknik observasi, dan berbagai kategori gangguan jiwa. Bekal teori yang kuat akan membantu mahasiswa memahami kondisi yang ditemukan di lapangan.

2. Membangun rapport secara bertahap

Hubungan yang nyaman dengan pasien tidak selalu dapat terbentuk dalam satu kali pertemuan. Mahasiswa perlu bersikap sabar, hangat, konsisten, dan tidak membuat pasien merasa sedang diinterogasi.

3. Bersikap netral dan tidak menghakimi

Cerita pasien perlu didengarkan dengan sikap terbuka, meskipun isinya terdengar tidak realistis, berulang, atau sulit dipahami. Respons yang menghakimi dapat merusak rasa percaya yang telah dibangun.

4. Mengutamakan keselamatan

Seluruh prosedur keselamatan, termasuk aturan mengenai barang bawaan dan penanganan situasi darurat, harus dipatuhi. Mahasiswa juga perlu segera meminta bantuan tenaga kesehatan apabila menghadapi situasi di luar kemampuan dan kewenangannya.

5. Selalu bekerja di bawah supervisi

Kegiatan asesmen, wawancara mendalam, psikoedukasi, maupun intervensi harus dilakukan berdasarkan arahan psikolog klinis yang berwenang. Mahasiswa belum memiliki kewenangan untuk menjalankan praktik psikologi secara mandiri.

6. Mengelola beban emosional

Mendengarkan pengalaman traumatis, menyaksikan gejala berat, atau menghadapi pasien dalam kondisi krisis dapat memengaruhi emosi mahasiswa. Refleksi diri dan konsultasi dengan dosen pembimbing atau supervisor diperlukan untuk menjaga kondisi psikologis.

7. Mencatat hasil observasi secara objektif

Catatan observasi dan wawancara sebaiknya dibuat sesegera mungkin setelah kegiatan selesai. Gunakan bahasa deskriptif dan objektif serta hindari penilaian pribadi yang bersifat menghakimi.

8. Menjaga kerahasiaan pasien

Informasi mengenai identitas, riwayat, diagnosis, dan kondisi pasien tidak boleh dibagikan kepada pihak yang tidak berkepentingan. Prinsip ini sejalan dengan kode etik psikologi dan ketentuan kerahasiaan rekam medis.

9. Memanfaatkan sesi bimbingan

Sesi supervisi dapat digunakan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami, mendiskusikan hasil observasi, dan memperoleh evaluasi mengenai pendekatan yang telah dilakukan.

10. Bersikap fleksibel menghadapi dinamika lapangan

Kondisi pasien dan jadwal pelayanan dapat berubah sewaktu-waktu. Kemampuan beradaptasi, kesiapan belajar, dan sikap proaktif akan membantu mahasiswa menjalani kegiatan magang dengan lebih baik.

Membangun Kesiapan sebagai Calon Profesional

Program magang di RSD Prof. Dr. Moeljono memberikan manfaat bagi mahasiswa, perguruan tinggi, dan institusi mitra.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan observasi, asesmen, psikoedukasi, intervensi, dan pendampingan pasien secara langsung. Pengalaman tersebut juga membantu mahasiswa membangun kesiapan mental sebelum memasuki dunia kerja profesional.

Bagi Universitas Airlangga, program magang mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis pengalaman sekaligus memperkuat jejaring kerja sama antara perguruan tinggi dan institusi pelayanan kesehatan.

Sementara itu, bagi RSD Prof. Dr. Moeljono, kehadiran mahasiswa magang dapat memberikan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan psikologi, rehabilitasi, dan edukasi kesehatan mental di bawah pengawasan tenaga profesional.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penanganan kesehatan mental tidak hanya membutuhkan penguasaan teori, tetapi juga empati, kesabaran, kemampuan beradaptasi, kepatuhan terhadap prosedur, dan komitmen menjaga etika profesi.

Melalui interaksi langsung dengan pasien dan tenaga kesehatan, mahasiswa dapat memahami bahwa setiap individu memiliki perjalanan pemulihan yang berbeda. Karena itu, pelayanan kesehatan mental harus diberikan secara manusiawi, aman, dan disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.