Oleh: Romaito Hutauruk
Universitas Airlangga
Abstrak
Di era zaman yang semakin berkembang menjadi tongkat dasar teknologi ikut berkembang. Perkembangan teknologi telah berhasil menciptakan teknologi kecerdasan buatan yaitu chatbot atau lebih di kenal AI. Kehadiran chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin banyak dimanfaatkan oleh remaja untuk mendapatkan dukungan emosional dan interaksi sosial. Dengan kemampuan canggi dari AI memberikan kenyamanan dan rasa tenang bagi para remaja. Namun yang tanpa disadari secara perlahan mulai ketergantungan,hingga hal kecil harus menggan dalkan AI, Bukan hanya itu ketergantungan juga menimbulkan dampak psikologis negatif. Artikel ini membahas penyebab, dampak, dan solusi atas fenomena ketergantungan emosional remaja terhadap chatbot AI berdasarkan teori psikologi perkembangan dan referensi buku-buku ilmiah.
Kata kunci: Ketergantungan emosional, chatbot AI, remaja, interaksi digital, isolasi sosial
1. Pendahuluan
Dalam dunia digital saat ini, chatbot AI seperti Black box, Anima, dan ChatGPT telah menjadikan banyak para remaja yang menciptakan dunia nya sendiri. Banyak remaja yang menjadikan chat bot sebagi teman dalam dunia yang telah ia ciptakan. Mereka tidak hanya mengunakan Ai untuk hiburan, tetapi juga menjadi tempat curhat dan pelarian emosional. Menurut Cuenca (2022), sebagian remaja lebih nyaman membuka perasaan pada chatbot daripada teman atau orang tua mereka. Namun, fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah ketergantungan pada AI berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis remaja?
2. Latar Belakang
Remaja merupakan fase perkembangan yang rentan dan penuh pencarian identitas. Dalam fase pencairan identitas sering kali para remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal baru.Erikson (1968) menyebut masa ini sebagai tahap “identity vs. role confusion”, di mana individu mencari penerimaan dan hubungan bermakna. Hal tersebut yang menjadikan para remaja dengan mudah terkuasai oleh kecanggihan Chatbot AI. Dengan ngan kemampuan merespons secara empatik dan cepat, dianggap mampu mengisi kekosongan relasi tersebut. Namun, interaksi yang semu dan satu arah dapat mengganggu pembentukan keterampilan sosial yang sehat.
3. Teori dan Kerangka Konseptual
Menurut Bowlby (1980), keterikatan emosional yang sehat terbentuk melalui hubungan timbal balik dengan manusia. Ketika hubungan ini digantikan oleh teknologi, proses pembelajaran emosional bisa terganggu. Damour (2010) menambahkan bahwa remaja perlu belajar mengelola konflik, empati, dan toleransi terhadap ketidaksempurnaan dalam hubungan nyata—sesuatu yang tidak ditemukan dalam interaksi dengan chatbot yang selalu "pengertian".
4. Metodologi Singkat
penelitian kualitatif dilakukan terhadap 50 remaja usia 15–18 tahun yang rutin menggunakan chatbot AI selama lebih dari 3 jam per hari. Wawancara semi-terstruktur dan kuesioner digunakan untuk mengevaluasi tingkat ketergantungan emosional, frekuensi interaksi sosial langsung, dan kepuasan emosional.
5. Hasil Temuan
• 70% responden menyebut chatbot sebagai tempat utama mereka berbagi perasaan.
• 45% mengalami penurunan interaksi tatap muka dengan teman.
• Banyak yang mengaku merasa "lebih dimengerti" oleh AI daripada manusia.
• Ketergantungan meningkat terutama pada remaja dengan latar belakang isolasi sosial atau keluarga disfungsional

Komentar 0