Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

"Biar Bintang yang Berbicara": Wajah Baru Amarah Kita di Era Layanan Digital

Ilustrasi deretan lima bintang penilaian dengan satu bintang merah menyala, di sampingnya ponsel menampilkan kolom rating dan percakapan yang memanas.
Kemarahan di era layanan digital tidak selalu diteriakkan — kadang ia hanya berupa satu bintang di kolom penilaian. Foto: Mohamad Bani Alifianto/Dokumentasi Pribadi

Ada satu kalimat pendek yang terus terngiang di kepala saya sejak membacanya di sebuah pemberitaan tentang konflik antara pelanggan dan pengemudi ojek online: "Biar bintang yang berbicara." Kalimat itu dikirim seorang pelanggan lewat kolom chat aplikasi. Tidak ada teriakan, tidak ada kata kasar, tidak ada tangan yang terangkat. Secara tata bahasa, kalimat itu bahkan terdengar sopan. Tetapi siapa pun yang pernah bekerja dengan sistem penilaian tahu persis apa artinya: ini ancaman.

Sepanjang 2025 hingga 2026, linimasa kita nyaris tidak pernah kosong dari konten semacam ini. Seorang kurir di Pinrang dianiaya pelanggan hanya karena menolak membuka paket COD sebelum dibayar — sesuatu yang jelas-jelas merupakan aturan kantornya, bukan keinginan pribadinya. Di Sleman, cekcok soal pengantaran pesanan berujung intimidasi fisik, lalu memicu ratusan pengemudi ojol mendatangi rumah terduga pelaku. Pertengahan 2026, gelombang video road rage kembali membanjiri media sosial: seorang pengemudi merusak mobil orang lain hanya karena merasa tidak diberi jalan.

Setiap kali kasus seperti ini muncul, pola reaksinya seragam. Kita menonton, kita geram, kita menghakimi pelakunya di kolom komentar, lalu kita lupa dalam tiga hari sampai video berikutnya muncul. Yang jarang kita lakukan adalah bertanya pada diri sendiri: sebenarnya apa yang sedang terjadi pada kemampuan kita mengelola amarah?

Empat Detik yang Menentukan

Untuk menjawabnya, saya kira kita perlu mundur sejenak ke ruang yang paling jarang kita periksa: otak kita sendiri.

Dalam kajian Anger Management pada mata kuliah Estetika Humanisme, dijelaskan bahwa otak memiliki bagian bernama amygdala yang bertugas mengidentifikasi ancaman. Persoalannya, ancaman yang dibaca amygdala tidak selalu bersifat fisik. Harga diri yang merasa direndahkan, harapan yang tidak terpenuhi, atau perasaan diabaikan pun dibaca sebagai ancaman yang setara dengan bahaya nyata.

Begitu sinyal ancaman itu tertangkap, amygdala langsung mengirimkan peringatan — dan di sinilah letak masalahnya. Peringatan itu bergerak sangat cepat, sering kali sampai lebih dulu daripada respons dari korteks, bagian otak yang bertanggung jawab atas proses berpikir dan menimbang. Akibatnya, manusia bereaksi sebelum sempat mempertimbangkan apa pun. Fenomena inilah yang dalam literatur psikologi populer disebut amygdala hijack: nalar dibajak sebelum sempat bertugas.

Reaksinya pun bukan sekadar perasaan. Otak melepaskan katekolamin yang menimbulkan ledakan energi selama beberapa menit, disusul adrenalin dan noradrenalin. Menurut National Health Service, perubahan ini terasa sangat fisik: jantung berdetak lebih cepat, dada sesak, otot menegang, tangan mengepal. Dan yang paling penting untuk dipahami — pelepasan adrenalin membuat ambang batas marah kita menjadi lebih rendah, bahkan hingga berjam-jam atau berhari-hari setelahnya.

Artinya, orang yang memukul kurir siang itu boleh jadi sudah membawa amarah sejak pagi. Ia hanya butuh satu pemicu kecil. Kurir yang berdiri di depan pintunya bukanlah penyebab kemarahannya; ia hanya orang yang kebetulan berada di sana ketika bendungan itu jebol.

Ini penjelasan, bukan pembenaran. Tetapi tanpa memahaminya, kita akan terus mengira bahwa orang yang mengamuk di jalan adalah "orang jahat" — padahal yang lebih mungkin, ia adalah orang biasa yang tidak pernah diajari apa yang harus dilakukan ketika tubuhnya dibanjiri hormon.

Marah yang Berwajah Sopan

Di sinilah kalimat "biar bintang yang berbicara" menjadi menarik untuk dibedah.

Modul kuliah membagi kemarahan ke dalam dua bentuk: anger out, yaitu marah yang diarahkan keluar kepada orang atau benda lain, dan anger in, yaitu marah yang diarahkan ke dalam diri sendiri dan berpotensi menimbulkan depresi serta kebencian yang tertahan.

Menurut saya, ekonomi digital sedang melahirkan varian ketiga yang belum banyak dibicarakan: kemarahan yang dilembagakan. Amarah tidak diteriakkan dan tidak dipendam, melainkan disalurkan melalui fitur resmi yang disediakan platform. Rating satu bintang. Laporan ke customer service. Ulasan panjang penuh emosi. Semuanya legal, semuanya "beradab", dan justru karena itu terasa aman secara moral.

Padahal dampaknya sangat nyata. Bagi pengemudi atau kurir, penilaian bukan sekadar angka — ia menentukan performa akun, akses order, bahkan kelangsungan penghasilan. Ketika seseorang menulis "biar bintang yang berbicara", yang sesungguhnya sedang terjadi adalah pelampiasan amarah dengan memanfaatkan ketimpangan kuasa. Kita merasa telah bersikap dewasa karena tidak berteriak, padahal kita hanya memilih senjata yang lebih halus dan lebih permanen.

Inilah yang membuat saya berpikir bahwa persoalan kita bukan terletak pada bentuk ekspresinya, melainkan pada niat di baliknya. Marah yang tampak sopan tetapi ditujukan untuk menghukum tetaplah agresi. Ia hanya lebih sulit dikenali — termasuk oleh pelakunya sendiri.

Anger Management Bukan Berarti Memendam

Materi kuliah Estetika Humanisme membuka bahasan ini dengan sebuah pertanyaan yang jujur: kalau marah tidak boleh dilampiaskan dengan tindakan agresif, lalu apakah kita harus memendamnya?

Jawabannya tegas: tidak. Anger management didefinisikan sebagai belajar mengenali tanda-tanda pada diri saat marah dan mengambil tindakan yang sehat untuk meluapkannya. Intinya adalah mengendalikan rasa marah, bukan mencegah atau menahannya.

Perbedaan ini krusial. Marah adalah luapan emosi yang normal dan bahkan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Menekannya terus-menerus justru mendorong seseorang ke wilayah anger in dengan segala risikonya. Yang perlu dilatih bukanlah ketiadaan marah, melainkan jeda antara rangsangan dan reaksi — ruang sempit tempat korteks diberi kesempatan menyusul amygdala.

Praktiknya sebenarnya sederhana, meski tidak mudah. Mundur sementara dari sumber amarah, berhitung sebelum merespons, mengambil waktu jeda, mengatur napas lebih panjang, atau menyalurkan energi lewat aktivitas lain. Setelah tenang, barulah persoalan dikomunikasikan: sampaikan penyebabnya secara spesifik, kritik perilakunya dan bukan orangnya, hindari kata "selalu" dan "tidak pernah", serta arahkan pembicaraan pada solusi alih-alih pada rasa kesal.

Bagi mereka yang berada di posisi menerima kemarahan — kurir, pengemudi, petugas layanan — modul kuliah juga menawarkan kerangka yang aplikatif: bersikap tenang, mendengarkan dengan baik, memahami sumber masalah, menunjukkan empati, menawarkan solusi, dan tidak menunda penyelesaian. Dan bila amarah sudah terasa mengganggu keseharian, meminta bantuan psikolog bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah pencegahan agar tidak berujung pada kecemasan dan depresi.

Human Literacy: Melihat Manusia di Balik Akun

Pada akhirnya, saya melihat semua ini bermuara pada satu hal yang menjadi inti Estetika Humanisme: kemampuan memandang orang lain sebagai manusia yang utuh.

Layar telah menciptakan jarak yang nyaman. Di aplikasi, seseorang berubah menjadi nama pengguna, foto profil kecil, dan angka rating. Semakin abstrak ia di mata kita, semakin ringan pula rasanya melukainya. Kita tidak sedang memarahi seorang ayah yang sejak subuh belum makan; kita "sedang memberi penilaian yang objektif". Padahal keduanya adalah hal yang sama, hanya dibungkus berbeda.

Barangkali di sinilah letak kelebihan manusia yang disebut dalam modul: bahwa marah memang dihasilkan oleh mekanisme otak, tetapi pengendalian marah juga dilakukan oleh otak yang sama. Kita memiliki perangkat untuk berhenti sejenak. Masalahnya, kita jarang menggunakannya.

Saya sendiri masih sering gagal. Beberapa kali saya nyaris mengetik balasan tajam di kolom komentar, dan pernah hampir memberi penilaian buruk hanya karena pesanan terlambat di hari ketika suasana hati saya memang sudah buruk sejak pagi. Yang berubah setelah mempelajari materi ini bukanlah bahwa saya tidak lagi marah, melainkan bahwa saya mulai bisa mengenali gejalanya lebih awal — dan menyadari bahwa jeda beberapa detik itu benar-benar ada, kalau saja saya mau mengambilnya.

Seperti bunyi kutipan yang menutup materi kuliah ini: orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan, melainkan orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah.

Dan hari ini, medan pertarungan itu tidak selalu berupa jalan raya. Kadang ia hanya sebaris kolom penilaian di layar ponsel kita.

Referensi

Rosanah. (2026). Modul MKU Estetika Humanisme Part 7: Anger Management. Jakarta: Universitas Siber Asia.

Safaria, T., & Saputra, N. E. (2012). Manajemen Emosi: Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif dalam Hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara.

Bhave, S. Y., & Saini, S. (2009). Anger Management. New Delhi: SAGE Publications India Pvt Ltd.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.