Mahasiswa.co.id - Pada tanggal 14 Februari nanti, akan diselenggarakan pemilihan umum atau biasa disingkat pemilu dalam rangka sebagai sarana memilih calon presiden dan wakil presiden, anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Pemilihan ini diadakan secara bersamaan di seluruh Indonesia, oleh karena itu pikirkan baik-baik dalam memilih pemimpin, karena para pemimpinlah yang menentukan arah Indonesia di masa depan.
Sebagai umat muslim yang akan memilih para calon pemimpin tersebut pastilah memilih dengan merujuk pada Alquran sebagai pedoman dalam memilih pemimpin yang baik. Berikut beberapa dalil Alquran tentang memilih pemimpin.
“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali.” (QS : Ali Imron [3] : 28)
“Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS : An Nisa’ [4] : 144)
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) sebagai pemimpinmu. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.” (QS : Al-Ma’aidah [5] : 57)
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara- saudaramu menjadi pemimpinmu jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS : At-Taubah [9] : 23)
Dari keempat dalil tersebut disimpulkan bahwa syarat utama memilih pemimpin harus beragama islam karena jika tidak beragama islam dikhawatirkan akan mengambil keputusan yang merugikan umat islam. Seperti yang kita tahu bahwa umat islam di Indonesia sekitar 231 juta jiwa atau sekitar 86.7% dari jumlah seluruh rakyat Indonesia, yang mana agama islam menjadi agama mayoritas di Indonesia saat ini.
Selain mengacu pada Alquran, kita juga bisa melihat dari tiga sifat wajib yang dimiliki Rasulullah SAW dalam memilih pemimpin yaitu shidiq, amanah, dan fatonah.
Yang pertama, Shidiq artinya jujur atau benar, maksud dari kata shidiq berarti jujur dalam bertutur kata maupun sikap. Jika diimplementasikan pada kehidupan masa kini yaitu seorang pemimpin tidak melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme atau biasa disingkat KKN. Sebagai contoh dalam memilih presiden dan wakil presiden pada 14 Februari nanti, hendaknya kita lihat rekam jejaknya, apakah pernah melakukan KKN atau tidak ketika menjabat dahulu sebelum dicalonkan dalam pemilihan capres dan cawapres.
Yang kedua, arti dari amanah adalah dapat dipercaya. Seorang pemimpin yang baik haruslah dapat dipercaya dalam menjalankan kewenangan karena menyangkut kepentingan rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik adalah jika berjanji dia tidak menghianati, maka jika dia mengerti pasti dia tidak asal mengucap janji sekiranya dia tidak mampu. Lagi-lagi, lihatlah rekam jejaknya ketika menjabat, apakah dia bisa menepati janji yang pernah digembor-gemborkan ketika berkampanye atau tidak.
Lalu ketiga adalah fathonah yang artinya cerdas, sebenarnya cerdas sendiri memiliki beberapa jenis, namun disini saya akan sedikit menjelaskan tiga jenis kecerdasan dari enam jenis kecerdasan. Yang pertama yaitu IQ (Intellegence Quotient) kecerdasan manusia dalam menalar, merencanakan sesuatu, kemampuan dalam memecahkan masalah, dan lain sebagainya. Yang kedua yaitu EQ ( Emotional Quotient ) adalah kemapuan dalam mengendalikan hati dan emosi, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya. Lalu yang ketiga adalah SQ ( Spiritual Quotient ) adalah kecerdasan spiritual membuat individu mampu memaknai setiap kegiatannya sebagai suatu ibadah serta menyelesaikan masalah dengan baik agar memperoleh ketenangan dan kedamaian hati. Itulah beberapa kecerdasan yang sekiranya harus ada dalam diri seorang pemimpin dalam menyelesaikan persoalan dalam kehidupan bernegara nanti. Karena seperti yang kita tahu bahwa persoalan negara sangat banyak dan ruwet namun harus diselesaikan.
Itulah tiga sifat wajib Rasulullah SAW sebagai acuan dalam memilih pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik memberi pengaruh positif kepada orang yang dipimpinnya maka jangan sampai salah dalam memilih pemimpin apalagi dengan masa jabatan lima tahun itu tidak sebentar. Maka pilihlah pemimpin yang beragama dengan baik juga memiliki tiga kriteria sifat wajib yang dimiliki oleh Rasulullah SAW sebagai acuan agar negeri ini mendapat keberkahan dari Allah SWT.
Oleh: Nisrina Hanun Amiroh, Mahasiswi STEI SEBI Depok
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0