Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Dosen Polines Pasang Jaringan Internet Nirkabel Point to Point untuk Kandang Ayam Smart Closed House di Wonolopo, Mijen

Tim PMK Polines
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Semarang saat melaksanakan pemasangan jaringan internet nirkabel di Kandang Ayam Ikhsan, Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. (Foto: Tim PMK Polines)

SEMARANG, Mahasiswa.co.id — Tim dosen Politeknik Negeri Semarang (Polines) memasang jaringan internet nirkabel berbasis point to point (PtP) untuk mendukung operasional kandang ayam pintar milik Ikhsan di Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026).

Pemasangan jaringan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif (PMK) Polines Tahun 2026 yang didanai melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Polines.

Program ini bertujuan membantu peternak mengatasi keterbatasan akses internet sekaligus mendukung penerapan teknologi digital dalam pengelolaan peternakan ayam modern.

Kandang ayam milik Ikhsan telah menerapkan sistem smart closed house, yakni konsep kandang tertutup dengan pengendalian kondisi lingkungan untuk menjaga kesehatan dan produktivitas ayam.

Sistem tersebut membutuhkan dukungan teknologi Internet of Things (IoT) agar berbagai parameter lingkungan kandang dapat dipantau dan dikendalikan secara berkelanjutan.

Namun, lokasi peternakan yang berada di wilayah pinggiran Kota Semarang menghadapi kendala berupa keterbatasan jangkauan dan kestabilan jaringan internet.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena sistem pemantauan kandang berbasis IoT memerlukan konektivitas yang memadai agar proses pengumpulan data dan pengendalian perangkat dapat berjalan dengan baik.

Selain persoalan jaringan, kemampuan teknis peternak dalam mengoperasikan dan merawat perangkat komunikasi nirkabel juga masih perlu ditingkatkan.

Gunakan Teknologi Point to Point Frekuensi 5 GHz

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim pengabdian Polines menerapkan jaringan komunikasi nirkabel point to point menggunakan pita frekuensi 5 GHz.

Teknologi ini memungkinkan komunikasi antara dua titik menggunakan antena terarah sehingga pancaran sinyal lebih terfokus pada lokasi tujuan.

Foto ketiga: Tim Polines memasang tiang antena di sisi dinding bangunan kandang ayam. (Foto: Tim PMK Polines)
Foto ketiga: Tim Polines memasang tiang antena di sisi dinding bangunan kandang ayam. (Foto: Tim PMK Polines)

Dibandingkan jaringan Wi-Fi dengan pancaran menyebar, penggunaan antena terarah dapat membantu meningkatkan kualitas sambungan apabila pemasangan, konfigurasi, dan kondisi lintasan sinyal mendukung.

Perangkat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah radio Ubiquiti LiteBeam M5.

Perancangan jaringan dilakukan berdasarkan perhitungan RF power link budget, yaitu metode untuk memperkirakan kekuatan sinyal dengan mempertimbangkan daya pancar, penguatan antena, kehilangan daya, serta margin penerimaan sinyal.

Perhitungan tersebut menjadi dasar dalam menentukan konfigurasi jaringan agar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi geografis lokasi peternakan.

Pada tahap pemasangan, tim terlebih dahulu melakukan pemeriksaan perangkat dan perakitan antena sebelum memasangnya pada tiang penyangga di sisi dinding bangunan kandang.

Antena kemudian diarahkan menggunakan kompas pada sudut sekitar 130 derajat atau menghadap tenggara.

Pengarahan tersebut disempurnakan melalui proses site survey untuk mengidentifikasi kondisi kanal dan keberadaan pemancar lain di sekitar lokasi.

Selanjutnya, tim melakukan konfigurasi perangkat menggunakan laptop. Jaringan diatur menggunakan kanal 151 pada frekuensi 5755 MHz dengan lebar kanal 20 MHz.

Hasil Pengujian Menunjukkan Kualitas Sambungan Meningkat

Setelah proses pemasangan dan konfigurasi, tim melakukan pengamatan terhadap kualitas sambungan jaringan.

Hasil pembacaan perangkat menunjukkan adanya peningkatan kualitas sambungan selama proses penyesuaian arah antena.

Foto keempat: Konfigurasi perangkat dan pemeriksaan kualitas sambungan jaringan internet menggunakan laptop. (Foto: Tim PMK Polines)
Foto keempat: Konfigurasi perangkat dan pemeriksaan kualitas sambungan jaringan internet menggunakan laptop. (Foto: Tim PMK Polines)

Pada pengamatan terakhir, jarak sambungan tercatat sekitar 0,3 kilometer atau 300 meter, dengan kekuatan sinyal sebesar -79 dBm.

Sementara itu, nilai Client Connection Quality (CCQ) mencapai 90,6 persen dan indikator airMAX Quality berada pada angka 69 persen.

Perangkat juga mencatat laju transmisi atau TX rate sebesar 72,2 Mbps. Angka tersebut merupakan indikator laju komunikasi pada sambungan radio, bukan hasil pengukuran langsung kecepatan internet yang diterima pengguna.

Meski menunjukkan perkembangan positif, tim menilai kualitas jaringan masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.

Penyempurnaan terutama diperlukan pada pengaturan arah dan ketinggian antena serta pengujian kecepatan unggah dan unduh untuk memperoleh gambaran performa jaringan secara lebih menyeluruh.

Pengujian lanjutan tersebut direncanakan menjadi bagian dari proses evaluasi program.

Peternak Mendapat Pelatihan Pengoperasian Jaringan

Kegiatan pengabdian ini tidak hanya berfokus pada pemasangan perangkat, tetapi juga mencakup pelatihan dan pendampingan bagi pemilik kandang.

Tim Polines memberikan pemahaman mengenai prinsip kerja jaringan nirkabel, cara mengoperasikan perangkat, perawatan sederhana, hingga langkah awal penanganan gangguan koneksi.

Pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemandirian peternak dalam mengelola infrastruktur jaringan setelah program pengabdian selesai dilaksanakan.

Dalam pelaksanaannya, mitra peternak turut berkontribusi dengan menyediakan lokasi pemasangan, sumber listrik, serta dukungan untuk pemantauan dan evaluasi kinerja perangkat secara berkala.

Gambar isi artikel

Sebagai bagian dari rencana keberlanjutan, tim juga mendorong pembentukan kelompok pengelola kandang yang dapat melibatkan peternak lain maupun unsur karang taruna setempat.

Melalui pendekatan tersebut, pengetahuan mengenai jaringan komunikasi nirkabel diharapkan tidak hanya dimanfaatkan oleh satu peternak, tetapi juga dapat dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Dorong Digitalisasi Peternakan Berbasis IoT

Program pengabdian ini dilaksanakan oleh tim dosen Jurusan Teknik Elektro dan program studi terkait di Polines dengan melibatkan mahasiswa.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Selain memberikan solusi terhadap permasalahan konektivitas di lokasi peternakan, hasil kegiatan juga direncanakan menjadi bahan publikasi ilmiah dan pengembangan teknologi tepat guna.

Teknologi jaringan nirkabel yang diterapkan berpotensi direplikasi pada peternakan lain, terutama yang berada di wilayah dengan keterbatasan akses internet.

Dengan tersedianya infrastruktur komunikasi yang lebih memadai, sistem pemantauan dan pengendalian kandang berbasis IoT diharapkan dapat bekerja lebih optimal.

Pemanfaatan teknologi tersebut juga diharapkan membantu peternak memperoleh informasi kondisi kandang secara real-time, mempercepat pengambilan keputusan, serta mengurangi risiko gangguan produksi akibat keterbatasan informasi.

Melalui program ini, Polines berupaya memperkuat penerapan teknologi tepat guna sekaligus mendorong transformasi digital pada sektor peternakan skala masyarakat.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.