Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Limpapeh Rumah Nan Gadang Digerus Modernisasi

Rumah Nan Gadang
Sumber: Indonesia Travel

Mahasiswa.co.id - Bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, umbun puro aluang bunian, pusek jalo kumpulan tali, hiasan dalam nagari. Nan gadang basa batuah, kok hiduik tampek banasa, kok mati tampek baniyaik, kaunduang-unduang ka Madinah, ka payuang panji ka Sarugo. Demikian lah pepatah Minang mendeskripsikan perempuan.
Jika memandang perspektif gender, menyoal tentang perempuan kendatinya mengarah pada feminisme semata. Lain halnya jika melihat sudut pandang adat dan budaya, bagaimana suatu suku memposisikan perempuan dalam lingkup keadatan. Ialah adat Minang sebagai salah satu dari sedikitnya penganut sistem kekerabatan matrilineal di dunia, yang telah mengatur segala aspek kehidupan masyarakatnya termasuk kedudukan perempuan. Alih-alih menuntut kesetaraan gender, dengan sendirinya perempuan Minang telah diberi porsi dan posisi istimewa oleh adat dan budaya (Nurman, 2019).

Lindayanti, dosen sejarah Universitas Andalas menyatakan bahwa presepsi Minangkabau menempatkan perempuan pada posisi sentral dengan nilai-nilai demokratis yang diperuntukkan bagi mereka. Mengacu pada kajian filosofis, identiknya perempuan Minangkabau ialah limpapeh rumah nan gadang. Artinya perempuan merupakan pewaris dan penghuni tetap rumah gadang dalam kaumnya. Perempuan Minang dengan karakter dan identitas yang kuat merupakan lambang moralitas yang tidak hanya berkedudukan dalam keluarga melainkan juga dalam kaumnya.

Bertolak pula dari sistem kekerabatan berdasarkan garis keturunan ibu, maka segala bentuk sumber-sumber ekonomi dan pemanfaatannya juga diperuntukkan bagi kaum perempuan. Sementara jika dilihat dari konteks dinamika perpolitikan dalam musyawarah adat, Idrus Hakimy (1931) mengungkapkan suara bundo kanduang amat menentukan keputusan. Bahkan tingkuluak tanduak hiasan kepala simbolis perempuan Minang juga merepresentasikan peran dan kedudukan mereka.

Tingkuluak tanduak berbentuk gonjong yang menurut tambo merupakan mahkota bercabang dua sebagai simbol kolaborasi antara timur dan barat dijadikan sebagai penutup kepala perempuan Minang. Hal ini menunjukkan betapa berpengaruh dan berperannya perempuan tak hanya dalam keluarga, melainkan juga bagi kaum dan nagarinya. Di dalam kepala yang terlindung tingkuluak tanduak itu lah termaktub konsep adat dan syara’ yang saling mendominasi. Betapa adat Minangkabau begitu mengelu-elukan perempuan. Lantas masih relevan kah nilai-nilai luhur yang menjunjung tinggi perempuan Minang dengan kondisi masa sekarang ini?

Dewasa ini, hampir semua sendi kehidupan manusia dicover oleh kemajuan teknologi. Nyaris tak ada satu pun orang yang luput dari kecanggihan-kecanggihan yang tersaji. Namun tak ayal, banyak sedikitnya arus kemajuan zaman juga berdampak negatif pada kehidupan sosial budaya. Ini lah yang menjadi sorot problematika kehidupan perempuan Minang saat ini. Jika dikomparasikan dengan pribadi perempuan Minang tempo dulu yang otentik mencitrakan keanggunan, kewibawaan, simbol moralitas, beradat, bermartabat, serta berbudi tinggi agaknya jauh berbeda dengan perempuan Minang yang lahir dan tumbuh kembang dari rahim modernitas saat ini.

Beberapa nilai yang mencirikhaskan kultur masyarakat Minang sulit ditemukan pada jati diri perempuan saat ini, akibat digerus oleh perkembangan zaman. Konsepsi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah seolah mulai pudar dan digantikan oleh gaya hidup modernis ala-ala barat. Hal ini mungkin terlihat dari cara berpakaian, tutur kata, pergaulan, tingkah laku dan kurenah yang menjauh dari konsep falsafah tersebut.

Perubahan-perubahan yang terjadi ini tidak dapat pula dipisahkan dari teori manusia sebagai makhluk dinamis menurut Karl Marx. Dimana manusia akan senantiasa mengalami perubahan mengikuti pergerakan zaman menuju kehidupan ideal (maju) yang tak ada habisnya. Akan tetapi, perubahan gaya hidup di kalangan perempuan Minang ini justru berakibat pada runtuhnya fondasi karakter gadih Minang sebagai figur penerus bundo kanduang kelak.

Geliat perubahan zaman yang tak terkendali ini tampaknya telah mengubah haluan dan cara pandang perempuan Minang. Kebanyakan dari mereka mengantongi presepsi bahwa ekspresi diri adalah kebebasan yang utama hingga tanpa sadar telah melampaui batas-batas yang digariskan adat dan syara’. Sebagian juga berpandangan bahwa adat istiadat dan tata aturan lokal tak lagi sesuai dengan life style di era milenial ini, bahkan tak jarang yang menyebutnya “ketinggalan zaman”. Alhasil, tanpa filterisasi yang baik budaya luar dijajal demi menyetarakan diri dengan kemajuan zaman. Padahal tak selamanya budaya lokal menolak perkembangan yang ada. Keduanya tetap dapat berjalan berdampingan selama ditempatkan pada posisi yang lazimnya.

Oleh sebab itu, mempertahankan karakter dan jati diri perempuan Minang menjadi tantangan yang cukup berat di era modern ini. Sebab kita mesti bersaing dengan segala bentuk kemajuan dan kecanggihan teknologi yang tak ada hambatnya. Dewasa ini, cerdas dan pekerja keras saja tak cukup untuk menjadi tameng bagi perempuan Minang menghadapi arus zaman. Melainkan perempuan nan tau jo tampeknyo. Perempuan yang tahu kapan harus membuka jendela rumah gadang seluas-luasnya untuk dapat melihat cakrawala, namun juga tanggap cepat-cepat menutupnya andai kata apa yang ia pandang dari luar justru merugikan keluarga bahkan kaumnya.

Lantas bagaimana kah perempuan Minang yang semestinya di era revolusi industri 4.0 saat ini? Idealnya perempuan Minang ialah perempuan yang sepenuhnya menyadari harkat martabat dan posisinya dalam adat. Perempuan yang mampu beradaptasi dengan dunia luar tanpa meninggalkan nilai adat dan syara’ yang menjadi pedoman hidup. Saat ini tidak dapat pula dipungkiri bahwa perempuan juga memiliki hak untuk mengembangkan diri dan ikut andil dalam berbagai ranah profesi yang diminati. Perempuan Minang tak melulu harus berkurung diri di dalam rumah sehingga tak tersentuh kemajuan zaman. Setiap mereka berpeluang besar akan hal itu, tanpa sedikit pun melupakan posisi kekalnya sebagai limpapeh rumah nan gadang. Maka, di sini lah tantangannya untuk menjadi perempuan Minang yang ideal di era modern. Mereka harus mampu menempatkan diri sebaik mungkin agar tak lepas dari kendali adat, namun juga tak juga tertinggal dari perkembangan zaman.

Novia Rahmadani
Mahasiswi Sejarah Peradaban Islam
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.