Oleh: Nur Fazillah
Mahasiswa.co.id - Namanya dila,sejak kelas VII, ia dikenal sebagai gadis yang penuh semangat. Ia sering mewakili sekolah dalam lomba pidato dan aktif di organisasi OSIS. Senyumnya hangat, dan banyak guru menyayanginya. Tapi semua berubah saat dia naik kelas VIII.
Suatu hari, saat ia berhasil memenangkan lomba puisi antar sekolah, seorang teman sekelas bergumam dengan nada sinis, “Pasti jurinya kasihan karena dia rajin sok baik.” Dila mendengarnya. Ia tertawa kecil saat itu, menganggap itu hanya gurauan saja. Tapi ejekan itu tidak berhenti. Setiap prestasinya mulai dianggap ‘dibuat-buat’, dan semakin banyak teman yang ikut menyindirnya. Ada yang menulis “si pencari perhatian” di papan tulis. Ada yang diam-diam merekam video saat ia sedang membaca puisi, lalu mengeditnya dengan musik lucu dan menyebarkannya di media sosial.
Awalnya ia menahan. Tapi lama-lama, senyum dila memudar. Ia tidak lagi semangat sekolah. Ia datang terlambat, pulang cepat, dan lebih banyak diam di kelas. Ia mulai sering mengalami mimpi buruk. Detak jantungnya sering berpacu tak karuan setiap kali bel masuk berbunyi. Trauma itu membekas, membuat ia takut menghadapi hari-hari biasa.
Suatu pagi, ibunya membangunkan dila yang masih meringkuk di tempat tidur. “dila, kamu nggak sekolah?”
“Aku sakit, Bu,” jawab Dila pelan.
Ibunya menyentuh dahinya. “Kamu nggak demam.”
“Aku Cuma nggak bisa napas pas mikirin sekolah...,” gumamnya nyaris tak terdengar.
Kecemasan itu mengikat tubuh dan pikirannya. Ia merasa lemas, tidak fokus, dan mudah panik. Di sekolah, setiap suara tawa terdengar seperti ejekan. Ia tak berani presentasi, bahkan enggan menjawab saat namanya dipanggil guru.
Nilai-nilainya anjlok. Dila, yang dulu selalu di tiga besar, kini tak masuk sepuluh besar pun. Buku catatannya mulai kosong, tugasnya sering tak dikumpulkan. Penurunan prestasi itu mengundang pertanyaan guru, tapi tak satu pun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Komentar 0