Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Kisah Sedarah Saudara Kandung

thumb

Seorang adik terbaring lemah dan tak berdaya dirumah petakan kontrakan yang ia tinggali bersama anaknya yang masih usia dini

Tetapi saudara dan kerabat yang lain tak menggubrisnya akan situasi sang adiknya, karena mereka takut akan dimintakan bantuan suatu biaya karena dianggapnya sering merepotkan dan menyusahkan keluarga dan kerabatnya dan lebih memilih diam serta mengacuhkan dan mengabaikan sang adik yang sedang dalam kesusahan dan membutuhkan perhatian serta bantuan dari keluarganya

Keadaan sang adik semakin terkulai lemas dan tak berdaya akan suatu derita sakit yang ia alami di rumah kontrakannya dan menangis sedih, bukan karena meratapi kesulitan dan keterpurukan akan suatu kondisi ia yang sedang sakit, melainkan karena suatu pengabaian dan ketidak pedulian nya terhadap saudara kerabat kandungnya sendiri yang sedarah tepat ketika dia sangat membutuh kan perhatian dan bantuan uluran tangan dari mereka.

ia pun berusaha tegar dengan berusaha untuk mengobati sakit yang ia alami dengan meminum obat seadanya, namun dibalik ketegaran dan semangat juang untuk sembuh terselip suatu kata dan pertanyaan yang mengganjal hati dan pikirannya,

" Apakah Aku sudah tidak dianggap nya sebagai sedarah sekandung oleh mereka sehingga mereka memperlakukan ku sperti ini, Dan apakah aku terlalu sering merepotkan serta menjadi beban dan menyusahkan saudara kandungku, sehingga mereka bosan dan muak terhadapku...! "

Pertanyaan itu slalu sering dan muncul di dalam hati dan benak pikirannya hingga ia menangis sedih karena sudah tidak ada lagi kepedulian dari mereka terhadap sedarah sekandung....
Setiap usaha dan semangat juangnya yang ter papah air matanya berlinang karena saudara dan kerabat sekandungnya hanya melihat dari suatu status medsosnya dan tidak ada satupun kepedulian, baik itu memberikan suatu perhatian melalui pesan mesenger sebagai ungkapan kepedulian, dan perhatian mereka

Mereka hanya sebatas melihat saja, Namun sang adik tetap tegar dan tidak merasa dendam atas apa yang sudah mereka lakukan terhadapnya.

Dan ketika status di dalam Medsos nya menghilang, Mereka berpikir bahwasanya adiknya itu sudah sembuh dan sehat seperti sedia kala, Namun tanpa mereka sadari kondisi adiknya smakin lemah dan kritis dan berpesan kepada anak perempuan yang tinggal bersamanya untuk melarang membuat status tentang keadaan dirinya, sang anak pun ikut melinang kan air mata dan sedih meratapi nasib sang ayah yang tidak ada lagi kepedulian dari saudara kandungnya...

Bahkan hingga kondisi keadaan adiknya pun semakin parah, Mereka tetap acuh dan tak peduli, hingga sampai ke telinga saudara kandungnya pun tentang kabar dan kondisi adiknya yang semakin melemah dan krtits, Saudaranya hanya terdiam, mungkin beberapa abangnya dan saudaranya yang lain berpikir

" Buat apa ditengok nti juga Sembuh sendiri, memang ke sna tidak perlu ongkos, belum lagi ngasih buat jajan anaknya"

" Biarin aja nanti juga kalo dia perlu uang buat berobat akan ngabarin "

" Ada - ada aja, selalu aja ngerepotin dan bikin beban aja..."

Jangankan untuk mengunjunginya satu per satu dari mereka tidak ada seorang pun yang mengirimkan suatu kata perhatian untuknya...

Selang beberapa hari kemudian tersirat kabar bahwasanya adik kandungnya yang seibu dan sebapak telah meninggal dunia dan tidak ada seorang pun dari saudara sekandung nya yang menjenguk ataupun iba terhadap dirinya, Ia meninggal didalam ke meranaan sendirian dalam suatu keegoisan, keangkuhan dan kesombongan atas pemikirannya bahwa adiknya sering kali meminta bantuan materi dan slalu saja merepotkan dan menjadi beban pada saudara dan kerabat kandungnya.

Pada hal belum tentu bantuan materi yang ia butuhkan, mungkin yang ia butuhkan sebuah perhatian, semangat, dan sportivitas untuk membangkitkan semangat juangnya dalam suatu usaha untuk kesembuhannya.

Entah mereka menyesali ataukah hanya sedih sesaat atas kepergian adik kandung nya itu

Karena penyesalan yang ada di dalam diri mereka sudah tak berguna, meski mereka kini pergi untuk ber bela sungkawa akan kepergian adik kandungnya yang sedarah, serahim ibu dan sebapak itu, bahkan mereka punya alasan untuk pergi ke sna tanpa berpikiran dan buruk sangka apapun.

Setibanya di rumah kontrakan yang kecil dan satu petak adiknya tinggal bersama anak perempuannya yang masih berusia belia, Mereka menangis dan bersedih bahkan memeluk anak dari sang adik kandungnya, seraya ia meminta maaf kepada anaknya, namun permintaan maaf itu sudah terlambat karena sang adik kandung sudah pergi meninggalkan dunia dan tak kan pernah kembali lagi..

Sesaat sebelum meninggal ia berpesan melalui tulisan pada secarik kertas untuk anaknya

" Nak...!!
Meski Ayah memiliki saudara kandung dan kerabat, Mereka mungkin berpikir karena seringnya ayah selalu meminta bantuan dan selalu merepotkan serta menjadi beban atas setiap kesulitan dan kesusahan diri kita, untuk itu, janganlah kamu terpaku akan saudaramu, janganlah kamu berharap akan suatu bantuan saudaramu apalagi meminta bantuan suatu materi untuk membantumu dalam kesusahan dan kesulitan dalam kehidupanmu , Karena bisa jadi mereka berpikir, akan menjadi beban untuk kehidupan mereka, Jadilah dirimu sendiri yang tanpa bantuan dari saudara kandungmu karena itu akan membuat dirimu tidak dikucilkan dan direndahkan oleh saudara kandungmu...

Sebab jika dalam hidupmu, Kamu terlalu sering meminta bantuan dan berharap bantuan dari saudara kandungmu, baik itu materi ataupun hal lain yang kamu perlukan di dalam kesusahanmu, Disitulah mereka menilai mu dan berpikir bahwasanya kamu menjadi beban dan menyusahkan saudara kandung mu, Meski ajara agama mengajarkan

" Tolong menolong lah kamu dalam suatu kesusahan dan kesulitan diantara saudara kandungmu, Namun mungkin mereka lebih baik memilih menolong orang lain dari pada orang yang sedarah dan sekandungnya, karena menolong orang lain, Mereka akan mendapatkan suatu pujian,.perhatian dari orang lain yang melihatnya...

" Dan Seseorang tidak akan menolong mu menyeberangi sungai hingga ketepian dengan rakit, Padahal mereka tau kamu tidak dapat berenang, Tetapi mereka akan menyeberangi lautan dengan suatu kapal pesiar, Hanya untuk melihat pemakamanmu, Disaat jasad mu terbujur kaku tanpa nyawa "

" Karena sesungguhnya isak tangis dan penyesalan saat pemakaman yang jatuh di kuburan mu, Bukan karena kehilangan semata melainkan, Kesedihan sesaat..."

Salam

Hendra Epoi

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.