Mahasiswa,co.id - Aku menyaksikan kebahagian lelali itu di atas panggung yang megah. Aku duduk sendirian sambil sesekali tersenyum pahit. Di moment yang berharga itu, lelaki dengan pakaian kebesarannya itu memberi judul kisah hidupnya; Antara Tuhan dan Dia
***.
Sore itu, di sebuah biara kecil digelarkan rapat bersama sejumlah frater yang akan menjalani Tahun Orentasi Pastoral (TOP).
“Selamat sore untuk kita semua,”seorang Pater menyapa dengan suara tegas.
“Selamat sore juga Pater”
“Saya akan membacakan nama-nama dan tempat TOP bagi para Frater.” Ia menatap layar leptopnya, lalu mulai membaca nama-nama yang tertera.
“Frater Glen akan melaksanakan TOP-nya di Paroki Salib Suci”.
“Ha???!” Seorang frater yang duduk di sudut belakang ruangan terkejut bukan main mendengar hal itu.
Pasalnya, ia belum pernah mendengar nama Paroki tersebut. Bahkan tidak pernah ada dalam bayangannya, bahwa ada nama paroki seperti itu di belahan dunia ini. Hari terus berlalu dan Frater Glen masih memikirkan tempat TOP-nya yang baginya tidak menarik. Namun, itu semua harus ia terima karena merupakan salah satu syarat untuk melanjutkan ke tahap formasi berikutnya. Hal itu semakin tak bisa ia hindari, ketika tibalah harinya dimana semua Frater-Frater akan berangkat ke masing masing tempat TOPnya.
Dalam perjalanan menuju paroki Salib Suci, Frater Glen merasa tidak nyaman dan masi memikirkan tentang tempat TOPnya. Setibanya di depan halaman Paroki Salib Suci, Frater Glen disambut dengan baik oleh Pastor Paroki dan umat paroki yang ada di sekitar Pastoran. Dengan penuh antusias Pastor Paroki mengantar Frater Glen ke pastoran. Lalu menikmati rahmat perjumpaan itu bersama-sama.
Hari-hari berlalu dan Frater Glen mulai bergaul dan akrab dengan umat yang ada di paroki tersebut. Frater Glen bahkan sudah mulai mengadakan kegiatan-kegiatan rohani seperti katekese dan pelayanaan di stasi-stasi di Paroki tersebut. Dan semuanya berjalan dengan baik.
Ketika ia merenungi itu, suatu malam itu, di depan teras pastoran taulah ia bahwa Pastor Paroki dan umat di situ sangatlah baik kepadanya dan tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan selama ini. Dan ia berjanji kepada dirinya akan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan berpastoral.
“Frater nanti Frater bantu latih kor untuk OMK (Orang Muda Ktolik) Stasi Santo Agustinus ya” ungkap sang pastor, di suatu pagi. Seketika itu juga ruang makan menjadi sangat sunyi. Tak ada yang bersuara, hingga beberapa menit kemudian.
“Baik.....Romo........” akhirnya ia bersuara juga, meskipun dengan nada ragu-ragu.
“Jam berapa Romo mulainya?”
“Jam 4 sore Frater.”
Sore itu Frater Glen memulai kegiatan latihan kor bersama OMK dari St. Agustinus. Frater berkumis tipis itu, sangat senang karena OMK di situ sangatlah antusias dengan kegiatan latihan kor.
Waktu terus berjalan dan Frater Glen suda mulai akrab dengan semua orang-orang muda di sana. Frater Glen juga semakin akrab dengan Anas seorang yang renda hati dan murah senyum. Ia adalah seorang gadis yang aktif di semua kegiatan, baik itu kegiatan OMK maupun kegitan Paroki.
Perempuan berpars cantik itu juga mengajar anak-anak sekami (sekolah mingguan) yang ada di Paroki. Ketika mengenal Anas, frtaer Glen merasa semacam ada warna lain dalam praktik pastoralnya. Lantas ia pun makin semangat. Hatinya selalu menyala untuk menjalankan berbagai kegiatan di paroki. Dan hubungan antara keduanya pun semakin dekat. Bahkan frater yang terkenal dengan keramahannya itu mulai mencintai Anas dengan diam-diam. Namun, ia sadar ia tak boleh menduakan Tuhan.
“Tuhan Engkau tahu dan merasakan apa yang saya rasakan saat ini. Engkau memanggil aku untuk mengikuti Engkau namun Engkau mencobai imanku dengan mengirim seseorang gadis cantik. Bisakah Tuhan menuntun jalan? Ke mana saya harus melangkah? Kau atau dia?”
Karena hatinya semakin tak tenang, maka Frater Glen pun menemui sang pastor di suatu pagi.
“Romo......... saya jatu cinta dengan salah satu anak OMK” katanya dengan penuh kepolosan.
Romo hanya tersenyum lalu berkata: “Frater....... Panggilan imamat bukan merubah hatimu menjadi beku sehingga engaku tidak bisa merasahkan cinta..... Namun, engkau adalah manusia biasa sehingga engkau bisa merasakan jatuh cinta. Tapi panggilan adalah soal pilihan dan engkau harus memilih antara Dia yang ada di atas, atau dia yang sudah kau jumpa di suatu sore.
Kata-kata dari sang pastor seperti cahaya ilahi yang menembusi hati Frater Glen. Ucaoannya itu, tertancap di dalam hatinya. Lantas besoknya setelah misa Frater Glen menemui Anas di depan Paroki. Fater Glen dengan nada gemetar mengungkapkan perasaannya yang ia pendamkan selama ini.
“Anas aku tahu, aku adalah seorang Frater yang hidupnya harus taat kepada Tuhan dan hatikupun harus tertuju kepadaNya. Namun, ahir-ahir ini aku merasakan ada getaran cinta yang timbul dalam hatiku.”
Anas menatap mata pemuda dingin itu, dengan mata yang berkaca-kaca. Dan ia pun membalasanya dengan menyampaikan perasaan yang sama kepada Frater Glen.
***
“Memang melepaskan orang yang kita cintai dan sayangi tidaklah muda. Namun, Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik untuk kita manusia” semua orang terharu ketika di akhir ceritnya ia tampil begitu romantis dengan keindahan kata-katanya.
“Ternyata Tuhan memberikan suatu cobaan yang besar untuk saya karena menjadi seorang imam tidaklah muda dan bukan hanya mencintai satu hati saja melainkan semua hati umatNya” ucapnya lagi, sebelum akhirnya kembali ke tempat duduknya. Sementara Anas hadir juga pada acara syukuran dan misa perdana imam baru itu. Perempuan yang sudah sangat dewasa itu duduk sendirian, di bangku umat menyaksikan kebahgian Pater Glen di hari itu.
Editor; Faldo Mogu Tentang Penulis: Marjun Podhi, mahasiswa ilmu filsafat. Tinggal di Nita, Maumere.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0