Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Cerpen: PENANTIAN

PENANTIAN

Penulis: Dino Kese
Manggarai -NTT

Mahasiswa.co.id - Sebelas bulan dia telah memberi kabar, berbagi cerita, senyum dan canda bersama melalui media perantara. Dia unik. Dia menarik. Dia manis dan juga berintelek. Ingatannya begitu kuat. Suatu waktu aku coba bertanya tentang keinginannya. Jawabannya spontan. Aku tidak mempunyai keinginan apa-apa. Saya cemas dan ragu akan responnya itu. Mungkinkah aku salah merangkai dan melontarkan pertanyaan? Refleksilah yang terjadi.

Minggu pertama setelah jawaban mematikan itu muncul, aku tidak berani mengirimkan satu kata atau kalimat kepadanya. Saya takut jawaban yang sama kembali terulang.

Tanpa takut dan ragu aku merespon ceritanya di instagram. Halo kak, apa kabar? Ia melihat isi pesan begitu cepat. Perasaan bangga kembali ada. Saya terus menunggu responnya. Aplikasi instagram yang sering dikunjungi pada hari ini. Dua jam menunggu, dua jam pula waktu dibuang percuma. Dia tidak membalasnya sama sekali.

Kenapa ini terjadi? Seberapa besar salahku? Permintaan maafku diabaikan begitu saja. Maafkan aku. Bantulah aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Mungkin saja, kata maaf tak bisa menyembuhkan lukanya yang begitu dalam.

Aku sangat merasa bersalah. Dia yang dulu amatlah beda dengan dia yang sekarang. Sebelumnya tak ada hari yang tak terlewatkan guna memberi kabar. Meskipun hanya menanyakan kabar dan sudah makan. Kabar yang kami berikan lebih cepat dari surat kabar. Sebelumnya juga, setiap kamis dia selalu mengirimkan pap termanisnya. Itu sudah menjadi kewajiban darinya.
Kebiasaan menarik itu kini diganti dengan penantian yang menyakitkan. Dia tidak meresponku lagi. Mungkin saja dia juga membenciku lebih dari kata benci. Aku kembali merenung dan merefleksikannya.

Dua belas bulan kemudian dia kembali memberi kabar. Berawal dengan pertanyaan apa kabar? Chatingannya begitu berbeda dari biasanya. Chatingan yang panjang dan diimbangi pula dengan respon yang begitu kilat. Aku tertarik dan terus meresponnya. Mungkinkah dia telah sadar dan telah merefleksikannya, bisikku dalam hati.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.