Karya Leila S.Chudori
Mahasiswa.co.id - Salah satu penulis wanita yang karyanya masih tetap eksis dan digemari dari berbagai kalangan adalah Leila S.Chudori dengan novelnya yaitu
Laut Bercerita. Novel
best seller ini sudah dicetak ulang sebanyak 93 kali (Chudori 2025). Dengan jumlah yang fantastis seorang Leila S.Chudori sudah membuat para pembaca merasakan bagaimana seorang tokoh yang bernama Laut dalam novel tersebut mendapatkan perlakuan yang tidak dimanusiakan. Tidak hanya novel
Laut Bercerita, novel Leila yang lainnya seperti
Pulang dan
Namaku Alam juga menyinggung masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
Selain novel, Leil a juga gemar menulis cerpen. Menurut Leila cerita pendek memiliki peraturan yang jauh lebih keras, lebih galak, lebih menekan dari pada bentuk fiksi lainnya (Chudori 2009). Dengan pernyataan Leila yang demikian, dapat ditafsirkan bahwa ia lebih senang menulis cerpen dari pada menulis karya fiksi lainnya. Berbagai cerpen Leila yang dimuat diberbagai media, dikumpulkan kembali dan membuat antalogi cerpen yang berjudul
Malam Terakhir pada tahun 1989 dan diterbitkan kembali pada tahun 2009 (Khairunnisa 2023).
Karya sastra seperti cerpen
Malam Terakhir ini dikemas dan tidak lepas dari bagian-bagian penting yang mempengaruhi pembaca untuk dapat menikmati karya tersebut. Bagian tersebut ialah etika dan estetikanya. Etika berasal dari bahasa Yunani
ethos (jamak:
ta etha) yang berarti adat kebiasaan. Etika bukan suatu sumber tambahan bagi ajaran moral, melainkan merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Etika mau mengerti mengapa seseorang harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana seseorang dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral, Magnis Suseno dalam Widyawati (2010: 2) dalam Agustina (2013:43)
Sedangkan estetika atau keindahan merupakan sebuah aplikasi dari
intresa dan
inscape. Intresa merupakan pengaruh yang nyata dari Tuhan terhadap cipta kreatif seorang sastrawan; sedangkan
inscape merupakan pemahaman atau kekuatan melihat sesuatu dalam pikiran dan hati, sebagai suatu pundak realitas dalam sastra dalam kebenaran Tuhan Endaswara (2013:68) dalam (Abdillah 2023)
Dua aspek ini memiliki keterkaitan erat dalam karya sastra. Bagaimana nilai moral atau etika yang terkandung dalam karya sastra dapat dikemas dan dikonsepkan dengan estetika yang dimiliki oleh suatu karya sastra. Dengan hal itu karya sastra dapat dinikmati dan dirasakan pesan-pesan yang terkadung di dalamnya dengan nyaman dan memiliki estetika dalam setiap narasi yang digunakan. Karya sastra dalam bentuk cerpen yang ditulis oleh Leila yang berjudul
Sepasang Mata Menatap Rain dalam antalogi cerpen
Malam Terakhir memiliki ketertarikan sendiri bagi setiap pembacanya.
Ketertarikan itu muncul pada tokoh Rain seorang anak berusia dua setengah tahun yang selalu bertanya kepada orang tuanya terkait kejadian-kejadian yang ia lihat disekitarnya dengan diawali kata “kenapa”. Rasa ingin tahu yang tinggi oleh seorang anak batita atau bawah tiga tahun tersebut menjadikan ia memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang-orang yang ia lihat. Cerpen ini juga menggambarkan bagaimana cara didik yang diterapkan oleh orang tua yang memiliki kesibukan dan aktivitas yang padat sehingga terpaksa harus mengabaikan anaknya dan hanya memberikan waktu penuh pada saat akhir pekan. Hal-hal tersebut tentu memiliki nilai etika penyampaian kepada pembaca melalui estetika simbol-simbol yang dituliskan oleh seorang Leila.
Etika yang terdapat pada cerpen
Sepasang Mata Menatap Rain dapat diuraikan sebagai berikut:
Bagi Rain, hari Minggu adalah hari penebus dosa. Enam hari seminggu, kami mengabdikan tenaga dan pikiran ke segala arah kecuali kepada anak kami yang berusia dua setengah tahun itu Chudori (2009:95)
Dalam kutipan tersebut dapat dilihat bagaimana orang tua dapat memberikan perhatian khusus kepada anaknya meskipun memiliki kesibukan dalam mengejar
karier. Hal ini memberikan pesan langsung kepada orang tua baik ibu dan ayah untuk memberikan keseimbangan material dan kasih sayang kepada anak-anak ditengah kesibukan yang dihadapi.
Kenapa perutnya gendut tapi matanya besar?
Kenapa masih lapar terus?
Kenapa sulit?
Kenapa perang?
Kata “kenapa’ yang dilontarkan Rain adalah hasil buah penglihatannya terhadap foto-foto di berita yang menampilkan kesengsaraan yang dialami oleh anak-anak di Burundi. Ada dua perspektif yang ditonjolkan di sini. Seorang ayah memiliki sikap yang realistis terhadap anaknya dan menginginkan anaknya menjadi anak yang kuat dan paham akan kekerasan dunia. Dilihat pada kutipan:
“Kenapa sih? Biar saja dia paham realita,” kata suamiku
Sedangkan seorang Ibu memiliki rasa khawatir atas keingintahuan anaknya dan hal-hal yang belum bisa dimengerti Rain dalam usia sekecil itu. Ditunjukkan pada kutipan berikut:
“Lalu, kalau dia bertanya, kenapa bayi itu perutnya buncit, kulitnya hitam-legam dibakar matahari, dan biji matanya seperti ingin melompat keluar; ke mana ayahnya, ke mana bundanya, memangnya kamu bisa menjawab?” tukasku.
Selain mengenai hubungan antara orang tua dan anak, juga terdapat realitas sosial yang ditunjukkan dan bagaimana masalah-masalah sosial masih sering ditemui di masyarakat.
“Well, I don’t know... Menurut beberapa tulisan di koran, anak-anak ini dipelihara oleh sindikat pengemis yang terorganisir. Jadi, kalau kita memberi uang atau makanan, apakah itu berarti dia akan menyetorkan duit itu ke bos mafia? Kalau dia menyetorkan, berarti kita mendukung sebuah sistem yang...”
Hal ini menunjukkan bagaimana eksploitasi anak itu masih saja menjadi mata pencarian haram oleh oknum-oknum yang tidak memiliki naluri sebagai seorang manusia yang baik.
Hasil didikan orang tua Rain berhasil membuat Rain memiliki jiwa sosial yang tinggi setelah melihat anak dijalanan yang menari dan bernyanyi tanpa kesenangan.
“Yang satu buat kakak yang tadi, biar dia kenyang,” kata Rain sambil menggigit hamburger miliknya dan memasukkan satu pak ke kantong bajunya. Aku menelan ludah.
Selaras dengan etika, estetika pada cerpen
Sepasang Mata Menatap Rain juga perlu diulik diantaranya pada kutipan di bawah ini:
- Tubuh ibunya yang hanya sehelai seperti ikut runtuh bersama kematian anaknya.
Pada kutipan pertama adanya kontak batin yang kuat antara seorang ibu dan anak ketika menghadapi duka. Kata “sehelai” ditunjukkan sebagai bentuk ketidak berdayaan seorang ibu ketika kehilangan anak dari darah dagingnya sendiri
- Aku melihat, kedua mata Rain sudah seperti danau yang siap meluap
Selanjutnya pada kutipan kedua adanya hiperbola yang ditunjukkan dari kalimat “seperti danau yang siap meluap” disebabkan oleh kesedihan yang mendalam yang dirasakan Rain.
- Aku merasakan ada loncatan listrik di antara kedua anak ini
“Loncatan listrik” menjadikan sebuah kekuatan energi emosional yang terhubung antara dua manasia dan menimbulkan rasa simpati yang berkelanjutan terhadap diri seseorang.
- Setelah berkeliling mengikuti nafsu sosial Rain
Pada kutipan tersebut estetika yang disampaikan merujuk pada hasrat kuat untuk melakukan tindakan yang memberikan efek kemanusian dan energi sosial pada diri Rain.
- “Matanya menangis, tapi tidak ada air matanya...,” jawab Rain terisak-isak.
Kesedihan yang dialami oleh seorang perempuan terasebut sudah sampai pada batas di luar kewajaran. Ketiadaan air mata saat menangis, merupakan bagian dari estetika dari cerpen ini atas ketidak normalan tersebut.
Setelah mengamati beberapa etika dan estetika yang terdapat pada cerpen ini dapat disimpulkan bahwa tokoh Rain memiliki rasa ingin tahu yang dalam terhadap apa yang dilihat. Selanjutanya ada aksi empati terhadap keganjilan dan ketidak wajaran yang dilihat dan dialaminya. Peran orang tua dalam mendampingi anak dalam bertumbuh kembang dan lingkungan mempengaruhi bentuk karakter yang dimiliki oleh seorang anak. Sehingga tumbuh kembang dan moral anak menjadi tertata dan sesuai pada alur usianya. Dari judul juga dapat menunjukkan efek batin bagaimana sepasang mata bisa memberikan rasa empati yang tinggi bagi seorang anak yang baru tumbuh dan berkembang.
Mayang Puti Ifanny; Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Berkegiatan di UKMF Labor Penulisan Kreatif.
Komentar 0