Oleh: Adhwa Azkiya Hanifa Primansyah Mahasiswa.co.id - Minat baca Indonesia genting. Studi World's Most Literate Nations (2016) menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara. Skor PISA 2022 untuk literasi membaca kita 359 — merosot dari 371 di tahun 2018, terpaut 117 poin dari rata-rata negara maju (OECD, 2023). Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat nasional hanya menyentuh angka 40,6 dari skala 100 (Perpusnas RI). Pantas, jika hanya 11,91 persen penduduk Indonesia yang pernah mengunjungi perpustakaan. Lalu kita biasanya mencari kambing hitam: anggaran kurang, gedung tidak representatif, gempuran media sosial. Semua benar. Tapi ada satu hal yang jarang kita sentuh: manusia yang mengelolanya sendiri.

Bukan Sekadar Jumlah

Secara nasional, satu pustakawan menanggung rata-rata 38 perpustakaan. Di Papua Barat, satu orang harus mengelola 177 perpustakaan. Angka ini adalah potret ketimpangan distribusi SDM. Tapi jumlah bukanlah satu-satunya cerita. Data dari Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa baru 26,7 persen pustakawan yang tersertifikasi kompetensinya. Artinya, lebih dari 70 persen pustakawan kita bekerja tanpa jaminan bahwa mereka benar-benar menguasai bidangnya. Ini bukan sekadar soal sertifikat. Ini soal kesiapan menghadapi pemustaka yang kian kritis, soal kemampuan mengelola informasi di era banjir data, soal mentalitas dalam menjalankan peran. Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz, pernah menyampaikan kegelisahannya: “Sering kali pustakawan dianggap orang yang pasif, hanya menunggu kunjungan, bahkan ditempatkan di perpustakaan seolah sebagai hukuman.” Kalimat itu menusuk karena jujur. Jika pustakawan sendiri diposisikan — atau memposisikan diri — sebagai petugas buangan, bagaimana mungkin perpustakaan menjadi hidup?

Dari Mentalitas ke Nilai

Di sinilah masalahnya bergeser dari soal jumlah ke soal mentalitas. Dan di titik inilah kita perlu bicara tentang dua hal yang jarang muncul dalam diskusi Manajemen SDM Perpustakaan: ihsan dan itqan. Dalam sebuah kuliah tamu di kampus kami, seorang dosen tamu Manajemen SDM Perpustakaan mengangkat dua nilai ini sebagai fondasi yang hilang. Ihsan adalah bekerja sebaik-baiknya, seakan-akan Tuhan melihat. Itqan adalah profesionalitas dan mutu — bukan sekadar “yang penting cukup.” Dua nilai ini, katanya, sering bergema indah di ruang-ruang ceramah, tapi belum menjadi indikator kinerja yang nyata di lapangan. Ia benar. Buktinya ada di sekitar kita: katalog online yang tidak diperbarui bertahun-tahun, koleksi digital yang tidak pernah dikomunikasikan, petugas perpustakaan yang hadir tapi tidak melayani. Ini bukan kegagalan sistem. Ini kegagalan manusia dalam sistem. Dosen tamu itu lalu menyimpulkan: “Sistem tidak sepenuhnya menentukan. Orang baik bisa rusak karena sistem, dan sistem baik bisa rusak karena orang.”

Empat Pijakan

Lalu, seperti apa manusia perpustakaan yang dibutuhkan? Saya teringat empat sifat Rasulullah dalam menyampaikan risalah: Shiddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas). Empat sifat ini, kebetulan atau tidak, menjawab persis kebutuhan SDM perpustakaan masa kini. Shiddiq artinya jujur pada koleksi dan informasi. Di era AI dan disinformasi, pustakawan adalah benteng terakhir kebenaran informasi. Rekomendasi buku yang ia berikan harus berbasis mutu, bukan sekadar memenuhi daftar. Amanah artinya menjaga pengetahuan sebagai titipan peradaban. Perpustakaan menyimpan khazanah ilmu. Tanpa integritas, koleksi itu bisa rusak — bukan oleh rayap, tapi oleh kelalaian. Tabligh artinya aktif mengkomunikasikan. Perpustakaan tidak boleh sekadar menunggu. Ia harus menjemput. Memberitahu bahwa koleksinya relevan, programnya bermanfaat, pintunya terbuka. Fathonah artinya terus belajar. Pustakawan masa kini bukan lagi penjaga buku, melainkan navigator informasi, kurator pengetahuan, dan pendidik literasi digital. Bandingkan dengan realitas kita. Berapa banyak perpustakaan yang pustakawannya menunggu di balik meja, mencatat peminjaman, dan selesai? Berapa banyak yang memandang pengunjung sebagai gangguan? Di sinilah ihsan dan itqan menjadi pembeda.

AI dan “Yang Penting Cukup”

Kita memasuki era Society 5.0 — masa ketika teknologi bukan sekadar alat, tapi bagian dari solusi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Perpustakaan dituntut bertransformasi dari collection centre menjadi human centre: pusat kolaborasi, inovasi, dan pembelajaran sepanjang hayat. AI bisa mencari informasi dalam hitungan detik. Tapi AI tidak bisa memahami mahasiswa yang bingung memilih referensi. AI tidak bisa membangun karakter literasi anak-anak yang baru belajar membaca. AI tidak bisa memilah informasi dengan kepekaan etis. Artinya, pustakawan tidak akan tergantikan — selama ia punya ihsan. Tapi bayangkan jika pustakawannya sendiri bekerja dengan mentalitas “yang penting cukup”. Ia akan dilampaui oleh mesin. Bukan karena mesin terlalu pintar, tapi karena ia malas belajar.

Siapa yang Bergerak?

Di akhir kuliah tamu itu, dosen tamu melemparkan pertanyaan: “Generasi selanjutnya: apakah akan mengulang pola yang sama? Atau menjadi lebih baik?” Pertanyaan ini bukan hanya untuk mahasiswa Manajemen Pendidikan. Ia untuk siapa saja yang peduli pada literasi negeri ini. Kita bisa terus menyalahkan TikTok yang mencuri perhatian, atau anggaran perpustakaan yang kurang. Tapi selama manusia-manusia yang mengelola pengetahuan tidak berubah — tidak punya ihsan, tidak punya itqan, tidak mau belajar — perpustakaan akan tetap menjadi monumen sunyi yang kehilangan makna. Sistem boleh canggih. Teknologi boleh maju. Tapi pustakawan yang bekerja dengan hati, yang jujur pada ilmunya, yang menjaga koleksinya sebagai amanah, yang aktif berbagi pengetahuan, dan yang terus belajar sepanjang hayat — itulah yang akan membuat perpustakaan hidup kembali. Penutup Mengelola perpustakaan bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan. Sebab di tangan para pengelolanya, ada benang merah peradaban yang harus dijaga dan diteruskan. Maka, kepada pustakawan, mahasiswa, dosen, dan siapa pun yang mengaku peduli pada pengetahuan: jangan berhenti pada “cukup”. Itu saja tidak cukup. Kita butuh lebih. Kita butuh ihsan. Kendalikan pikiranmu, kendalikan hidupmu. Wallahu a'lam. Adhwa Azkiya Hanifa Primansyah Mahasiswa Manajemen Pendidikan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta