Oleh: Salsa Bila Shofi Mahasiswa Pendidikan Tata Boga UNY
Mahasiswa.co.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Di tengah masih tingginya angka stunting dan masalah gizi, program ini menjadi harapan baru bagi banyak pihak. Namun, di lapangan, pelaksanaannya belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan.
Beberapa temuan menunjukkan masih adanya persoalan dalam pengolahan dan pengemasan makanan. Mulai dari bahan baku yang kurang segar hingga dugaan kasus keracunan makanan yang sempat mencuat. Hal ini tentu menjadi perhatian serius, karena program yang seharusnya meningkatkan kesehatan justru berpotensi menimbulkan risiko bagi penerimanya.
Dalam perspektif nilai-nilai kehidupan berbangsa, kondisi ini mencerminkan belum optimalnya sikap tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama. Program yang menyasar anak-anak seharusnya dilaksanakan dengan standar kehati-hatian yang tinggi. Ketika aspek keamanan pangan diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas program, tetapi juga kesehatan generasi penerus.
Masalah tidak berhenti pada bahan makanan, tetapi juga pada proses pengolahannya. Dalam skala besar, pengolahan makanan menuntut standar kebersihan dan pengendalian suhu yang ketat. Tanpa hal tersebut, bakteri seperti Staphylococcus aureus dapat berkembang dengan cepat. Menurut World Health Organization, keamanan pangan sangat ditentukan oleh kebersihan, pengolahan yang tepat, dan pengendalian suhu yang konsisten.
Selain itu, praktik pengemasan makanan saat masih panas juga berisiko mempercepat kerusakan. Uap air yang terperangkap dalam kemasan menciptakan kondisi lembap yang mendukung pertumbuhan bakteri. Ditambah dengan distribusi tanpa pengaturan suhu yang memadai, kualitas makanan menjadi semakin sulit dijaga.

Komentar 0