Oleh : Aditya Hasiholan Purba
Mahasiswa.co.id - Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat kaya akan keanekaragaman alam dan budaya. Tidak hanya memiliki hutan tropis, pegunungan, dan lautan yang luas, tetapi juga menyimpan jejak-jejak sejarah bumi yang sangat berharga dalam bentuk warisan geologi. Kekayaan inilah yang menjadi dasar dari keberadaan Geopark, atau taman bumi, yang kini mulai banyak dikembangkan di Indonesia. Geopark bukan sekadar tempat wisata, tetapi kawasan yang memadukan tiga unsur utama: konservasi,edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan berbasis masyarakat lokal.Berikut adalah daftar 12 UNESCO Global Geoparks di Indonesia:
Geopark Batur - Bali
Geopark Gunung Sewu - Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur
Geopark Ciletuh-Palabuhanratu - Sukabumi, Jawa Barat
Geopark Rinjani-Lombok - Nusa Tenggara Barat
Geopark Kaldera Toba - Sumatera Utara
Geopark Belitong - Kepulauan Bangka Belitung
Geopark Ijen - Jawa Timur
Geopark Maros-Pangkep - Sulawesi Selatan
Geopark Merangin Jambi - Jambi
Geopark Raja Ampat - Papua Barat
Geopark Kebumen - Jawa Tengah
Geopark Meratus - Kalimantan Selatan
Saat ini, Indonesia memiliki sejumlah kawasan yang telah ditetapkan sebagai National Geopark, bahkan beberapa telah naik kelas menjadi UNESCO Global Geopark (UGGp), seperti Geopark Batur di Bali, Geopark Gunung Sewu di Yogyakarta dan sekitarnya, serta Geopark Ciletuh di Sukabumi, Jawa Barat. Pengakuan dari UNESCO tentu menjadi prestasi yang membanggakan, namun hal itu juga sekaligus menjadi tantangan besar: bagaimana kita bisa menjaga dan melestarikan kawasan-kawasan tersebut agar tidak rusak dan tetap berkelanjutan?
Geopark: Lebih dari Sekadar Objek Wisata
Masih banyak masyarakat yang memahami geopark hanya sebagai tempat wisata alam. Padahal, geopark adalah konsep yang lebih luas. Di dalamnya terdapat elemen edukasi geologi yang mengajarkan masyarakat tentang proses terbentuknya bumi, konservasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pengembangan ekonomi kreatif, seperti produk lokal dan ekowisata. Oleh karena itu, pendekatan dalam pengelolaan geopark harus dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi.
Melestarikan kawasan geopark berarti menjaga warisan geologis yang berumur jutaan tahun, yang bisa menjadi sumber pembelajaran lintas generasi. Sayangnya, di banyak tempat, kegiatan pembangunan dan pariwisata sering kali lebih mengedepankan aspek komersial semata. Banyak kawasan geopark yang justru terancam oleh pembangunan yang tidak ramah lingkungan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, hingga pencemaran akibat minimnya edukasi lingkungan.
Tantangan dalam Pelestarian Geopark
Salah satu tantangan utama dalam pelestarian kawasan geopark adalah minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kawasan tersebut. Ketika masyarakat tidak memahami bahwa geopark adalah kawasan konservasi yang perlu dijaga, maka potensi kerusakan menjadi sangat tinggi. Misalnya, masih sering kita temui wisatawan yang membuang sampah sembarangan di area geopark, atau pembangunan fasilitas wisata tanpa kajian lingkungan yang matang.
Selain itu, keterbatasan anggaran dan infrastruktur juga menjadi hambatan serius. Banyak kawasan geopark di Indonesia berada di daerah terpencil atau kawasan pedesaan, yang belum memiliki akses jalan memadai atau fasilitas pendukung yang baik. Hal ini menyebabkan pengelolaan kawasan menjadi kurang optimal. Padahal, dengan infrastruktur yang baik dan pengelolaan profesional, geopark bisa menjadi pusat edukasi sekaligus destinasi wisata unggulan yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
Koordinasi antar lembaga juga menjadi isu penting. Dalam banyak kasus, pengelolaan geopark melibatkan banyak pihak dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM, hingga masyarakat lokal. Tanpa koordinasi yang solid, kebijakan yang diterapkan bisa saling tumpang tindih atau bahkan bertentangan. Misalnya, ketika ada rencana pembangunan tambang di kawasan geopark yang jelas-jelas bertentangan dengan semangat konservasi.

Komentar 0