Pelecehan di Kalangan Mahasiswa yang Tidak Disadari
Oleh renista isnaini
Mahasiswa.co.id - Pelecehan di kalangan mahasiswa, baik yang disadari maupun tidak disadari, merupakan masalah serius yang seringkali terabaikan. Budaya patriarki dan norma gender yang masih kuat di masyarakat, serta minimnya edukasi tentang pelecehan seksual, berkontribusi pada maraknya pelecehan di lingkungan kampus. Apalagi jika ada kejadian pelecehan yang dimana korban enggan melaporkan karena malu dan takut mendapat ancaman dari pelaku. Sebenarnya secara tidak kita sadari banyak terjadi kasus pelecehan di sekitar lingkungan kita, namun karena beberapa korban yang tidak merasa seharusnya jadi korban peristiwa tersebut jarang terungkap dan diusut tuntas.
Bentuk-bentuk pelecehan di kalangan mahasiswa dapat beragam, mulai dari:
Pelecehan seksual verbal Komentar bernada seksual, lelucon kotor, catcalling, dan godaan yang tidak diinginkan. Dari pembaca disini pasti secara tidak sadar pernah mengalami sendiri atau mendengar hal ini dari teman. Dari hal sepele dipanggil “kiw cewek, cantik mau kemana nih?, aku anter yok” sebenarnya adalah termasuk catcalling dimana itu pelecehan seksual verbal.
Pelecehan seksual fisik Sentuhan tanpa persetujuan, ciuman paksa, dan hubungan seksual tanpa persetujuan. Secara tidak sadar ketika digandeng atau dirangkul, dimana dalam keadaan tersebut tanpa persetujuan kita maka bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual fisik.
Pelecehan seksual nonverbal Tatapan mata yang mengintimidasi, gestur tubuh yang tidak pantas, dan cyberbullying. Pasti sebagian dari pembaca pernah melihat adanya gestur, tatapan mesum dari lawan jenis, dan pasti kalian risih. Ternyata itu adalah pelecehan seksual nonverbal yang masih kurang kita sadari.
Pelecehan seksual berbasis gender Diskriminasi berdasarkan gender, komentar seksis, dan pelecehan terhadap identitas gender. Kekerasan yang ditujukan terhadap seseorang karena jenis kelamin orang tersebut atau kekerasan yang berdampak pada orang dengan gender tertentu secara tidak proporsional.
Parahnya, banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahwa mereka telah mengalami pelecehan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:
Kurangnya edukasi tentang pelecehan seksual Banyak mahasiswa yang tidak mengetahui definisi pelecehan seksual dan berbagai bentuknya. Seperti yang sudah disebutkan, sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya telah mengalami pelecehan.
Norma gender yang keliru Budaya patriarki dan norma gender yang masih kuat memicu anggapan bahwa pelecehan seksual adalah sesuatu yang wajar, terutama bagi perempuan. Fakta di lapangan terkadang pria menormalisasikan dan menganggap hal seperti catcalling, adalah hal yang sepele dan bukan pelecehan kepada perempuan.
Rasa malu dan takut Korban pelecehan seksual seringkali merasa malu dan takut untuk melapor, karena takut disalahkan atau dikucilkan. Ada juga korban yang mendapat ancaman dari pelaku jika akan melaporkan pelecehan yang telah dilakukan. Kurangnya support dari orang terdekat membuat korban tidak berani melakukan tindakan selanjutnya dan memilih memendam sendirian luka yang dia rasakan.
Dampak pelecehan di kalangan mahasiswa bisa sangat serius, baik bagi korban maupun pelaku. Korban pelecehan seksual dapat mengalami trauma psikologis, depresi, kecemasan, dan bahkan post-traumatic stress disorder (PTSD). Selain itu, pelecehan seksual juga dapat mengganggu performa akademik dan kehidupan sosial korban.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah pelecehan di kalangan mahasiswa:
Meningkatkan edukasi tentang pelecehan seksual Penting untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang definisi pelecehan seksual, berbagai bentuknya, dan dampak yang bisa terjadi. Edukasi ini dapat dilakukan melalui seminar, workshop, atau materi kuliah.
Membangun budaya saling menghormati Kampus perlu membangun budaya saling menghormati dan menghargai keragaman gender. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan anti-diskriminasi dan pelecehan seksual, serta mendorong dialog terbuka tentang gender dan seksualitas.
Menyediakan layanan pendampingan bagi korban pelecehan seksual Kampus perlu menyediakan layanan pendampingan bagi korban pelecehan seksual, seperti konseling psikologis dan bantuan hukum. Dengan itu maka korban bisa merasakan adanya tempat pengaduan yang terpercaya sehingga berani mengungkapkan hal yang telah ia alami.
Pencegahan pelecehan di kalangan mahasiswa membutuhkan upaya kolektif dari semua pihak, termasuk mahasiswa, dosen, staf kampus, dan orang tua. Dengan meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang pelecehan seksual, serta membangun budaya saling menghormati, kita dapat menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman bagi semua. Semoga kita semua terhindar dari tindakan yang tidak terpuji ini.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0