Mahasiswa.co.id - Hai Gen Z! Gimana kabar hari ini? Semoga sehat selalu dan bahagia ya.Genz, pernah ga sih kita merasa bahwa hidup yang kita jalani ini akan dibawa kemana? Merasa tidak tahu dengan diri sendiri, merasa bingung dengan banyaknya pilihan padahal kita masih belum konsisten dengan apa yang kita jalani saat ini, merasa cemas dan insecure dengan pencapaian orang lain, merasa sendiri, merasa hopeless dengan adanya tekanan yang diterima entah itu dari keluarga ataupun diri sendiri jadi yaudahlah yang gini – gini aja, dan merasa cemas karena bingung dengan apa tujuan kita kedepannya. Jika kalian merasakan itu, percayalah kalian Nggak sendirian!! Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Dr. Oliver Robinson dari Universitas Greenwich, London mengungkapkan bahwa 86% dari 1.100 dewasa muda usia 20-30 tahun mengalami Quarter Life Crisis! Apa itu quarter life crisis? Quarter life crisis menurut Robbins dan Wilner (2001) merupakan krisis identitas yang terjadi akibat dari ketidakstabilan yang memuncak, perubahan yang terus menerus, banyaknya pilihan serta perasaan panik dan tidak berdaya (sense of helpless) yang biasanya muncul karena ketidaksiapan individu pada saat peralihan dari masa remaja menuju dewasa di usia 18 hingga 29 tahun. Jadi, quarter life crisis ini adalah suatu ketidaksiapan mental, emosi, dan finansial menuju dewasa. Akibat dari ketidaksiapan itu maka timbulah stres, keraguan, dan kecemasan akan masa depan. karena banyaknya tuntutan serta realita yang makin kesini makin kejam. Perasaan – perasaan ini memang kerap kali timbul karena usia kita yang makin bertambah, karena teman – teman sebaya kita yang mulai berhasil terhadap pencapaiannya, serta karena tuntutan dan harapan orang tua. Nah, quarter life crisis ini berdampak besar terhadap kondisi mental seseorang. Salah satunya adalah membuat otak kita mau tidak mau overthinking mengenai hal – hal yang membuat stress tersebut. Dari overthinking ini mulailah perasaan galau, tidak nafsu makan, bahkan cemas berkepanjangan yang berujung pada tak melakukan kegiatan apapun, bingung hendak melakukan sesuatu karena overthinking dengan masalah – masalah yang terjadi, bingung terhadap jati diri, merasa sendiri dan tidak memiliki seseorang yang dapat mendengarkan keluh kesah kita. Dan hal ini jika dibiarkan terus – menerus akan menyebabkan depresi. Sebenarnya keadaan quarter life crisis ini adalah keadaan yang biasa terjadi pada seseorang yang mulai menginginkan perubahan dalam hidup. Seperti pada mahasiswa tingkat akhir yang mulai merasa bertanggung jawab pada diri sendiri tanpa harus membebani orang tua dengan kebutuhannya. Sehingga, ia harus memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang dan mulai memikirkan pekerjaan untuk masa depannya juga. Namun, memang tak semua orang dapat melalui fase kebingungan tentang masa depan ini dengan mudah. Menurut buku Quarter-Life Crisis karya Gerhana Nurhayati Putri metode yang cocok digunakan untuk mengatasi kebingungan, kegalauan, dan kecemasan ini adalah dengan metode Self-Help. Karena semua dimulai dari diri sendiri! Cara ini dilakukan dengan mengetahui jati diri kita sendiri terlebih dahulu. Karena, inti dari semua masalah yang terjadi dalam diri adalah jati diri. Semakin kita tahu jati diri kita semakin mudah kita akan mengatasi hal – hal yang menyangkut dengan permasalahan kita. Sebaliknya, apabila kita tak mengetahui jati diri kita, kita akan kesulitan mengatasi apa yang kita mau. Jadi, cara pertama yang kita lakukan yakni Eksplorasi Diri.

Eksplorasi diri ini meliputi beberapa tahap, yakni:

1.      Kenali Diri Catat kelebihan dan kekurangan pada buku catatan yang telah kita siapkan. Catat sebanyak – banyaknya sesuai yang kalian ingat dan pahami 2.      Cari Tahu Tentang Passion-mu! Buat beberapa kolom tentang beberapa passion yang kita minati. Contoh: memiliki passion di bidang musik, masak, berkebun, seni & kreatifitas, olahraga, atau yang lainnya. Dari semua passion yang kita kuasai cari lagi satu passion yang aku banget. Kalau kita masih belum bisa mencatat passion apa yang kita miliki, maka kita harus gali lebih dalam lagi tentang diri masing - masing. 3.      Antisipasi Nah, setelah kita mengetahui tentang passion yang kita miliki maka tentukan goals yang kita mau. Suatu tujuan harus disertai dengan niat dan tekad yang kuat. Tanpa tekad dan goals maka yang kita lakukan selama ini akan sia-sia. Mau dibawa kemana semua yang kita usahakan selama ini? Maka dari itu, kita harus melakukan antisipasi ini dengan beberapa hal, yakni: a. Catat plans serta back-up plans untuk antisipasi. Kegagalan akan terjadi pada siapapun. Meskipun, terkadang kita telah mengusahakannya sedemikian rupa. Maka plan b juga perlu. b. Susun strategi Setiap plan memiliki plus dan minus masing – masing. Maka dari itu kita harus menyusun strategi paling tepat agar kita dapat mencapainya dengan tepat. Susun beberapa strategi dan pilih yang menurut kita paling worth to do! 4.      Trial and Error Sebagai manusia kita tak luput dari takdir yang telah Tuhan gariskan. Terkadang realita tak selalu mulus seperti ekspektasi. Gagal merupakan suatu keberhasilan yang tertunda, maka dari itu kita harus sabar menghadapi proses Trial and Error ini. Tidak ada salahnya mencoba, kan? Catat semua hal yang membuat gagal serta tulis solusi yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kegagalan tersebut, lalu tulis motivasi yang dapat membangkitkan semangat lagi!  Error kesekian kali – coba lagi – berhasil! Ingat, usaha tak akan mengkhianati hasil! Ada beberapa hal yang selalu kita ingat untuk menjalani hal – hal tersebut, yakni :       Berdo’a       Sabar dan fokus. Fokus pada tujuan memang penting. Namun, jangan lupa kalau kita adalah makhluk sosial yang perlu bersosialisasi. Entah itu dengan teman ataupun keluarga.       Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki goals untuk diri sendiri. Tetap semangat dan bersyukur atas capaian yang telah kita lakukan sampai titik ini.       Mencari mentor yang dapat menjadi role model bagi kita yang dapat memotivasi, menginspirasi, dan menyegarkan pandangan akan hidup yang bahagia.       Menemui psikolog apabila kita memang benar – benar kesulitan untuk mengatasi krisis yang ada pada dalam diri. Daftar Baca Gerhana Nurhayati Putri, “Quarter-Life Crisis Ketika Berada di Persimpangan” , (Jakarta : PT Gramedia, 2019) https://satupersen.net/blog/quarter-life-crisis-menurut-ahli https://onlinedegrees.bradley.edu/blog/understanding-the-quarter-life-crisis/ https://www.researchgate.net/publication/323967290_A_Longitudinal_Mixed-Methods_Case_Study_of_Quarter-Life_Crisis_During_the_Postuniversity_Transition_Locked-Out_and_Locked-In_Forms_in_Combination