Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Refleksi Budaya, Ekonomi, Dan Kebijakan Publik Di Atas Sepiring Nasi Mahasiswa

Nasi Mahasiswa

Mahasiswa.co.id - Sudah menjadi rahasia umum jika salah satu dilema yang kerap kali dihadapi oleh mahasiswa adalah tentang pilihan menu makanan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian Kuncahyaningtyas, diketahui bahwa mahasiswa memiliki kecenderungan untuk memilih menu dengan lauk pauk yang murah meriah, seperti tempe goreng, telur goreng, dan ayam geprek (Kuncahyaningtyas, 2016). Selain murah dan memiliki rasa yang bisa diterima hampir seluruh lapisan masyarakat, ketiga lauk ini merupakan menu yang tergolong mudah untuk dijumpai di kantin fakultas maupun angkringan-angkringan pinggir jalan. Hal ini merupakan fenomena menarik karena secara tidak langsung telah menggambarkan preferensi makanan mahasiswa yang merupakan bentukan dari lingkungannya. Fenomena ini tampaknya selain dipengaruhi oleh warisan keluarga di rumah, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang lebih kompleks. Tulisan ini bertujuan untuk mengulik beberapa faktor tersebut melalui kacamata teori struktural fungsional sehingga dapat memberikan penjelasan yang komprehensif.

Lidah Urusan Rumah
Dari perspektif teori struktural-fungsional, preferensi makanan seseorang merupakan bentukan dari lingkungan sekitarnya. Dalam lingkungan keluarga, misalnya, pilihan menu dari orang tua akan membentuk kebiasaan makan seseorang sejak belia (Winarno, 1992). Keluarga ibarat pabrik yang membentuk setelan otomatis bagi selera seseorang. Meskipun, seiring dengan bertambahnya usia mereka akan mengembangkan preferensi makanan yang mungkin berbeda dengan preferensi orang tuanya, biasanya menu makanan sehari-hari yang dikonsumsi tidak akan jauh berbeda dari apa yang sering tersaji di rumah.

Seseorang yang sejak kecil telah terbiasa untuk mengonsumsi menu makanan dengan pilihan lauk protein hewani seperti telur atau ayam cenderung akan mempertahankan preferensi menu ini hingga dewasa. Ketika sedang berada di warung makan, misalnya, mereka akan memilih varian menu olahan telur atau ayam pula. Sama halnya ketika sedang berada pada kondisi ekonomi yang sulit, meskipun sebenarnya mampu menahan keinginan untuk makan dengan ‘lauk mewah akhir bulan’, biasanya mereka akan mencoba beragam cara agar tetap makan dengan varian menu tersebut, baik dengan mencari promo-promo maupun dengan membeli lauk tersebut di warung atau pedagang yang menjualnya dengan harga yang relatif lebih murah. Sama halnya dengan seseorang yang sedari kecil telah terbiasa makan dengan menu sederhana seperti nasi, sayur, dan tempe akan memiliki kecenderungan untuk memilih menu makanan yang serupa saat dewasa.

Frugal Living Ala Mahasiswa
Lidah mungkin menjadi urusan rumah, warisan budaya makan dari keluarga. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa pola makan dan pemilihan variasi menu makanan mahasiswa di kemudian hari juga dipengaruhi oleh gaya hidup. Salah satu bentuk gaya hidup yang telah lama menjadi tren di kalangan mahasiswa adalah frugal living. Frugal living kerap dimaknai sebagai gaya hidup hemat yang disertai dengan pengelolaan cermat terhadap keuangan dengan memperhatikan tujuan jangka pendek maupun jangka panjang (Muslihah, 2024).

Sepiring nasi, sayur, dan tempe seolah menjadi simbol frugal living ala mahasiswa dalam upaya bertahan hidup di tengah keterbatasan dan tekanan mental karena tuntutan akademis. Hanya bermodalkan uang sekitar sepuluh ribu rupiah, mahasiswa bisa memenuhi kebutuhan makan hariannya dengan sepiring nasi hangat lengkap dengan sayur-mayur dan tempe. Hal ini tentunya tidak hanya dipandang sebagai efisiensi anggaran, namun juga bagian dari perjuangan mahasiswa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Berkaca dari hal tersebut, frugal living pada dasarnya bukan hanya menjadi sebuah tren akan tetapi juga menjadi respons seseorang terhadap kondisi perekonomian mereka. Tidak semua mahasiswa yang memilih menu nasi, sayur, dan tempe melakukannya semata-mata untuk berhemat. Sebagian besar dari mereka terpaksa memilih opsi ini karena masalah keuangan yang macet, seperti keterlambatan pengiriman uang saku (Zawiyah, dkk, 2023). Jika mengacu kepada pandangan struktural fungsional, kondisi perekonomian yang tidak stabil dapat berakibat pada perubahan sistem sosial, yakni gaya hidup dan pola makan mahasiswa. Selain itu, tren ini juga dapat menjadi indikasi awal dari adanya problem ekonomi yang lebih besar.

PR Pemerintah yang Belum Usai
Sepiring nasi ibarat barometer yang mengukur sejauh mana pemerintah mampu membuat kebijakan yang memihak kepada rakyatnya. Ironinya, di tengah kekayaan alam yang sangat melimpah, urusan pangan justru menjadi problem yang belum mampu dientaskan secara maksimal. Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024 tercatat 25,22 juta rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Belum lagi harga makanan pokok yang melejit tentunya kian membuat masyarakat miskin dan ekonomi menengah ke bawah mau tak mau harus mengencangkan ikat pinggang. Melalui data yang diperoleh melalui Badan Pangan Nasional (BPN) tercatat bahwa harga makanan pokok seperti beras menyentuh angka 13 ribu per kilogram, daging ayam ras mencapai 36 ribu per kilogram, dan telur ayam ras tembus 29 ribu per kilogram. Tak mengherankan jika kemudian Global Hunger Index (GHI) melaporkan bahwa Indonesia menempati posisi ke-77 dari 127 negara dengan tingkat kelaparan moderat sekaligus tertinggi ketiga di Asia Tenggara.

Pelajaran Berharga dari Sepiring Nasi
Pada akhirnya, menu yang tersaji di atas sepiring nasi mahasiswa bukan hanya mencakup persoalan selera. Hal ini menjadi gambaran kecil bagaimana budaya hingga faktor ekonomi dapat membentuk kebiasaan dan pilihan menu makanan seseorang dalam keseharian. Lebih lanjut, hal ini bahkan dapat menjadi refleksi dari problem yang lebih besar: Bagaimana peran pemerintah di atas sepiring nasi yang kita konsumsi?

REFERENSI
Kuncahyaningtyas, Aby. Preferensi Mahasiswa dalam Mengonsumsi Makanan Indonesia pada Program Studi Pendidikan Teknik Boga Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta: UNY, 2016.
Winarno, F. G. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Kilare, Cindi. Adopsi Tren Frugal Living di Kalangan Mahasiswa UKSW. Salatiga: UKSW, 2024.
Zawiyah, Aurelia Magvira, Mariani, dan Rusilanti. "Hubungan Uang Saku dengan Pola Makan pada Mahasiswa Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta." JCS: Journal of Comprehensive Science 2, no. 8 (Agustus 2023).
Badan Pusat Statistik (BPS). "Persentase Penduduk Miskin Maret 2024 Turun Menjadi 9,03 Persen." 1 Juli 2024. (https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2024/07/01/2370/persentase-penduduk-miskin-maret-2024-turun-menjadi-9-03-persen-.html). Diakses pada 12 Desember 2024.
Badan Pangan Nasional (BPN). Panel Harga Pangan. (https://panelharga.badanpangan.go.id/,). Diakses pada 12 Desember 2024.
Global Hunger Index (GHI). _Indonesia_. 2024. (https://www.globalhungerindex.org/indonesia.html). Diakses pada 12 Desember 2024.

Penulis : Wahyuni Nur Aulia
Asal Instansi : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.