Riset Pendidikan: Jalan Terang Publik, atau Jalan Pintas Pasar?
Oleh Nadia
Oleh: Safinatunnajah
Mahasiswa.co.id - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berupaya untuk membangun ekosistem riset. Hal tersebut dikutip dari Pontianak Post, Upaya yang dilakukan merujuk pada faktor utama ekosistem riset tersebut. Prof Stella Christine selaku wakil Menteri Pendidikan Tinggi , Sains, dan Teknologi, menyebutkan ada 2 faktor utama dalam membangun ekosistem riset, yaitu faktor pendanaan dan regulasi.
Berdasarkan hal tersebut, pemerintah memberikan dana tambahan sebanyak 1,8 triliun untuk mendukung penelitian yang disalurkan melalui program Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (BIMA). Faktor yang kedua, pemerintah mengklaim sudah memperbaiki regulasi penelitian, terkhususnya mengenai pengurangan beban administrasi, dan kemudahannya. Langkah-langkah ini dilakukan dengan harapan dan keyakinan membawa Indonesia ke arah yang lebih maju.
Ia juga menuturkan bahwa dana tambahan tersebut merupakan suatu hal yang bermanfaat, bagi dosen akan membantu meningkatkan karier, mendapatkan remunerasi, serta gaji yang lebih banyak. Selain itu, pemerintah juga berharap dengan adanya dana tambahan ini dapat menemukan solusi dari permasalahan yang terjadi, membuka peluang teknologi dan industri Indonesia, mendorong anak muda terjun ke dunia riset, serta memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.
Komitmen dengan tanda tanya Komitmen pemerintah untuk membangun ekosistem riset ini membawa angin segar bagi dunia penelitian. Karena dengan adanya dukungan keuangan, pemerintah mengurangi beban keuangan bagi para ilmuwan. Namun komitmen tersebut cukup dipertanyakan karena satu sisi pemerintah mendukung ekosistem riset untuk menyuburkan ekonomi Indonesia, dan di sisi lain pemerintah justru mengabaikan faktor terpenting dari menumbuhkan ekonomi negara, yaitu pendidikan.
Fasilitas pendidikan yang kurang memadai, akses menuju sekolah yang tidak layak, guru-guru dengan gaji rendah, menjadi faktor mengapa Indonesia tidak bisa maju dalam dunia pendidikan. Bahkan menteri keuangan sendiri menyatakan bahwa gaji guru dan dosen menjadi tantangan bagi kas negara. Pernyataan tersebut menguatkan bahwa pemerintah merasa bukan kewajiban untuk memajukan dunia pendidikan.
Riset dan profit Di sistem Kapitalis hari ini, kebijakan apapun yang dikeluarkan dasarnya bukanlah untuk kepentingan rakyat. Melainkan untuk memperkaya penguasa dan para anteknya. Dalam peristiwa ini, riset yang dihasilkan oleh para ilmuwan bertujuan untuk problem solving pasar, dan hasil-hasilnya dikomersialkan. Hal tersebut bisa berupa produk seperti teknologi, energi terbarukan, obat, teori sebagai standar terbentuknya produk baru (agar meyakinkan pasar mengenai produknya)
Ilmuwan-ilmuwan yang dicetak pun dijadikan sebagai budak korporasi, memperkaya pejabat dan antek-anteknya. Mereka diminta untuk melakukan penelitian, membuat produk-produk baru untuk dikomersilkan. Penelitian yang dilakukan dalam negara kapitalis akan selalu menciptakan kesenjangan-kesenjangan yang lebih curam, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.
Orang-orang pintar yang tidak mau ikut ke permainan politik kotor, yang akan mereka dapatkan adalah ketersingkiran, kemiskinan, dan peluang yang dikubur. Tidak heran, banyak orang pintar yang sulit mengembangkan kepintarannya. Kita dimiskinkan oleh sistem yang memaksa kita untuk bodoh, miskin, memperkaya para elite, dan menjadikan kita sebagai budak peradaban gelap. Pendidikan dijadikan sebagai alat untuk memproduksi manusia-manusia sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga tak heran banyak siswa yang masih belum mampu bersikap layaknya orang terdidik.
Hal–hal tersebut menunjukkan betapa gagalnya ideologi kapitalisme sebagai asas pengaturan negara. Karena yang akan ada adalah kesenjangan sosial yang semakin menjadi–jadi, kemiskinan, dan kebodohan massal yang direncanakan, serta perbudakan untuk memutar roda ekonomi demi memperkaya segelintir elite. Sampai kapanpun, kapitalisme tidak akan berhasil untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Keberhasilan Sistem Islam Berbeda dengan kapitalisme, islam mempunyai solusi menyeluruh atas permasalahan yang terjadi. Permasalahan ekonomi dan pendidikan yang ada diselesaikan hingga tuntas berasaskan al qur’an dan as-sunnah. Pendidikan dalam islam bertujuan untuk membentuk siswa dengan kepribadian islam, dan riset yang dilakukan pun tidak lain adalah untuk kepentingan umat, bukan untuk menjadi problem solving pasar. Pejabat adalah pelayan umat sehingga mereka harus melayani umat sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al qur’an dan as-sunnah.
Pendidikan dalam sistem islam sesuai fitrah manusia, memanusiakan manusia, mengembangkan kemampuan mereka untuk menjadi hamba yang dicintai Allah SWT, bukan pendidikan yang menjadikan siswa sebagai budak korporasi. Sistem pemerintahan Islam menjamin kesejahteraan rakyat, dari mulai aspek pendidikan, keamanan, ekonomi, spiritual, dan aspek–aspek lain. Sistem islam ini pernah berhasil berdiri selama 13 abad lamanya dengan kesejahteraan yang terlampir di berbagai buku sejarah dalam naungan negara khilafah.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0