“Seni tidak dilahirkan kecuali jiwa diletakkan di tangan itu.”—Leonardo da Vinci
Mahasiswa.co.id - Sejak zaman renaisans hingga era kontemporer, seni selalu berkembang bersama zaman. Kini, kecerdasan buatan melahirkan babak baru bagi perkembangan seni. Memang tak dapat dipungkiri, kemajuan kecerdaan buatan (AI) yang amat pesat telah merambah ke hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kini, AI tak hanya digunakan dalam ranah industri teknologi dan manufaktur, tetapi juga telah masuk ke dalam ranah kreatif. Dalam sekejap mata AI mampu menghasilkan karya-karya visual, seni rupa, musik, dan sastra—tentunya dengan kecepatan dan presisi yang mengagumkan. Fenomena ini amat menarik sekaligus memantik pertanyaan mendasar: “apakah karya yang dihasilkan oleh AI dapat dianggap sebagai seni sejati?” muncul pula pertanyaan baru, “masihkah seni itu menjadi milik manusia? Masih adakah nilai estetika sejati yang lahir dari mesin?”
Berkenaan dengan hal tersebut, Imanuel Kant dalam teori estetikanya menyatakan bila keindahan merupakan pengalaman bebas yang melibatkan subjektivitas. Seni sejati melibatkan pengalaman estetis yang spontan dan subjektif. Kant menekankan bahwa keindahan dalam seni tidak hanya terletak pada bentuk eksternal, tetapi juga pada pengalaman internal yang dialami oleh individu. Dalam konteks ini, AI yang tidak memiliki pengalaman atau kesadaran diri menghasilkan karya yang hanya meniru bentuk tanpa mampu menyentuh kedalaman makna dan emosi manusia. Hal ini tentu menimbulkan keresahan bagi para seniman. Seni yang dihasilkan oleh mesin dapat menggeser nilai-nilai estetika yang sejati, yang selama ini lahir dari proses kreatif manusia.
Belakangan, berkembangnya fitur generate picture pada aplikasi generative AI ChatGPT menuai pro-kontra. Bagaikan pedang bermata dua, sebagian netizen menyambut hal ini dengan suka hati. Beramai-ramai menghasilkan gambar dari proses generate foto ke gaya animasi salah satu rumah produksi terkenal di Jepang, yakni Studio Ghibli. Sebagian lagi menganggap hal ini melanggar hak cipta dan bentuk tidak menghargai etika seni. Permasalahan ini semakin kompleks ketika kita menyoroti peran manusia dalam penciptaan karya seni. Sebuah bentuk kecurangan artistik bila AI mampu menciptakan karya secara mandiri. Lantas, di manakah letak posisi seniman itu? Apakah AI akan menggantikan peran manusia, atau justru menjadi alat bantu dalam proses berkesenian?
Fenomena “Ghibli-fication”, yakni tren mengubah foto menjadi visual bergaya khas Studio Ghibli dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), kian populer di ranah digital. Namun, tren ini memicu kecaman tajam dari Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli, yang secara tegas menyatakan penolakannya terhadap keterlibatan AI dalam seni. Dalam sebuah pernyataan, Miyazaki menyampaikan keberatannya dengan mengatakan, “Saya benar-benar muak. Saya merasa bahwa ini merupakan penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.” Menurutnya seni seharusnya tumbuh dari pengalaman manusia, dari hubungan antara tubuh, jiwa, dan dunia. Miyazaki sendiri menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak akan menggunakan AI dalam karyanya, ia juga menegaskan komitmennya terhadap metode tradisional dan nilai-nilai yang mendasari seni animasi. Menurutnya, seni harus mencerminkan kehidupan dan emosi manusia, sesuatu yang tidak dapat direplikasi oleh mesin
Namun, beberapa seniman melihat AI sebagai alat bantu yang dapat memperkaya proses kreatif. Di Indonesia sendiri Denny JA menjadi pelukis pertama yang menggunakan asisten AI dalam menciptakan karyanya. Menurutnya, AI dapat membantu memperluas kemungkinan ekspresi artistik, meskipun kreativitas dan visi tetap berasal dari manusia. Sejak tahun 2022, ia telah mempublikasikan karya-karyanya dalam bentuk buku. Ia juga menggabungkan lima aplikasi AI untuk menciptakan lukisan-lukisan yang merefleksikan peristiwa penting seperti pemilihan presiden 2024, pandemi COVID-19, dan konflik di Palestina. Hal ini mendapat tanggapan dari salah satu kritikus seni dan film, Wina Armada, ia menyebut langkah Denny JA sebagai terobosan awal dalam perkembangan seni rupa Indonesia yang berinovasi pada teknologi.
Dalam pandangan filsuf Jerman—Theodor Adorno, pada bukunya Aesthetic Theory (1970) etestetika bukan hanya bentuk, tetapi juga kritik sosial. AI yang tidak memiliki kesadaran, dipandang tidak bisa menghadirkan dimensi ini. Kecuali, jika ia diprogram dan digunakan sesuai dengan konteks sosial serta narasi yang dikonstruksi secara reflektif. Meski begitu, beberapa pemikir seperti Lev Manovich berpendapat bahwa estetika digital adalah bentuk estetika baru yang tak kalah valid. Dalam pandangannya, estetika berbasis data dan algoritma mencerminkan zaman kita—zaman kecepatan, interaktivitas, dan kompleksitas.
Sejatinya, AI memang menawarkan efisiensi dan kemungkinan tak terbatas dalam penciptaan seni. Namun, status hukum dan kepemilikan karya yang diciptakan oleh AI masih kabur. Sebetulnya milik pembuat program, pengguna, atau AI itu sendiri? Selain itu, hilangnya nilai humanistik, menyebabkan pergeseran nilai. Seni dikonsumsi sebagai produk, bukan sebagai proses pemaknaan. Dengan kata lain, estetika menjadi dangkal—berhenti pada apa yang enak dilihat, bukan apa yang menyentuh atau menggugah.
Masuknya AI dalam proses berkesenian menciptakan jarak antara karya dan penciptanya. AI tidak memiliki trauma, ingatan, atau harapan. Ia tak pernah mencinta atau kehilangan. Maka ketika karya dihasilkan oleh sistem yang tidak memiliki kesadaran, banyak seniman dan filsuf seni memandang bahwa karya itu kehilangan roh—yakni lapisan pengalaman eksistensial yang melahirkan makna mendalam. Inilah yang kemudian dianggap sebagai kematian estetika.
Kehadiran AI dalam seni menandai era baru yang menantang batas-batas tradisional penciptaan artistik. AI dapat menjadi alat bantu luar biasa yang memperluas cakrawala ekspresi manusia, namun juga dapat menciptakan jarak antara karya dan jiwa penciptanya. Ketika seni diciptakan tanpa pengalaman hidup dan emosi, muncullah kekhawatiran akan kematian estetika—keindahan tanpa jiwa. Sikap kritis dan etis tentu amat diperlukan dalam merespons fenomena ini. Perlu ada regulasi serta kesadaran akan batasan dan tanggung jawab dalam menggunakan AI untuk berkarya. Kolaborasi yang sehat antara manusia dan AI dapat membuka jalan baru bagi seni masa depan, selama nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi pusat dari setiap proses kreatif.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0